Sabtu, 19 Maret 2016

Ketabahan Seorang Masyithah Ketika Dirinya Dan Lima Orang Anaknya Yang Digoreng Hidup-Hidup



Masyithah, demikian dia dikenal. Ia hanyalah seorang wanita tukang sisir rambut anak Fir’aun, yang tegar dengan keimanannya, yang tinggal di rumah manusia yang paling rendah dan hina, Fir’aun la’natullah ‘alaihi.

Namanya tidak tertulis dan disebutkan dengan tinta-tinta emas sejarah, sehingga dia hanya dikenal dengan profesinya sebagai seorang Masyithah (tukang sisir rambut). Walaupun begitu, hal itu tidak menjadikan dirinya asing di kerajaan langit, semerbak aroma wangi dirinya bahkan pernah membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam takjub tatkala mencium aroma wangi itu pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj. beliau berkata:

ما هذه الرائحة الطيبة يا جبريل

“Aroma wangi apakah ini wahai Jibril??”

Demikianlah ketakjuban seorang Rasul, pada aroma wangi seorang wanita yang hanya berkerja sebagai seorang Masyithah. Namun karena keteguhan imannya, wanginya menjadi penghibur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Kisahnya diriwatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Imam Hakim dalam al-Mustadrak dan di shahihkan oleh Imam adz-Dzhabi. Dari Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Ketika pada malam aku di isra’kan, datang padaku aroma yang sangat wangi, maka aku berkata: “Aroma wangi apakah ini wahai Jibril?”

Jibril berkata: “Aroma ini adalah milik seorang wanita tukang sisir rambut anak Fir’aun dan anak-anaknya.”

Aku berkata: “Apa yang terjadi padanya?”

Jibril berkata: “Ketika dia menyisir rambut anak Fir’aun pada suatu hari, tiba-tiba sisir yang dipegangnya jatuh dari tanganya. Dia berkata, “Bismillah (Dengan menyebut nama Allah).”

Maka Anak Fir’aun itu berkata: “Apakah yang engkau maksud Tuhan adalah ayahku?”

Masyithah berkata: “Tidak, akan tetapi Tuhanku dan Tuhan ayahmu adalah Allah.”

Dia berkata: “Kalau begitu aku akan mengabarkan perkataanmu ini pada ayahku.”

Masyithah berkata: “Ya, Silahkan.”

Maka anak Fir’aun itu mengabarkan keimanan si tukang sisir rambut itu kepada ayahnya (Fir’aun), sehingga Fir’aun memanggilnya.

Fir’aun berkata: “Wahai Fulanah, apakah engkau memiliki Tuhan selain diriku?”

Masyithah berkata: “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” (Dalam riwayat Ibnu Hibban :Tuhanku dan Tuhanmu adalah yang berada di atas langit).

Maka Fir’aun memerinthkan prajurit-prajurinya untuk menyalakan api dan memanaskan minyak, lalu diperintahkanlah Masyithah dan anak-anaknya dilemparkan di dalamnya.

Masyithah berkata: “Sesungguhnya aku memiliki permintaan kepadamu.”

Fir’aun berkata: “Apa keinginanmu?”

Masyithah berkata: “Aku ingin engkau mengumpulkan tulangku dan tulang anak-anakku pada satu pakaian lalu engkau menguburkan kami.”

Fir’aun berkata: “Kalau begitu kami akan penuhi permintaanmu.”

Maka dilemparkanlah anak-anaknya satu persatu di hadapannya sendiri ke dalam minyak yang panas itu hingga tiba giliran anaknya yang masih bayi yang sedang menyusui, yang seolah karena anaknya yang paling kecil itu ia hampir saja mundur dari keyakinannya.

Tiba-tiba anak kecil itu berkata: “Wahai ibu, ceburkanlah, sesungguhnya azab dunia lebih ringan daripada azab akhirat.”

Maka diapun menceburkan dirinya dalam minyak itu.

Ibnu Abbas berkata: “Ada empat orang anak kecil yang bisa berbicara saat mereka masih kecil, Isa Ibnu Maryam ‘alaihissalaam, anak yang terdapat pada kisah Juraij, seorang anak yang menjadi saksi Yusuf, dan anak Masyithah yang menjadi tukang sisir anak Fir’aun.

Disarikan dari website Multaqa Ahli Hadits: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=315189


Penerjemah: Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy  

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar