Senin, 11 Januari 2016

Tidak Pernah Beramal Shaleh Tapi Allah Masukkan Ke Surga || Faidah Hadits #4


Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dalam satu hadits yang sangat panjang, dari Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bahwasanya beliau bersabda, Allah azza wajalla berfirman:

فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَفَعَتِ الْمَلاَئِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَلَمْ يَبْقَ إِلاَّ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ فَيُخْرِجُ مِنْهَا قَوْمًا لَمْ يَعْمَلُوا خَيْرًا قَطُّ قَدْ عَادُوا حُمَمًا فَيُلْقِيهِمْ فِى نَهْرٍ فِى أَفْوَاهِ الْجَنَّةِ يُقَالُ لَهُ نَهْرُ الْحَيَاةِ فَيَخْرُجُونَ كَمَا تَخْرُجُ الْحِبَّةُ فِى حَمِيلِ السَّيْلِ

“Para Malaikat telah melakukan syafa’atnya, para Nabi juga telah melakukan syafa’atnya, kaum mukminin juga telah melakukan syafa’atnya, tidak ada yang tersisa kecuali Rabb Yang Paling Pengasih dan Penyayang. Maka Allah menggenggam dengan satu genggaman sekelompok orang dalam neraka lalu mengeluarkan mereka darinya. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah melakukan amalan kebaikan sedikitpun. Dan mereka pun sudah berbentuk seperti arang yang hitam. Lalu Allah melemparkan mereka ke sungai di dalam surga, hingga mereka keluar seperti tumbuhnya biji dari aliran sungai.” (HR. Muslim)

Faidah:

1.   Menetapkan bahwa para Malaikat, para Nabi dan kaum muslimin akan memberikan syafa’at pada hari kiamat untuk orang-orang yang beriman.

2.  Keutamaan berteman dengan orang-orang yang shaleh, karena mereka tidak akan saking memberikan syafa’at. Berbeda dengan orang-orang zhalim, mereka akan saling memberikan laknat.

3.   Keutamaan para ahli tauhid yaitu orang-orang yang mengesakan Allah azza wajalla dalam segala peribadatan tanpa menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Sebab walau mereka berbuat kesalahan, Allah tidak akan mengekalkan mereka di dalam neraka sebagai hukuman dari dosa-dosanya disebabkan keimanannya.

4.      Kata arham (yang paling penyayang) merupakan isim tafdhil yang menunjukkan bahwa Dialah yang Maha Memiliki Sifat Rahmat. Sifat ini juga Allah karuniakan kepada makhluk-makhluk-Nya, sehingga boleh memberikan nama kepada seorang mu’min dengan nama Rahim.

5.   Luasnya sifat rahmat (kasih sayang) Allah azza wajalla, dimana Allah mengeluarkan sekelompok manusia dari neraka yang tidak pernah beramal shaleh sedikitpun di dunia semasa hidupnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

ويخرج الله من النار أقواما بغير شفاعة بل بفضله ورحمته

“Allah mengeluarkan beberapa kaum dari neraka tanpa syafa’at, karena keutamaan dan kasih sayang-Nya.” (Syarah Aqidah al-Washathiyyah: 2/236)

6.     Tidak pernah melakukan amalan sedikitpun mengandung dua makna:

Pertama: Yang dimaksud adalah amalan yang bersifat jawaarih (badan). Mereka meninggal dunia sebelum mampu melakukannya.

Kedua: Mereka melakukan amalan namun tidak dalam bentuk yang sempurna. yang menunjukkan makna ini adalah hadits tentang kisah seorang laki-laki yang membunuh seratus nyawa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan, ketika laki-laki yang membunuh itu telah meninggal dunia, dua Malaikat berseteru. Malaikat adzab berakata:

إنَّهُ لمْ يَعْمَلْ خَيراً قَطُّ

“Sesungguhnya dia belum pernah melakukan satu kebaikan sedikitpun.”

Hal ini menunjukkan dia memiliki amalan (taubat) namun amalannya tidak sempurna hingga selesai. Akan tetapi buah dari amalannya berbalas rahmat dari Allah azza wajalla.

7.       Tidak boleh mengkafirkan seorang muslim karena dosa besar yang dilakukakannya.

Imam Ibnu Abdil Izz rahimahullah berkata:

فمن عيوب أهل البدع تكفير بعضهم بعضا ومن ممادح أهل العلم أنهم يخطئون ولا يكفرون

“Diantara aib-aib para ahli bid’ah adalah mereka saling mengkafirkan satu sama lainnya, sedangkan diantara kebaikan orang-orang yang berilmu, mereka hanya menyalahkan dan tidak mengkafirkan.” (Syarah Aqidah ath-Thahawiyyah:2/487)

8.  Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan orang-orang yang dikeluarkan dari neraka dalam keadaan mereka tidak pernah melakukan amalan shaleh, dapat ditarik beberapa kemungkinan:

Pertama: Kalimat “Mereka tidak pernah melakukan kebaikan” tidak menunjukkan bahwa mereka yang menjadikan maksiat sebagai amalan keseharian mereka. Walau boleh jadi mereka berbuat maksiat namun dalam taraf yang sedikit dan mereka lebih banyak melakukan hal-hal yang mubah.

Kedua: Jika memang mereka sering melakukan maksiat, maka bentuk maksiat itu adalah hubungan antara diri mereka dengan Allah azza wajalla dan mereka merasa bersalah akan perbuatan itu, bukan kemkasiatan kepada orang lain. Sebab kesalahan pada orang lain jika belum dimaafkan di dunia akan dibalas pada hari kiamat kelak, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

من كانت عنده مظلمة لأحد من عرض أو شئ فليتحلله منه اليوم قبل ألا يكون دينار ولا درهم، إن كان له عمل صالح أُخذ منه بقدر مظلمته، وإن لم تكن له حسنات أُخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه
“Barangsiapa telah berbuat zhalim kepada seseorang yang berhubungan dengan kehormatannya atau lainnya, maka hendaknya dia segera meminta untuk dihalalkan (dimaafkan) olehnya pada hari ini. sebelum datangnya hari dimana dinar dan dirham tidak lagi berguna. Jika dia memilki amalan shalih, maka hal itu akan diambil darinya sesuai ukuran kezhalimannya. Dan jika dia tidak memiliki kebaikan-kebaikan, maka kesalahan-kesalahan seseorang yang terzhalimi tadi akan diberikan pada seorang yang zhalim itu.” (HR. Bukhari)

9.       Sebesar apapun amalan seseorang akan berbalas pada hari kiamat.

10.   Kalimat “Mereka sudah berbentuk arang” menunjukkan bahwa mereka sudah masuk di dalam neraka dan mendapatkan siksa. Sehingga tidak ada hujjah bagi seseorang untuk menghalalkan dirinya berbuat maksiat sambil mengharapkan luasnya kasih sayang Allah. Sebab tidak ada yang menjamin dirinya akan menjadi orang yang terselematkan itu. Karena mungkin perbuatannya justru mengarahkan pada amalan yang menafikan keimanan, yang membuat seseorang tidak berhak mendapat hadiah dari Allah berupa pembebasan dari neraka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وَمِنْ الْمُمْتَنِعِ أَنْ يَكُونَ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا إيمَانًا ثَابِتًا فِي قَلْبِهِ بِأَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِ الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ وَالصِّيَامَ وَالْحَجَّ وَيَعِيشُ دَهْرَهُ لَا يَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً وَلَا يَصُومُ مِنْ رَمَضَانَ وَلَا يُؤَدِّي لِلَّهِ زَكَاةً وَلَا يَحُجُّ إلَى بَيْتِهِ فَهَذَا مُمْتَنِعٌ وَلَا يَصْدُرُ هَذَا إلَّا مَعَ نِفَاقٍ فِي الْقَلْبِ وَزَنْدَقَةٍ لَا مَعَ إيمَانٍ صَحِيحٍ ؛ وَلِهَذَا إنَّمَا يَصِفُ سُبْحَانَهُ بِالِامْتِنَاعِ مِنْ السُّجُودِ الْكُفَّارَ

“Diantara hal yang menghalangi seseorang disebut sebagai mu’min yang memiliki keimanan di dalam hatinya adalah ketika Allah azza wajalla telah mewajibkan baginya shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan ramadhan dan menunaikan haji, sementara waktunya habis dalam keadaan dia tidak pernah sujud kepada Allah walau sekali saja, tidak berpuasa pada bulan ramadhan, tidak membayar zakat dan tidak berhaji ke baitullah. Inilah penghalang seseorang disebut beriman itu. tidak ada yang memiliki sifat seperti ini kecuali di dalam hatinya ada sifat munafik dan tidak memiliki iman yang shahih. Oleh karena itu Allah hanya menyifati orang-orang yang terhalang dari sujud kepadanya hanyalah orang-orang kafir.” (Majmu’ Fatawa: 7/611)


11.   Allah memiliki sungai di dalam surga yang bernama sungai kehidupan.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar