Selasa, 15 Maret 2016

Tadabbur Ayat #9 || Surah al-Baqarah: 268 || Janji Allah Vs Janji Syaithan




Allah azza wajalla berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. (QS. Al-Baqarah: 268)

Faidah:

1.      Ayat ini menjelaskan tentang adanya dua janji yang saling mengajak. Yang pertama adalah janji Syaithan yang selalu mengajak pada kemiskinan, kemelaratan, perbuatan buruk dan perkara-perkara yang akan berujung dengan kebinasaan. Yang kedua adalah janji Allah, yang mengajak pada kebaikan, keutamaan, kemuliaan dan ampunan. Dimana semua hasil dari ajakan itu akan berakhir dengan kebahagiaan berupa balasan terbaik yang Allah berikan yaitu surga.

Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:

فالينظر العبد نفسه إلى أي الدعيين يميل

“Hendaklah setiap hamba melihat dan memperhatikan jiwanya, kepada ajakan dan janji siapa hatinya itu condong.” (Tafsir as-Sa’di: 118)

2.    Jika kita memperhatikan ayat ini, Allah meletakkannya diantara ayat-ayat yang menyebutkan tentang perkara-perkara yang secara zhahir sangat dibenci manusia, yaitu ayat yang menyebutkan anjuran mengeluarkan harta (berinfak/bersedekah).

Artinya, janji Allah itu akan diliputi oleh hal-hal yang secara zhahir dibenci oleh hati kita, atau susah diterima oleh hati ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci oleh manusia, sedangkan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang disenangi oleh syahwat manusia.” (HR. Muslim)

3.   Janji Allah terdapat pada ketundukan, ketaatan, kepatuhan dan penerimaan dengan sepenuh hati pada syariat-syariat Allah tanpa ada perasaan tidak senang terhadap syariat itu. Sedangkan janji syaithan adalah lawan dari itu semua, membuat ketidak patuhan, ketidak taatan, ketidak tundukan, dan untuk tidak menerima syariat-syariat Allah, serta membisikkan pada hati-hati manusia bahwa janji Allah yang ada pada syariat Allah itu akan menyakiti dan merugikan seseorang.

Janji Allah, siapa yang bertakwa pada-Nya maka Allah akan berikan jalan keluar dari segala cobaan yang menimpa dirinya dan memberikannya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka. Janji syaithan, jangan taat pada-Nya, dia memberikan was-was kepada seseorang bahwa jika dia tidak berbuat kemaksiatan pada Allah, cobaannya tak akan selesai, dan akan selalu berada dalam kemiskinan dan kemelaratan.

Janji Allah, siapa yang jujur dalam perdagangannya, tanpa mengurangi timbangan dan takaran, niscaya Allah akan berikan keberkahan dalam perdagangannya itu. Janji syaithan, jika tidak mengurangi timbangan, jika tidak menipu pembeli, maka tidak akan mendapatkan keuntungan dan akan terus berada dalam kemiskinan.

Janji Allah, siapa yang berinfak, bersedekah dan membayar zakat dan menjauhi riba, niscaya Allah akan berikan keberkahan pada hartanya dan menggantikan berlipat-lipat dari harta yang ia infakkan itu. Janji syaithan, makanlah riba untuk menambah harta dan jangan menginfakkan harta, jagan bersedakah dan jangan membayar zakat, karena akan mengurangi harta yang telah di dapatkan dengan susah payah.

Janji Allah, berpuasalah pada bulan ramadhan niscaya seseorang akan memberikan pahala yang besar, wangi mulut bagai kasturi dan akan bertemu dengan Allah dalam keadaan bahagia. Janji Syaithan, puasa akan membuat kelaparan, kehausan dan tidak bisa melakukan hal-hal lain yang disenangi syahwat.

Janji Allah, sembahlah Allah dan memintalah hanya kepada-Nya niscaya Allah akan berikan semua permintaan itu. Janji Syaithan, sembahalah syaithan dan dan bertawasullah padanya untuk mendapatkan keinginan.

Janji Allah, berpoligami akan menambah umat Rasulullah yang membanggakan diri beliau pada hari kiamat. Hal ini juga hakikatnya membantu para wanita yang belum mendapatkan suami untuk bersuami sehingga bisa mejaga kehormatan-kehormatan mereka, karena semakin sedikitnya laki-laki dan bertambah banyaknya perempuan. Janji syaithan, jangan terima syariat poligami atau terima tapi tidak untuk suamimu karena itu akan menyakitkan hatimu, tidak mengurus dirimu, banyak yang gagal dalam poligami, membagi cinta suamimu yang menyakitkan hatimu, bencilah poligami.

Janji Allah, berbuat adillah terhadap istri-istrimu dalam menafkahinya, jatah malamnya dan memberikan pakaian. Jika tidak engkau akan datang pada hari kiamat dalam keadaan miring. Janji Syaithan, jangan berbuat adil pada masalah-masalah tersebut, nikmati saja salah satunya dan terlantarkan yang lainnya.

 Syaikh as-Sa’di berkata:

فالينظر العبد نفسه إلى أي الدعيين يميل

“Hendaklah setiap hamba melihat dan memperhatikan jiwanya, kepada ajakan dan janji siapa hatinya itu condong.” (Tafsir as-Sa’di: 118)

4.    Firman Allah “Wallahu waasi’un ‘alim (Allah Maha Luas Karunia-Nya dan Maha Mengetahui)” pada kalimat ini Alla menguatakan janji-janji-Nya pada setiap yang mengaku muslim, bahwa karunia-Nya sangatlah luas jika kita taat, tunduk dan patuh serta menerima denga lapang dada segala janji yang ada pada syariat-Nya. Allah mengetahui semua itu, dan kita tidak mengetahui setiap hikmah dibalik syariatnya yang kita kita pikir sebagai keburukan itu. Allah berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)


Wallahu a’lam bishshowab.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar