Jumat, 25 Maret 2016

Ia Begitu Merindukan Surga, Wanita Tangguh Itu Bernama Ummu ‘Umarah Nusaibah Bintu Ka’ab



Ia Begitu Merindukan Surga, Wanita Tangguh Itu Bernama Ummu ‘Umarah Nusaibah Bintu Ka’ab

Namanya Ummu ‘Umarah radhiyallahu ‘anha, begitu dia dikenal. Sosok wanita tangguh yang tak kenal rasa takut. Nama asilnya adalah Nusaibah Bintu Ka’ab Ibnu Amr Ibnu Auf, seorang wanita dari kalangan Bani Najjar. Dia turut ikut dalam perang Uhud bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersama suaminya bernama Zaid Ibnu ‘Ashim radhiyallahu ‘anhu  dan  kedua putranya bernama Habib Ibnu Zaid dan Abdullah Ibnu Zaid radhiyallahu ‘anhuma. (Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam: 137)

Tidak seperti wanita-wanita lainnya hari ini, ketika mereka terjebak pada kenikmatan dunia yang menipu, terbius oleh gemerlap keindahannya sehingga melupakan kampung akhirat, dia lebih memilih surga. Kerinduannya pada surga memang begitu besar, sampai-sampai suatu ketika ia pernah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

ادع الله تعالى أن نرافقك في الجنة "، قال: " اللهم اجعلهم رفقائي في الجنة قالت: " ما أبالي ما أصابني من أمر الدنيا

“Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, doakanlah kami kepada Allah ta’ala agar kami sekeluarga menjadi orang-orang yang menemanimu di surga.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Yaa Allah jadikanlah mereka orang-orang yang menemaniku di surga.” Dia berkata: “Aku tidak menghiraukan apa yang menimpaku dari musibah-musibah dunia (setelah doa itu-pent).” (Subulu al-Huda wa ar-Rasysyad Fi Siirati Khairi al-Ibad: 4/202)

Ya, dia memang beda, sosok wanita tangguh yang tak takut mati.

Hal itu dibuktikan pada saat perang uhud, tatkala pasukan kaum muslimin telah kocar kacir dihantam oleh pasukan kuffar yang dipimpin Khalid Ibnu al-Walid, dia justru datang sebagai seorang kesatria melinndungi Nabi membantu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Sirah an-Nabawiyyah menukil dari Sa’id Ibnu Abi Zaid al-Anshari, bahwasanya Ummu Sa’ad Bintu Sa’ad Ibnu ar-Rabi’ pernah berkata:

“Aku masuk menemui Ummu Umarah lalu berkata kepadanya, “Wahai bibi, kabarkan kepadaku bagaimana keadaanmu saat itu (pada perang uduh)?”

Dia berkata, “Aku keluar pada awal siang, melihat-lihat apa yang dilakukan oleh manusia. Saat itu aku memiliki suqaa (wadah air terbuat dari kulit) yang berisi air. Pandangan itu berakhir kala aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabatnya. Saat itu sebenanrnya angin kemenangan sudah berhembus milik kaum muslimin.” Namun tatkala kaum muslimin terpukul mundur terkalahkan, maka aku mendorong diriku untuk berada di barisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku berdiri ikut berperang, menjadi tameng baginya menghadang pedang dan anak panah yang siap melesat di tubuh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai-sampai menjadikanku luka-luka.” (Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Katsir: 3/67)

Sofhiyurrahman al-Mubarakfuri berkata: “Ummu Umarah juga turut berperang, ia berhadapan dengan Ibnu Qamiah di tengah kerumunan manusia. Saat itu Ibnu Qamiah berhasil memukulnya dengan sabetan pedang tepat mengenai pundaknya, hingga meninggalkan luka yang menganga. Tapi Ummu Umarah juga berhasil memukulnya dengan sabetan pedangnya beberapa kali, sayangnya Ibnu Qamiah menggunakan baju besi sehingga dia berhasil meloloskan diri.” Ummu Umarah terus berjuang, berperang hingga meninggalkan 12 luka di badannya.” (Rahiqu al-Makhtum: 241)

Imam adz-Dzahabi rahimahullah menukil dari Muhammad Ibnu Yahya Ibnu Hibban dia berkata: “Ummu Umarah terluka sebanyak 12 luka pada saat perang uhud, tangannya terpotong pada saat ikut dalam perang Yamamah, pada perang itu pula ia mengalami luka-luka di tanganyya selain tangannya yang telah terpotong sebanyak 11 luka. Ketika memasuki kota Madinah, dia memiliki beberapa luka,.” (Siyar A’lam an-Nubala: 3/252)

Demikianlah kisah manusia-manusia pilihan yang lebih memilih keridhan Rabbnya dari sekedar pujian manusia. Kecintaannya pada Allah dan Rasul-Nya rela menjadikan diri mereka sebagai tebusan agar Khalilullah tidak terluka sedikitpun. Mereka rela menaruhkan nyawanya demi agama yang mulia ini. Mereka rela terinjak-injak dalam peperangan, rela terluka, rela kehilangan anggota tubuhnya, bahkan rela mati demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan agama yang mulia ini. Semua itu tentu tidak lepas dari keinginan mereka mendapat janji Rabb-Nya yang tidak pernah menyelisihi janji.

Dimanakah diri ini dari sifat bathal (kesatria) mereka. Duhai, aku melihat diri ini ternyata hanya memiliki secuil dari semangat kecil itu. Kalaupun beramal, niat selalu bercampur dengan angan mencari pujian manusia agar disebut seorang yang hebat, seorang yang shalih.  Semoga Allah mengampuni kita semua dari kelalaian kita memperjuangkan agama ini.

Keep Istiqamah

Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar