Jumat, 19 Februari 2016

Pernikahan Laki-Laki Dengan Laki-Laki Dalam Fiqh Islam || Baca Dulu Sebelum Komentar



Pertanyaan:

Apa hukum pernikahan antara laki-laki dengan laki-laki?

Jawaban:

Alhamdulillah wash-sholatu was-Salamu ‘Ala Rasulillah

Jika yang dimaksud dengan pernikahan antara laki-laki dengan laki-laki adalah ketika seorang laki-laki mendatangi laki-laki lain untuk melakukan perbuatan keji bersamanya, bersamaan dengan itu pula mereka mengetahui keharaman perbuatan itu, dan merasa berdosa dari perbuatan itu, maka mereka telah melakukan dosa yang sangat besar. Mereka juga telah melakukan perbuatan keji yang paling besar diantara perbuatan-perbuatan keji lainnya.

Adapun jika yang dimaksud dengan pernikahan sesama jenis laki-laki dengan laki-laki adalah pernikahan yang dalam prosesinya ada akad nikah dan dimeriahkan dengan mengundang orang lain, atau dalam bentuk laki-laki melakukan perbuatan fajir (nista) dengan laki-laki lainnya, dengan maksud menghalalkan perbuatan itu, maka ini adalah kekufuran. Waliyadzubillah.

Perbuatan ini merupakan perbuatan yang mengingkari sesuatu yang hukumnya telah maklum di dalam agama.  Imam Abu Dawud rahimahullah dan selainnya telah meriwayatkan satu hadits dari Barra Ibnu Azib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya dia berkata:

لقيت عمي ومعه راية، فقلت له: أين تريد؟ فقال: بعثني رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى رجل نكح امرأة أبيه، فأمرني أن أضرب عنقه، وآخذ ماله

“Aku pernah bertemu pamanku dan dia memegang bendera. Maka aku berkata padanya, “Engkau ingin pergi kemana?” Maka dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutusku kepada seorang laki-laki yang menikahi ibu tirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkanku untuk membunuhnya dan mengambil hartanya.”

Dari konteks hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan harta laki-laki tersebut sebagai harta fai yang merupakan muamalah kepada seorang yang telah murtad dari agama ini. Hal ini (dia dihukumi murtad) karena telah menikahi seseorang yang merupakan bagian dari mahram-mahramnya. Jika dalam masalah ini seseorang menjadi murtad, maka pernikahan antara laki-laki dengan laki-laki adalah sesuatu yang lebih parah.


Penerjemah: Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar