Selasa, 26 Januari 2016

Sifat Ibadurrahman Bagian Kedua || Ayat 68-71 Surah al-Furqan




Tadabbur Ayat Pilihan #5 

Allah azza wajalla berfirman:

وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (٦٨) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (٦٩) إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (٧٠) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (٧١)
“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat pembalasan dosanya. Yakni akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan: 68-71)

Faidah:

1.      Allah azza wajalla pada ayat pertama menggunakan kata “Walladziina Laa Yad’uuna Ma’allahi Ilaahan Akhar” yang makna secara harfiah adalah dan orang-orang yang tidak berdoa kepada selain Allah. Doa merupakan bagian dari bentuk penyembahan kepada Allah, sehingga seorang mukmin diharamkan berdoa atau meminta hajat kepada selain Allah. Tidak kepada para Nabi, tidak pada Malaikat dan tidak pula pada orang-orang shaleh. Terlebih lagi jika meminta kepada orang-orang yang telah meninggal dunia, ini juga merupakan bentuk kesyirikan. Sebab mereka adalah makhluk-makhluk yang sudah tidak berdaya dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Bahkan hakikatnya, orang-orang yang ada dalam kubur itulah yang butuh dengan doa-doa kita.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

ومن أنواعه : طلب الحوائج من الموتى والاستغانة بهم والتوجه إليهم وهذا أصل شرك العالم فإن الميت قد انقطع عمله وهو لا يملك لنفسه ضرا ولا نفعا فضلا عمن استغاث به وسأله قضاء حاجته أو سأله أن يشفع له إلى الله فيها وهذا من جهله بالشافع والمشفوع له عنده
“Dan diantara jenis-jenis kesyirikan adalah meminta hajar-hajat pada orang-orang yang telah meninggal dunia, meminta untuk dikayakan oleh mereka, dan selalu tawajjuh (berharap pada mereka-pent). Ini merupakan dasar dari kesyirikan. Karena sesungguhnya seorang yang telah meninggal dunia telah terhenti amalannya, dan dia tidak kuasa lagi terhadap dirinya sendiri untuk mendatangkan mudharat, ataupun memberikan manfaat. Lebih parah lagi terhadap mereka yang beristighatsah pada mayyit itu, meminta hajat-hajat mereka padanya atau meminta untuk diberikan syafa’at kepada Allah. Ini merupakan bentuk kejahilan dirinya terhadap siapa yang memberikan syafaat dan yang diberikan syafat.” (Madariju as-Salikin: 1/346)

Allah azza wajalla berfirman:

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (١٠٦)

“Dan janganlah kamu berdoa pada sesuatu tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat yang demikian, itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu Termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus: 106)

2.     Termasuk dalam hal yang diharamkan adalah berlebihan dalam menyanjung dan memuji Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalallam sehingga menjadikan beliau sebagai seseorang yang memiliki sifat-sifat Rabb. Misalnya, menjadikannya tempat memohon ampunan, meminta rezki, menghilangkan musibah, rasa sakit, memenuhi hajat-hajat, mengabulkan segala keinginan dan hal-hal lain yang merupakan sifat ketuhanan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah setelah menyebutkan sifat-sifat khwarij dan syiah yang mengaku sebagai muslim, beliau berkata:

فَإِذَا كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ قَدْ انْتَسَبَ إلَى الْإِسْلَامِ مَنْ مَرَقَ مِنْهُ مَعَ عِبَادَتِهِ الْعَظِيمَةِ ؛ حَتَّى أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِتَالِهِمْ فَيُعْلَمُ أَنَّ الْمُنْتَسِبَ إلَى الْإِسْلَامِ أَوْ السُّنَّةِ فِي هَذِهِ الْأَزْمَانِ قَدْ يَمْرُقُ أَيْضًا مِنْ الْإِسْلَامِ وَالسُّنَّةِ حَتَّى يَدَّعِيَ السُّنَّةَ مَنْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِهَا بَلْ قَدْ مَرَقَ مِنْهَا وَذَلِكَ " بِأَسْبَابِ " : - مِنْهَا الْغُلُوُّ الَّذِي ذَمَّهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ

“Jika saja di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan zaman Khulafa ar-Rasyidin ada orang-orang yang mengaku dirinya adalah seorang muslim namun ternyata ia telah keluar dari islam walau dengan amalan-amalannya yany besar, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk memerangi mereka. Maka dapat diketahui bahwa orang-orang yang menisbatkan dirinya pada islam atau sunnah pada zaman-zaman ini ada juga yang telah keluar dari islam dan sunnah, walau dia mengaku sebagai pengikut sunnah padahal dia bukan dari pengikut sunnah itu bahkan telah keluar darinya dan dari agama islam. Hal itu karena beberapa sebab, salah satunya adalah perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan) yang dicela Allah di dalam kitab-Nya.” (Majmu’ al-Fatawa: 3/382)

Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya memperhatikan shalawat-shalwat yang ia baca, sebab banyak shalawat-shalwat yang berlebih-lebihan yang memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yang dibuat-buat oleh manusia, yang sama sekali tidak paham dengan ajaran Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu memurnikan penyembahan hanya kepada Allah azza wajalla. Mencukupkan diri dengan shalawat-shalawat yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat adalah jalan yang lebih selamat.

Allah azza wajalla berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (١١٠)

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata:

يقول تعالى ذكره: قل لهؤلاء المشركين يا محمد: إنما أنا بشر مثلكم من بني آدم لا علم لي إلا ما علمني الله وإن الله يوحي إليّ أن معبودكم الذي يجب عليكم أن تعبدوه ولا تشركوا به شيئا، معبود واحد لا ثاني له، ولا شريك

“Allah ta’ala mengingatkannya: “Katakanlah kepada orang-orang musyrik wahai Muhammad, “Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian dari kalangan anak cucu Adam. Aku tidak mengetahui sesuatu kecuali apa yang Allah ajarkan kepadaku. Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku, bahwasanya sesembahan yang wajib untuk kalian sembah dan tidak mempersekutukannya dengan sesuatu apapun adalah Tuhan yang satu, tidak ada yang kedua baginya, dan tidak memiliki syarik (persekatuan).” (Tafsir ath-Thabari: 18/135)

Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dapat mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali atas wahyu yang diberikan kepadanya, maka tidak benar jika ada orang yang mengatakan bahwa barangsiapa bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan shalawat-shalawat tertentu dan dengan jumlah-jumlah tertentu, niscaya dia akan mendapatkan barangnya yang hilang dan akan terpenuhi hajatnya. Ini adalah hal ghaib yang butuh wahyu, dan perbuatan seperti ini pula butuh dalil yang menyariatkannya. Sehingga jika ada yang berkata seperti itu, maka dia adalah seorang pendusta dan perusak akidah islam.

Allah azza wajalla berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al-An’am: 59)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasalamm bersabda:

لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُه

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang nashrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya. maka katakanlah aku hamba dan utusan-Nya.” (HR. Bukhari)

3.       Mengenai perkataan al-Imam as-Subki rahimahullah:

إن المبالغة في تعظيم الرسول صلى الله عليه وسلم واجبة

“Sesungguhnya berlebih-lebihan dalam mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kewajiban.”

Maka hal ini telah ditanggapi oleh banyak ulama diantaranya,  al-Hafizh Muhammad Ibnu al-Hadi rahimahullah dan al-allamah Syukri al-Alusi al-hanafi rahimahullah, diamana mereka berkata:

إن المبالغة في تعظيم الرسول- صلى الله عليه وسلم - يحسب ما يراه كل أحد تعظيما: حتى الحج إلى قبره صلى الله عليه وسلم ، والسجود له، والطواف به ، واعتقاد أنه يعلم الغيب، وأنه يعطي، ويملك لمن استغاث به من دون الله الضر والنفع ، وأنه يقضي حوائج السائلين ويفرج المكروبين، وأنه يشفع فيما يشاء* ويدخل الجنة من يشاء* فدعوى المبالغة في هذا التعظيم- مبالغة في الشرك

“Sesungguhnya perbuatan berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tergantung apa yang dianggap oleh setiap orang sebagai pengagungan. Sampai berhaji dikuburannya, sujud kepadanya, tawaf di kuburannya, berkeyakinan bahwa beliau mengetahui perkara-perakra ghaib, dia yang memberi apa yang kita minta, dia mampu memberi jawaban terhadap orang-orang yang beristighatsah padanya, selain pada Allah dengan memberikan manfaat ataupun mudharat, dia mampu memenuhi segala hajat-hajat yang meminta, menghilangkan kesusahan-kesusahan orang-orang mendapat musibah, memberi syafaat sekehendaknya dan memasukkan manusia kedalam surga sekehendaknya. Maka pengakuan berlebih-lebihan dalam pengagungan terhadap Nabi pada perkara ini adalah berlebih-lebihan yang merupakan bentuk kesyirikan.” (Juhudu Ulama al-Hanafiyyah Fi Ibthaali Aqaaidi al-Quburiyyah: 2/623 dinukil pula oleh asy-Syaikh Abdurrahman Ibnu Hassan Alu Syaikh dalam Fathul Majib Syarh Kitab Tauhid: 145)

4.   Diantara perkara yang masuk dalam kategori berdoa kepada selain Allah adalah memohon perlindungan kepada jin. Perbuatan ini juga merupakan perbuatan yang diharamkan dalam islam dan masuk dalam kategori mempersekutukan Allah azza wajalla.

Al-Imam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab Ibnu Sulaiman at-Tamimi al-Hambali rahimahullah dalam kitab at-Tauhid membuat satu bab yang berjudul

باب من الشرك الاستعاذة بغير الله

“Bab merupakan bagian dari kesyirikan jika seseorang memohon perlindungan kepada selain Allah.” (Fathul Majid Syarah Kitab at-Tauhid: 139)

Al-Mullau Ali al-Qari al-Hanafi rahimahullah berkata:

لا يجوز الاستعاذة بالجن

“Tidak boleh memohon perlindungan kepada jin.” (Fathul Majid: 140)

Alasan pelarangannya adalah sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Ibnu Muhammad al-Ghunaiman rahimahullah:

لأن الاستعاذة عبادة كما سمعنا، والعبادة لا تجوز أن تكون لغير الله جل وعلا، فإذا ثبت أنها عبادة فيجب أن تكون خاصة بالله وحده، ويكون صرفها لغير الله كصرف سائر العبادات شركاً بالله
“Karena memohon perlidungan merupakan ibadah sebagaimana yang kami dengar, dan ibadah tidak boleh dilakukan untuk selain Allah jalla wa ‘ala. Maka jika telah tsabit bahawa amalan itu adalah ibadah, maka amalan itu harus dilakukan khusus untuk Allah saja. Dan jika niatnya berubah untuk selain Allah, hal itu seperti perbuahan niat ibadah-ibadah lain yang lain, jika dilakukan tidak untuk Allah dan merupakan bentuk kesyirikan kepada Allah azza wajalla.” (Syarah Kitab Tauhid: 45/7 Syamilah)

5.   Firman Allah, “Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar” kaitanyya dengan sifat Ibadurrahman adalah seorang mu’min sejati adalah seorang yang memiliki rasa kasih sayang yang sangat besar terhadap seluruh makhluk-makhluk Allah. Termasuk sifat rahmat mereka pada orang-orang kafir.

Hal ini ditunjukkan dengan penyandaran salah satu nama Allah yaitu ar-Rahman pada hamba-hamba-Nya diawal penyebutan sifat mereka, yang menjadi judul tulisan ini. ar-Rahman bermakna kasih sayang Allah sangat luas kepada seluruh makhluk-Nya. Allah tidak menggunakan nama-Nya yang lain yaitu ar-Rahim. Padahal kedua nama ini berasal dari satu akar kata yang sama yaitu رحم – يرحم – رحمة  yang bermakna rahmat atau kasih sayang. Perbedaannya, nama Allah ar-Rahman menunjukkan kasih sayang-Nya yang sangat luas kepada seluruh makhluk-Nya, kafir ataupun muslim binatang maupun tumbuhan. Sedangkan nama Ar-Rahim adalah kasih sayang yang khusus untuk kaum muslimin saja.

Asy-Syaikh al-Allamah Shalih Ibnu Fauzan Ibnu Abdillah al-Fauzan hafizhahullah berkata:

فـ الرَّحْمَنِ: رحمة عامة لجميع المخلوقات، حتى الكفار والبهائم والدواب إنما تعيش برحمة الله، وسخّر الله بعضها لبعض من رحمته سبحانه وتعالى، فهي رحمة عامة لجميع الخلق، بها يتراحمون، حتى إن البهيمة ترفع رجلها عن ولدها رحمة به.
وأما الرَّحِيمِ فإنه رحمة خاصة بالمؤمنين }وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيماً{

“Nama ar-Rahman menunjukkan keumuman sifat rahmat/kasih sayang Allah kepada seluruh makhluk-makhluk-Nya, hingga kepada orang-orang kafir, binatang ternak dan hewan-hewan melata lainnya. Semuanya hidup karena rahmat dari Allah. Dan Allah menundukkan sebagian makhluk-makhluk itu pada sebagian yang lain juga karena rahmat Allah subhanahu wata’ala. Ini merupakan keumuman rahmat-Nya kepada seluruh makhluk. Dengan jenis rahmat ini makhluk-makhluk itu dapat berkasih sayang. Hingga seekor binatang ketika ia mengangkat kakinya karena ada anaknya, juga merupakan rahmat kepadanya. Adapun nama Allah ar-Rahim menunjukkan rahmat Allah yang khusus bagi kaum mu’minin, sebagaimana firman Allah, “Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman [QS. Al-Ahzab: 43].” (I’anatu al-Mustafid Bi Syarhi Kitabi at-Tauhid: 1/18)

Penyandaran nama Allah ini, yaitu ar-Rahman kaitannya dengan sifat Ibadurrahman adalah mereka memiliki rasa belas kasih kepada seluruh makhluk bahkan kepada orang-orang kafir. Dalam hal ini, seorang mu’min diharamkan membunuh orang kafir hanya karena perbedaan keyakinan, atau menyakiti mereka, sebagai wujud toleransi kepada mereka dalam beragama. Yang mana hal tersebut merupakan bagian dari kerahmatan kaum muslimin terhadap mereka.

Misalnya dalam kasus jihad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan melarang kaum muslimin membunuh orang tua-orang tua yang sudah tidak mampu berjihad diantara mereka, tidak boleh membunuh wanita dan anak-anak, serta tidak boleh membunuh rahib-rahib mereka. Jika dalam kondisi jihad islam melarang semua hal itu, maka lebih utama lagi pada kondisi selain jihad. Tidak heran ketika kaum muslimin menguasai Andalus selama 8 abad, kaum musyrikin tetap hidup tenang, aman dan tentram dalam wilayah kaum muslimin.

6.  Firman Allah, “Kecuali dengan Alasan yang benar” ini memberikan pengecualian pada pengharaman sebelumnya. Maksudnya, membunuh seorang kafir dibolehkan jika alasan pembunuhan orang kafir itu dibenarkan oleh syariat. Misalnya karena berada di medan perang atau karena berada dalam suatu Negara memberlakukan syariat islam, kemudian orang kafir tersebut membunuh seorang muslim, maka dalam hal ini diberlakukan hukum qishahas. Adapun dalam negara yang tidak memberlakukan hukum islam, seperti Indonesia, maka tidak boleh menghukumi sendiri, lalu membunuh pembunuh tersebut dan mengatakan bahwa hal ini adalah wujud dari pelaksanaan syariat qishashas.

Inilah sifat mu’min yang benar. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya segala jenis teror yang mengatas namakan islam pada orang-orang kafir pada wilayah yang bukan merupakan area perang adalah bentuk kezhaliman dan bukan merupakan ajaran islam. Sebagai contoh di Indonesia ini, Negara ini bukanlah Negara yang terdapat konflik peperangan di dalamnya, sehingga tidak dibenarkan membunuh seorangpun lalu menganggap bahwa hal itu merupakan jihad.

Maka hendaknya setiap muslim tidak mudah memvonis saudaranya yang lain, seperti orang-orang yang memelihara janggutnya dan bercelana cingkrang bagi laki-laki, serta memakai cadar bagi seorang wanita, dikatakan sebagai teroris atau orang-orang yang beraliran islam garis keras. Sebab justru kebanyakan mereka adalah para ibadurrahman yang hidup dalam ajaran kasih sayang dan kedamaian, yang merupakan ajaran islam yang sesungguhnya. Jika ada diantara mereka yang tetap melakukan hal itu, maka perbuatan itu tidak mewakili ajaran islam, melainkan mewakili pemahaman sesat mereka.

Namun, toleransi yang dianjurkan oleh islam terhadap orang-orang kafir, tidak menghilangkan sikap ketegasan kaum muslimin terhadap mereka. Misalnya, agama kita melarang kaum muslimin untuk ikut-ikut merayakan hari raya mereka, juga tetap terus mendakwahi mereka hingga mereka kembali kepada agama Allah. Namun harus tetap  dilakukan dengan kelemah lembutan.

Imam as-Sa’di rahimahullah berkata:

ولا تمنع الغلظة عليهم والشدة دعوتهم إلى الدين الإسلامي بالتي هي أحسن. فتجتمع الغلظة عليهم، واللين في دعوتهم، وكلا الأمرين من مصلحتهم ونفعه عائد إليهم

“Sikap kasar dan keras terhadap orang-orang kafir tidak menghalangi kaum muslimin untuk mendakwahi kaum musyrikin kepada agama islam dengan cara yang baik. Sehingga terkumpul sikap keras terhadap mereka dan lemah lembut terhadap mereka.” (Tafsir as-Sa’di: 260)

7.     Siapa yang melanggar aturan-aturan Allah berupa melakukan kesyirikan, membunuh jiwa dan melakukan perzinahan adalah dosa-dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya kedalam lembah api neraka.

8.    Firman Allah azza wajalla, “Yakni akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina” menunjukkan bahwa neraka dipersiapkan untuk menghinakan para pelaku-palaku dosa dan bukan untuk orang-orang yang melakukan amalan shaleh.

Oleh karena itu, tidak boleh mengikuti keyakinan orang-orang yang memiliki  akidah rusak, mereka berdoa kepada Allah dengan ucapan, “Yaa Allah tidak mengapa engkau masukkan aku ke dalam neraka-Mu jika itu adalah sebagai keridhaanmu dan kasih sayang-Mu padaku, dan jangan engkau masukkan aku dalam surga-Mu jika masuk di dalamnya aku tidak mendapat rahmat-Mu.”

Ucapan seperti ini adalah ucapan yang tidak benar, dan menyelisihi ayat-ayat suci al-qur’an.

9.    Dosa besar yang dilakukan seorang muslim tidak mengelurkan dirinya dari agama islam, kecuali syirik.

10.   Luasnya kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Walau Dia mengetahui mereka sering berdosa pada-Nya, namun Dia tetap terus membukakan pintu taubat bagi mereka jika mereka meminta ampunan. Bahkan ketika mereka telah bertaubat dengan taubatan nasuha, Allah tidak akan memperhatikan dosa-dosa mereka lagi dan akan menggantikannya dengan kebaikan-kebaikan.


11. Taubat yang diterima Allah adalah taubat yang benar, yaitu dengan bertaubat kepada Allah kemudian diikuti dengan melakukan amalan-amalan yang shalih, bukan bertaubat namun terus melakukan maksiat kepada Allah azza wajalla.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar