Sabtu, 16 Januari 2016

Sifat-Sifat Ibadurrahman || Tadabbur Ayat Pilihan #4



Allah azza wajalla berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا (٦٣) وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا (٦٤) وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (٦٥) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (٦٦) وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا (٦٧) وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (٦٨)
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al-Furqan: 63-68)

Faidah:

1.       Allah azza wajalla menyebut hamba-hamba-Nya dalam ayat ini dengan nama “Ibadaurrahman” sebagai bentuk pemuliaan kepada mereka. Oleh karena itu Allah menyandarkan mereka dengan nama-Nya ar-Rahman sebagai bentuk idhafatu asy-syarf. Maksudnya orang-orang yang memiliki sifat seperti yang Allah sebutkan dalam ayat-ayat ini, akan memiliki sifat rahmat (kasih sayang) kepada makhluk-makhluk Allah lainnya, yang merupakan bentuk karunia dari Rabb Yang Maha Penyayang.

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata:

أفاضل العباد. وقيل: هذه الإضافة للتخصيص والتفضيل، وإلا فالخلق كلهم عباد الله

“Maksudnya adalah hamba-hamba yang paling mulia. Ada yang mengatakan, bentuk penyandaran ini (penyandaran hamba dengan salah satu nama Allah yaitu Dzat Yang Maha Penyayang) adalah bentuk pengkhususan dan pengutamaan mereka, sebab jika tidak seperti itu, semua makhluk adalah hamba Allah.” (Tafsir al-Baghawi: 6/93)

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

أن الله سبحانه مدح عباده الذين ذكرهم في هذه الآيات بأحسن أوصافهم وأعمالهم فقال وعباد الرحمن الذين يمشون على الأرض هونا وإذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلاما

“Sesungguhnya Allah memuji hamba-hamba-Nya yang Dia sebutkan dalam ayat-ayat ini dengan sebaik-baik sifat dan amalan mereka. Allah berfirman: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (Bada’I al-Fawaid:2/386)

Tentang ayat ini, dalam tafsirnya Imam as-Sa’di rahimahullah berkata:

“Penghambaan makhluk kepada Allah ada dua. Pertama penghambaan diri terhadap kerubiyahan-Nya. penghambaan jenis ini dilakukan oleh seluruh makhluk, muslim, kafir, orang-orang yang baik dan orang-orang yang fajir. Semuanya adalah hamba-hamba Allah yang diatur oleh Allah. Penghambaan yang kedua adalah penghambaan diri terhadap keuluhiyaan-Nya, peribadatan kepada-Nya, dan rahmat-Nya. Dan jenis penghambaan ini dilakukan oleh para Nabi dan wali-wali Allah (orang-orang shaleh). Dan jenis penghambaan inilah yang dimaksudkan dalam ayat ini.”

ولهذا أضافها إلى اسمه الرحمن إشارة إلى أنهم إنما وصلوا إلى هذه الحال بسبب رحمته فذكر أن صفاتهم أكمل الصفات ونعوتهم أفضل النعوت

“Oleh karena itu, Allah menyandarkannya dengan nama-Nya ar-Rahman sebagai isyarat bahwa sesungguhnya tidaklah mereka sampai pada keadaan ini kecuali karena rahmat-Nya. Sehingga Allah menyebut mereka dengan sifat yang paling baik dan paling afdhal.” (Tafsir as-Sa’di: 686)

2.     Sifat ibadurrahman yang pertama adalah mereka berjalan dimuka bumi dengan rendah hati dan sakinah (tenang) .

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

هذه صفات عباد الله المؤمنين { الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا } أي: بسكينة ووقار من غير جَبَرية ولا استكبار، كما قال: { وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولا } [ الإسراء : 37]. فأما هؤلاء فإنهم يمشون من غير استكبار ولا مرح، ولا أشر ولا بطر، وليس المراد أنهم يمشون كالمرضى من التصانع تصنعًا ورياء، فقد كان سيد ولد آدم صلى الله عليه وسلم إذا مشى كأنما ينحط من صَبَب، وكأنما الأرض تطوى له. وقد كره بعض السلف المشي بتضعف وتصنع، حتى روي عن عمر أنه رأى شابًا يمشي رُويدًا، فقال: ما بالك؟ أأنت مريض؟ قال: لا يا أمير المؤمنين. فعلاه بالدرة، وأمره أن يمشي بقوة

“Ini merupakan sifat-sifat hamba-hamba Allah yang beriman “Yang berjalan di muka bumi dengan kerendahan hati”. Maksudnya adalah dengan tenang dan berwibawa, tanpa ada rasa kesombongan. Sebagaimana firman Allah azza wajallaDan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” Maka sesungguhnya mereka berjalan di muka bumi ini tanpa ada rasa sombong.

Akan tetapi hal ini bukan berarti mereka berjalan seperti orang sakit karena dibuat-buat dengan maksud riya (dilihat orang). Sungguh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam jika beliau berjalan seolah-olah beliau menghentakkan kakinya karena terjalnya jalan dan seolah-olah bumi terlipat karenanya. Dahulu para salaf membenci cara jalan yang sengaja dibuat-buat lemah, hingga diriwayatkan dari Umar bahwasanya dia melihat seorang pemuda yang berjalan pelan, maka dia berkata: “Apa yang terjadi padamu? Apakah engkau sakit?” Pemuda itu berkata: “Tidak wahai Amirul Mukminin.” Maka Umar memukulnya dengan dirrah (sejenis cambuk) dan memerintahkannya untuk berjalan layaknya seorang yang kuat.”  (Tafsir Ibnu Katsir: 3/292)

Imam as-Sa’di rahimahullah berkata:

يمشون على الأرض هونا أي ساكنين متواضعين لله وللخلق

“Mereka berjalan di muka bumi dengan kerendahan hati maksudnya dengan tenang dan dengan sifat tawadhdhu’ kepada Allah dan juga kepada makhluk.” (Tafsir as-Sa’di: 686)

Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya menukil perkataan Zaid Ibnu Aslam rahimahullah bahwasanya dia berkata:

كنت أسأل عن تفسير قوله تعالى:" الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً" فما وجدت من ذلك شفاء، فرأيت في المنام من جاءني فقال لي: هم الذين لا يريدون أن يفسدوا في الأرض
“Dahulu aku pernah bertanya tentang tafsir firman Allah: “Yaitu orang-orang yang berjalan dimuka bumi dengan kerendahan hati.” Aku tidak mendapatkan jawaban yang mengobati hatiku dari hausnya diriku akan jawaban pertanyaan itu. Maka  aku melihat dalam tidurku seseorang mendatangiku dan berkata kepadaku, “Mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan kerusakan di muka bumi.” (Tafsir al-Qurthubi: 13/68).

3.    Sifat ibadurrahman berikutnya adalah bersikap sopan dan membalas dengan perkataan yang baik serta mengandung keselamatan pada orang-orang yang berkata buruk terhadap mereka.

Imam Syaukani rahimahullah berkata:

  ذكر سبحانه أنهم يتحملون ما يرد عليهم من أذى أهل الجهل والسفه فلا يجهلون مع من يجهل ولايسافهون أهل السفه

“Allah subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa mereka bersabar dalam membalas gangguan orang-orang yang jahil dan bodoh, mereka tidak ikut-ikutan jahil bersama orang-orang yang jahil dan mereka tidak bersikap bodoh pada orang-orang yang bodoh.” (Fathul Qadir: 1048)

Imam as-Sa’di rahimahullah berkata:

خاطبوهم خطابا يسلمون فيه من الإثم ويسلمون من مقابلة الجاهل بجهله. وهذا مدح لهم، بالحلم الكثير ومقابلة المسيء بالإحسان والعفو عن الجاهل ورزانة العقل الذي أوصلهم إلى هذه الحال

“Mereka membalas ucapan yang berbuat buruk terhadap mereka dengan perkataan yang tidak mengandung dosa dan selamat dari sifat membalas kejahilan dengan kejahilan. Ini merupakan bentuk pujian terhadap mereka, berupa banyaknya sifat kelemah lembutan yang mereka miliki, membalas keburukan dengan kebaikan, memaafkan orang-orang yang jahil dan ketenangan akal, yang menyampaikan mereka pada keadaan/kedudukan ini.” (Tafsir as-Sa’di: 686)

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

حلماء لا يجهلون، وإن جهل عليهم حلموا

“Orang-orang yang memiliki sifat kelembutan itu tidak jahil, jika ada orang-orang yang bersifat jahil terhadap mereka, mereka akan membalasnya dengan kelemah lembutan.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/292)

4.    Diantara sifat ibadurrahman adalah mereka menghidupkan malam-malam mereka dengan sujud kepada Allah azza wajalla

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabada:

نعم الرجل عبد الله لو كان يصلى من الليل

“Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah jika seandainya dia bangun untuk shalat di malam hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

عليكم بقيام الليل فإنه دأب الصالحين قبلكم، وقربة إلى الله تعالى، ومكفرة للسيئات، ومنهاة عن الإثم،ومطردة للداء عن الجسد
“Hendaklah kalian melakukan qiyamul lail, karena sesungguhnya dia merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah ta’ala, penghapus dosa-dosa, pencegah melakukan dosa dan pengusir sakit yang akan menyerang tubuh.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

 Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

أتاني جبريل فقال : يا محمد ، عش ما شئت فإنك ميت ، وأحبب من شئت فإنك مفارقه ، واعمل ما شئت فإنك مجزي به ، واعلم أن شرف المؤمن قيامه بالليل ، وعزه استغناؤه عن الناس

“Malaikat Jibril telah mendatangiku dan berkata: Wahai Muhammad hiduplah engkau sekehendak hatimu, karena seungguhnya engkau pasti merasakan kematian. Cintailah siapa saja yang engkau cintai, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Beramallah sekehendak hatimu, sesungguhnya engkau akan mendapatkan balasannya. Ketahuilah, sesungguhnya kemuliaan seseorang itu ada ketika dia melakukan qiyamul lail, dan dia memiliki harga diri ketika dia mencukupkan dirinya dari manusia.” (HR. Hakim dalam al-Mustadrak, dan Imam Adz-Dzahabi berkata hadits ini shahih)

5.    Firman Allah azza wajallaWalladziina yabiituuna lirabbihim” (dan orang-orang yang melalui malam harinya untuk Tuhannya), ayat ini menyebut kata baitutah (bermalam) sehingga boleh melakukan shalat lail tanpa harus tidur sebelumnya.

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata:

البيتوتة: أن تدرك الليل نمت أو لم تنم. قال الزجاج من أدركه الليل فقد بات نام أو لم ينم
“Kata al-Baitutah artinya siapa saja yang berjumpa dengan waktu malam, baik sudah tertidur atau belum tidur. Az-Zujaj berkata: Siapa saja yang berjumpa dengan malam maka dia telah baat (bermalam) baik sudah tidur atau belum tidur.” (Fathul Qadir: 1048)

6.   Diantara sifat ibadurrahman adalah mereka selalu merasa takut akan adzab Allah, sehingga mereka selalu berdoa agar dihindarkan darinya. Dengan bertambahnya ketaatan dan ketakwaan seseorang, maka rasa takut akan siksa neraka semakin besar, sehingga dirinya akan senantiasa memperbanyak doa kepada Allah agar selamat dari siksa-Nya.

Imam Syaukani rahimahullah berkata:

وهم مع طاعتهم مشفقون وجلون خائفون من عذابه

“Mereka bersamaan dengan ketaatan mereka, senantiasa merasa amat sangat ketakutan dari adzab-Nya.” (Fathul Qadir: 1048)

7.   Orang-orang yang beriman akan senantiasa yakin akan kehidupan setelah kematian ini, sehingga mereka akan mempersiapkan diri mereka untuk menjemput hari itu. Keyakinan mereka akan adanya hari itu Allah gambarkan dalam firman-Nya bahwa mereka berkata:

إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (٦٥) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (٦٦)

Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Fuqran: 65-66)

8.  Diantara sifat ibadurrahman adalah gemar bersedekah dan selalu membayar zakat. Dalam melakukan infak dan pmbayaran zakat itu, mereka tidak berlebih-lebihan namun juga tidak kikir dalam mengeluakan uangnya, mereka diantara dua sifat itu.

Imam as-Sa’di rahimahullah berkata:

{ لَمْ يُسْرِفُوا } بأن يزيدوا على الحد فيدخلوا في قسم التبذير وإهمال الحقوق الواجبة، { وَلَمْ يَقْتُرُوا } فيدخلوا في باب البخل والشح { وَكَانَ } إنفاقهم { بَيْنَ ذَلِكَ } بين الإسراف والتقتير
“Tidak berlebih-lebihan maksudnya mereka tidak menambah dalam takaran pembayaran zakat karena hal ini masuk dalam perkara mubazzir dan merupakan bentuk penelantaran terhadap hak-hak yang hukumnya wajib. Dan mereka juga tidak kikir, hal ini masuk dalam kategori bakhil. Keadaan mereka dalam berinfak antara dua hal itu, antara berlebih-lebihan dan tidak kikir. (Tafsir as-Sa’di: 686)

An-Nuhhas rahimahullah berkata:

ومن أحسن ما قيل في معنى الآية أن من أنفق في غير طاعة الله فهو أسرف ومن أمسك عن طاعة الله فهو الإقطار ومن أنفق في طاعة الله فهو قوام

“Diantara perkataan paling baik pada mengenai makna ayat ini adalah siapa saja yang menginfakkan hartanya bukan untuk ketaatan kepada Allah, maka dia telah berbuat israf (berlebih-lebihan), siapa saja yang menahan hartanya dari berinfak untuk ketaatan kepada Allah, maka dia telah kikir. Dan siapa saja yang berinfak di jalan Allah maka dia telah qawam (antara sifat kikir dan berlebih-lebihan). (Fathul Qadir: 1048)
    
9.     Sifat ibadurrahman berikutnya adalah tidak melakukan kesyirikan (menyekutukan Allah), tidak membunuh manusia dan tidak berzina.

10. Ayat ini adalah dalil pengharaman secara mutlak membunuh nyawa manusia dengan melakukan aksi teror atau dengan berbagai aksi kekerasan lainnya.




0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar