Sabtu, 20 Februari 2016

Siapa Yang Bersikeras Ingin Menghalalkan LGBT, Maka Dia Telah Murtad, Pelakunya Kafir



Merupakan sesuatu yang telah maklum dalam islam adalah bahwa keimanan seseorang harus dibangun atas pembenaran dan penerimaan terhadap syariat Allah azza wajalla serta hukum-hukum yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Terlebih pada hukum-hukum yang sifatnya telah maklum dalam agama, sebagai sesuatu yang dharurah. Hukum-hukum yang dimaksud tersebut adalah hukum-hukum yang zhahir dan tingkatnya mutawatir, dimana semua orang telah mengetahui tentangnya, dan merupakan hukum-hukum agama yang telah baku dan telah disepakati oleh seluruh ulama dengan Ijma’ Qath’iyyan (kesepakatan secara pasti), seperti kewajiban dalam rukun-rukun islam, yaitu shalat, zakat, puasa, haji atau segala perkara yang telah diharamkan secara tegas dalam syariat seperti riba, khmar dan perbuatan liwath (homosesksual).

Akhir-akhir ini, pembicaraan mengenai LGBT menjadi ternding topik diberbagai media, topik yang sangat panas dibicarakan oleh masyarakat negri ini. Diantaranya ada yang mengharamkan dan mencoba mencegah perkembangannya. Mereka adalah para alim, dai dan orang-orang yang memiliki pikiran bersih sesuai dengan fithrah manusia pada umumnya. Adapula dari mereka yang mencoba menghalalkannya dengan dalih HAM. Mereka adalah orang-orang yang berpaling dari fitrah mereka dan sudah tidak memiliki kebersihan hati.

LGBT yang merupakan singkatan dari lesbian, gay, biseksual dan transgender dalam islam merupakan sesuatu yang haram secara muthlak. Bahkan pengharamannya merupakan ijma’ (kesepakatan) seluruh ulama, sejak diutusnya Nabi Luth ‘alaihissalaam hingga hari ini, serta  masuk dalam kategori hukum-hukum yang telah maklum dalam agama sebagai sesuatu yang dharurah, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Perbuatan ini adalah perbuatan yang terlaknat, dan merupakan dosa yang sangat besar.

Allah azza wajalla berfirman:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (٨٠) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (٨١) وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ (٨٢) فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ (٨٣) وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ (٨٤)

Dan kami juga telah mengutus Luth kepada kaumnya. Ingatlah tatkala dia berkata kepada mereka: Mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun di dunia ini sebelum kalian?" Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu (kepada mereka), bukan kepada wanita.  Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri." Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang dibinasakan. Dan Kami turunkan kepada mereka hujan batu; maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.”  (QS. Al-A’raf: 80-84)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَلَعَنَ الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai kaum wanita dan melaknat wanita-wanita yang menyerupai kaum lelaki.” (HR. Thabrani dan Ahmad)

Azab yang menimpa kaum Luth berupa dibaliknya tanah tempat mereka berpijak dan dihujani batu-batu panas dari langit, tidak lain disebabkan karena pendustaan mereka terhadap ayat-ayat Allah, yaitu penghalalan mereka akan sebuah dosa, yakni homoseksual dan lesbian.

Menghalalkan sesuatu yang telah diharamkan Allah, atau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah hukumnya kafir. Allah azza wajalla berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ (٨) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ (٩)

“Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah membatalkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah  lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 8-9)

Imam As-Sa’di rahimahullah berkata:

وأما الذين كفروا بربهم، ونصروا الباطل، فإنهم في تعس، أي: انتكاس من أمرهم وخذلان. { وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ } أي: أبطل أعمالهم التي يكيدون بها الحق، فرجع كيدهم في نحورهم، وبطلت أعمالهم التي يزعمون أنهم يريدون بها وجه الله. ذلك الإضلال والتعس للذين كفروا، بسبب أنهم { كَرِهُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ } من القرآن

“Adapun orang-orang yang mengingkari Tuhannya dan menolong kebatilan maka mereka akan mendapatkan kecelakaan, maksudnya perkara kebatilan yang mereka sedang lakukan akan berbalik dan menyebabkan kehinaan bagi mereka. Allah akan menyesatkan amalan-amalan mereka” maksudnya Allah akan membatalkan amalan-amalan yang mereka perbuat berupa makar/konspirasi terhadap kebenaran. Sehingga makar/konspirasi mereka itu akan kembali pada mereka dan menghapuskan amalan yang mereka anggap sebagai perkara kebaikan untuk mengharapkan wajah Allah azza wajalla. Kesesatan dan kecelakaan yang terjadi pada orang-orang kafir itu, disebabkan oleh kebencian mereka terhadap apa yang Allah turunkan dari al-Qur’an.” (Tafsir as-Sa’di: 926)

Disebutkan dalam tafsir al-muyassar mengenai ayat ini:

والذين كفروا فهلاكا لهم وأذهب الله ثواب أعمالهم ذلك بأنهم كرهوا كتاب الله المنزل على محمد صلى الله عليه وسلم فكذبوا به فأبطل أعمالهم لأنها كانت في طاعة الشيطان

“Maka untuk orang-orang kafir, kebinasaan bagi mereka, Allah akan menghapuskan pahala amalan-amalan mereka. Hal itu disebabkan karena mereka membenci kitab Allah yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena kebenciannya itu, maka Allah pun menghapus amalan-amalan mereka, sebab mereka pada dasarnya sedang dalam ketaatan kepada syaithan.” (Tafsir Muyassar: 507)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

أطلق الإمام الرافعي القول بتكفير جاحد المجمع عليه، وليس هو على إطلاقه، بل من جحد مجمعاً عليه فيه نص، وهو من أمور الإسلام الظاهرة التي يشترك في معرفتها الخواص والعوام كالصلاة، أو الزكاة، أو الحج، أو تحريم الخمر أو الزنا ونحو ذلك فهو كافر

“Imam ar-Rafi’I menghukum kafir secara muthlak orang-orang yang menentang syariat yang telah disepakati hukumnya oleh seluruh ulama. Akan tetapi hal itu hakikatnya tidak secara muthlak. Siapa saja yang mengingkari sesuatu yang telah disepakati hukumnya oleh seluruh ulama yang memang memiliki nash (dalil dalam al-Qur’an dan hadits) pada hukum itu, dan merupakan perkara-perkara yang nampak dalam agama, maksudnya dapat diketahui oleh orang-orang yang dalam keilmuannya dan orang-orang awam, seperti shalat, puasa, haji atau pengharaman khamar, riba dan selainnya maka dia telah kafir.” (Raudhatu ath-Thalibin: 2/146)

Imam Ibnu Daqiq al-Iid rahimahullah berkata:

فالمسائل الإجماعية تارة يصحبها التواتر بالنقل عن صاحب الشرع كوجوب الصلاة مثلا وتارة لا يصحبها التواتر.
فالقسم الأول: يكفر جاحده لمخالفته التواتر لا لمخالفته الإجماع

“Perkara-perkara mengenai hukum yang telah disepakati terkadang tingkatannya ada yang sampai pada level mutawatir dari pemilik syariat (Allah) seperti hukum mendirikan shalat. Terkadang pula tingkatannya tidak samapai pada level mutawatir. Pada poin yang pertama, seseorang akan kafir bagi yang menyelisihinya, disebabkan hal itu sudah sampai pada tingkatan mutawatir (sudah banyak yang tahu-pent) bukan karena menyelishi ijma’.” (Ihkamu al-Ahkam Syarh Umdatu al-Ahkam: 425)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

أَنَّ الْإِجْمَاعَ الْمَعْلُومَ يَكْفُرُ مُخَالِفُهُ كَمَا يَكْفُرُ مُخَالِفُ النَّصِّ بِتَرْكِهِ لَكِنَّ هَذَا لَا يَكُونُ إلَّا فِيمَا عَلِمَ ثُبُوتَ النَّصِّ بِهِ

“Bahwasanya ijma’ (kesepakatan para ulama) yang telah maklum hukmunya, maka bagi seseorang yang menyelisihinya, hal itu menjadikan dirinya kafir, sebagaimana kafirnya orang-orang yang menyelisihi nash (al-Qur’an dan hadits). Akan tetapi hal ini tidak dihukumi seperti itu kecuali telah diketahui ketsabitan (kepastian) nash tentangnya.” (Majmu’ Fatawa: 19/270)

Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah bahkan mengkafirkan orang-orang yang menentang atau membenci bolehnya poligami. Beliau berkata:

من كره تعدد الزوجات وزعم أن عدم التعدد هو أفضل هو كافر ومرتد عن الإسلام، لأنه نعوذ بالله منكر لحكم الله وكاره لما شرع الله، والله يقول سبحانه: ذلك بأنهم كرهوا ما أنزل الله فأحبط أعمالهم، من كره ما أنزل الله حبط عمله، فالذي يكره تعدد الزوجات ويرى أن الشريعة قد ظلمت، أو أن حكم الله في هذا ناقص أو مو طيب، أو أن ما يفعلونه في بلاد النصارى من الوحدة أن هذا أولى وأفضل هذا كله ردة على الإسلام، نعوذ بالله.

“Siapa yang membenci poligami dan mengira bahwa tidak melakukan poligami adalah sesuatu yang lebih baik maka dia telah kafir, murtad dari agama islam. Karena dia –Nau’dzubillah- telah mengingkari hukum Allah dan membenci sesuatu yang telah Allah syariatkan. Allah azza wajalla berfirman, “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah  lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” Siapa saja yang membenci apa yang telah Allah turunkan, niscaya hal itu akan menghapuskan amalannya. Maka siapa saja yang membenci poligami dan mengira bahwa syariat ini telah melakukan kezhaliman atau mengira bahwa hukum syariat ini kurang, atau tidak baik, atau mengira bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang nashrani berupa perbuatan monogami lebih baik, maka semua keyakinan ini telah menjadikan pelakunya murtad, keluar dari islam. Na’udzu billah. (Lihat di website resmi beliau: http://www.binbaz.org.sa/node/18069)

Menghalalkan LGBT adalah perbuatan menentang apa yang telah Allah haramkan, sama halnya dengan membenci poligami bahkan lebih parah lagi dari itu. Oleh karena itu, orang-orang yang bersikeras ingin melegalkan atau menghalalkan LGBT maka mereka kafir.


Wallahu a’lam.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar