Rabu, 03 Februari 2016

Kisah Abu Qilabah al-Jarmy || Renungan Dan Harapan Bagi Yang Terkena Musibah



Beliau adalah Abdullah Ibnu Zaid al-Jarmy rahimahullah, seorang ahli ibadah yang zuhud di kota Bashrah, manusia yang selalu bersyurkur walau tertimpa musibah.

Kisahnya diceritkan oleh Imam Ibnu Hibban rahimahullah dalam kitabnya “ats-Tsiqaat” diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Muhammad  bahwasanya dia berkata:

Aku pernah keluar menuju tepi pantai untuk memantau kawasan pantai dari kedatangan musuh. Ketika aku tiba di tepi pantai, ternyata aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat di tepi pantai tersebut. Di dataran itu ada sebuah kemah, yang di dalamnya terdapat seseorang yang telah kehilangan kedua tangan dan kedua kakinya. Dia juga seorang laki-laki yang telah rabun matanya dan pendengarannya sangat lemah. Tidak tersisa dari tubuhnya sesuatu yang dapat dia manfaatkan kecuali hanya lisannya saja.

Tapi sungguh ajaib, aku mendengar dia berdoa, “Yaa Allah karuniakanlah kepadaku agar aku selalu dapat memuji-Mu dengannya aku mensyukuri nikmat-Mu atasku dan pengutamaan diriku melebihi makhluk makhluk-Mu yang lain.”

Aku berkata, “Sungguh aku akan mendatangi laki-laki ini dan aku akan menanyakan kepadanya perihal perkataannya itu. Apakah dia memahaminya ataukah itu sebuah ilham?’’ Setelah itu aku pergi kearahnya dan berkata, “Aku telah mendengar engkau berdoa, “Yaa Allah karuniakanlah kepadaku agar aku selalu dapat memuji-Mu dengannya aku mensyukuri nikmat-Mu atasku dan pengutamaan diriku melebihi makhluk makhluk-Mu yang lain.”

Nikmat apakah dari nikmat-nikmat Allah yang engkau syukuri itu? Dan keutamaan apakah yang engkau dapatkan dari-Nya sehingga engkau mensyukurinya?

Maka laki laki tua itu menjawab, “Tidakkah engkau melihat apa yang telah Allah karuniakan untukku? Demi Allah, jika seandainya Allah mengutus kepadaku halilintar dari langit lalu menghantamku dan menghanguskanku, ataukah Dia memerintahkan gunung untuk menindihku lalu menghancurkanku, ataukah Dia memerintahkan lautan untuk menenggelamkanku, ataukah Dia memerintahkan tanah lalu menimbun tubuhku, tidaklah hal itu terjadi kecuali aku akan selalu menambah rasa syukurku kepada Allah atas nikmat yang telah dikaruniakannya kepadaku berupa lisanku ini.

Akan tetapi wahai Abdullah, karena engkau telah mendatangiku nampaknya aku memiliki hajat kepadamu. Engkau telah melihatku dalam kondisi seperti ini yang tidak mampu menghindar ketika ada sesuatu yang membahayakan diriku, atau memberi manfaat padaku atau pada orang lain.

Dahulu aku memiliki seorang anak lelaki yang selalu mewudhukan aku ketika telah masuk waktu shalat. Jika aku merasa lapar dialah yang menyuapiku untuk makan dan jika aku haus dialah yang memberi aku minuman. Namun sudah tiga hari dia hilang dariku, tolong carikanlah dia untukku semoga Allah merahmatimu.

Aku berkata, “Demi Allah, jika seseorang berjalan untuk memenuhi keperluan saudaranya niscaya dia mendapatkan pahala yang sangat besar. Akan tetapi, pahalanya tidak akan mengalahkan pahala seorang yang berjalan untuk mememnuhi keperluan orang sepertimu.”
Maka mulailah aku mencari anak itu tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ketika aku berjalan, aku tidak menyadari kalau aku telah sampai diantara bukit pasir. Tapi tiba-tiba aku melihat seseorang yang telah dikerumuni oleh hewan buas dan berlomba-lomba memakan dagingnya. Aku beristirja’ dan mencoba mengusir hewan-hewan itu seraya memperhatikan wajah mayat itu. Ternyata wajahnya mirip dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh laki-laki tua itu.

Maka aku terus berfikir bagaimana seharusnya aku bertemu dan mengatakan perkara yang amat menyedihkan ini pada laki-laki tua tersebut. Tiba-tiba muncul dibenakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalaam.

Aku mendatanginya lalu memberi salam kepadanya dan diapun menjawab salamku seraya berkata,  “Apakah engkau adalah sahabatku tadi?”

Aku katakan, “Ya.”

Dia berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan permintaanku?”

Aku berkata, “Siapakah yang lebih mulia di hadapan Allah, engkaukah atau Nabi Ayyub ‘alaihissalaam?”

Dia berkata, “Jelas yang lebih mulia adalah Ayyub, dia seorang Nabi.”

Aku berkata, “Tahukah engkau apa yang Allah lakukan padanya? Bukankah Allah telah mengujinya pada harta, kelurga dan anak-anaknya?”

Dia berkata, “Ya!”

Aku berkata, “Bagaimana Nabi Ayyub menghadapi musibah itu?”

Dia berkata, “Dia menghadapi musibah itu dengan bersabar, bersyukur dan selalu memuji-Nya.”

Aku berkata, “Tidak hanya itu, Allah bahkan mengujinya lebih berat lagi, kerabat-kerabat dan orang-orang yang dia cintai pergi meninggalkannya.”

Dia berkata, “Ya.”

Aku berkata, “Lalu bagaimana dia mengahadapi hal itu?”

Dia berkata, “Dia menghadapi musibah itu dengan bersabar, bersyukur dan selalu memuji-Nya.”

Aku berkata, “Allah belum mengehdaki ujian itu selesai, Allah mengujinya dengan orang-orang yang selalu menggunjing dirinya setiap melewati suatu jalan. Apakah engkau mengetahuinya?”

Dia berkata, “Ya.”

Aku berkata, “Bagaimana dia menghadapi musibah itu?”

Dia berkata, “Dia menghadapi musibah itu dengan bersabar, bersyukur dan selalu memuji-Nya. 

Ringkaslah ceritamu, semoga Allah merahmatimu.”

Aku berkata, “Sesungguhnya anak laki-laki yang engkau tugaskan aku untuk mencarinya, aku melihatnyanya diantara dua bukit pasir telah dikerumuni oleh hewan buas dan mereka berlomba-lomba untuk memakan dagingnya. Mohonlah kepada Allah agar Allah memberikan kepadamu pahala yang besar atas musibah yang sedang menimpamu ini. Semoga Allah memberikan ilham kepadamu untuk selalu bersabar.”

Dia berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan pada keturunan-keturunanku seseorang yang bermaksiat kepada-Nya sehingga Dia dapat mengazabnya dengan siksa di dalam neraka.”

Kemudian dia mengucapkan kalimat istirja’, seketika itu dia terjatuh dan meninggal dunia. Aku hanya bisa berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Amat besar musibah yang menimpaku, orang seperti ini jika aku meninggalkannya akan dimakan oleh hewan buas, dan jika aku hanya duduk, aku tidak bisa melakukan apa-apa.

Maka aku menutupkan selembar kain di badannya lalu duduk dekat kepalanya dalam keadaan menangis. Ketika aku sedang duduk-duduk, tiba-tiba datang empat orang mengendarai kuda dan berkata kepadaku, “Wahai Abdullah, bagaimana keadaanmu dan apa yang terjadi padamu.”
Aku menceritakan kisah yang terjadi padaku dan kisah laki-laki tua yang meninggal dunia itu. Mereka berkata, “Tolong singkap kain yang menutup wajahnya,  semoga kami mengenalinya setelah melihat wajahnya.”

Ketika aku membuka kain yang menutup wajahnya, serempak mereka melompat dari kudanya lalu memandangi laki-laki tua itu, menciumi mata dan tangannya ditemani dengan isap tangis yang haru. Mereka berkata, “Demi Allah, mata ini adalah mata yang tidak pernah digunakan untuk melihat hal-hal yang Allah haramkan. Demi Allah, tubuh ini adalah tubuh yang selalu digunakan untuk sujud kepada Allah dalam keadaan orang-orang tertidur pulas.”

Aku berkata, “Siapakah laki-laki ini,? semoga Allah merahmati kalian.”

Mereka berkata, “Dia adalah Abu Qilabah al-Jarmi sahabat Abdullah Ibnu Abbaz radhiyallahu ‘anhu. Sungguh dia adalah seorang yang sangat mencintai Allah azza wajalla dan Rasul-Nya.
Lalu kami memandikan jenazahnya, mengafaninya dengan kain yang kami milki, menshahaltkan jenazahnya, lalu menguburkannya. Lalu semua orang pergi dan aku pun pergi ke medan peperangan.

Disuatu malam aku meletakkan kepalaku di atas pembaringanku lalu tertidur. Di dalam mimpiku aku melihat dia berada di dalam surga, dalam sebuah taman dan memakai pakaian yang terbuat dari kain surga yang terlihat sangat indah. Pemandangannya pun sangat indah, dia berjalan di dalamnya seraya membaca firman Allah azza wajalla dengan tartil dan dengan suara yang sangat merdu:

سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

"Kesalamatan bagi kalian dengan atas kesabaran kalian.” (QS. Ar-Ra’ad: 24)

Aku bertanya, “Bukankah engkau adalah sahabatku?”

Dia berkata, “Benar.”

Aku berkata, “Bagaimana engkau mendapatkan semua ini?”

Dia berkata, “Sesungguhnya Allah memiliki surga yang tersusun beberapa derajat, dimana derajat itu tidak akan didapatkan kecuali dengan kesabaran ketika mendapat ujian, dan selalu bersyukur ketika dalam kesempitan, serta selalu merasa takut kepada Allah dalam keadaan ramai ataupun sendirian.”[1]

Maka Alangkah baiknya tempat kesudahan itu.


[1] Ats-Tsiqaat: 5/5, Maktabah Syamilah

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar