Jumat, 08 April 2016

Benarkah Kisah Umar Mengubur Hidup-Hidup Anak Perempuannya Saat Masa Jahiliyyah?



Pertanyaan:

Saya ingin bertanya mengenai kebenaran kisah Umar radhiyallahu ‘anhu mengubur hidup-hidup anak perempuannya. Berikanlah kami faidah, semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan surga dan memberikan manfaat kepada umat dengan ilmu kalian.

Jawaban:

Segala puji bagi Allah.

Kita bisa memastikan ketidak benaran kisah ini, yaitu kisah Umar mengubur anak perempuannya dalam keadaan hidup-hidup di masa jahiliyahnya dari beberapa sebab:

1.       Kisah ini tidak disebutkan dalam Kutub as-Sunnah (kitab-kitab sunnah), hadits, kitab-kitab atsar dan tidak pula pada kitab-kitab sejarah. Kisah ini tidak diketahui rujukan asalnya kecuali apa-apa yang disebutkan secara dusta oleh kaum rafidhah (syiah) yang amat dengki, tanpa dalil dan hujjah.

2.       Jika seandainya menguburkan anak perempuan dalam keadaan hidup-hidup telah tersebar dan menjadi adat dikalangan Bani Adi, maka bagaimana Hafshah radhiyallahu ‘anha yang merupakan anak perempuan Umar Ibnu al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, tatkala dilahirkan pada masa jahiliyyah, sementara ia lahir lima tahun sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? Tidak diragukan, ini menjadi dalil bahwasanya menguburkan anak perempuan hidup-hidup bukan merupakan kebiasan Umar Ibnu al-Khattab radhiyallahu ‘anhu di masa jahiliyah. Lihat biografi Ummul Mu’minin Hafshah radhiyallahu ‘anha  dalam “al-Ishabah” karya al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (7/582).


3.       Kita mengetahui adanya dalil yang menunjukkan bahwasanya Umar Ibnu al-Khattab radhiyallahu ‘anhu tidak mengubur anak perempuannya hidup-hidup, yaitu satu riwayat yang diriwayatkan dari sahabat Nu’man Ibnu Basyir radhiyallahu ‘anhu dimana dia berkata:

“Aku mendengar Umar Ibnu al-Khattab berkata ketika ditanyakan tentang firman Allah azza wajalla:  “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya (QS. At-Takwir: 8).”

Dia berkata: “Qais Ibnu Ashim datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata:  “Sesungguhnya aku mengubur delapan anak perempuanku hidup-hidup di masa Jahiliyah.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bebaskan budak untuk setiap anak perempuanmu yang engkau kubur hidup-hidup itu.”

Qais Ibnu Ashim berkata: “Aku memiliki unta.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika engkau mau, maka hadiahkanlah seekor badanah (unta yang digemukkan) kepada orang lain untuk tiap anak yang engkau kuburkan.” (HR. al-Bazzar: 1/60, diriwayatkan pula ole hath-Thabarani dalam Mu’jam al-Kabir : 18/337. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah berkata: “Periwayat-periwayat hadits dari jalur imam al-Bazzar adalah para periwayat yang shahih selain Husain Ibnu Mahdi al-Ayali. Dia adalah seorang yang tsiqah (jujur dan terpecaya). (Mujma’ az-Zawaid: 7/283) Dishahihkan juga oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah : 3298

Hadits ini, yang merupakan riwayat dari Umar Ibnu al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, menunjukkan disyariatkannya kaffarah bagi orang-orang yang telah mengubur anak perempuannya hidup-hidup di masa jahiliyyah. Sementara Umar tidak menyebutkan tentang dirinya pada masalah itu, dia hanya meriwayatkan apa yang terjadi pada Qais Ibnu Ashim. Hal ini menjadi dalil bahwa Umar tidak mengubur anak perempuannya hidup-hidup, sebagaimana berita dusta yang tersebar yang dinisbatkan kepada dirinya.

4.       Kemudian, jikalaupun kisah itu benar, maka kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa jahiliyah adalah sesuatu yang telah dimaafkan. Masuknya seseorang dalam agama islam menghapuskan kesalahan-kesalahan yang dilakukan seseorang di masa lalunya. Jika Allah azza wajalla mengampuni dosa syirik dan dosa penyembahan terhadap berhala, dimana hal itu terjadi pada banyak sahabat Nabi, maka bagaimana dengan dosa mengubur anak perempuan yang dosanya tidak lebih besar dari berbuat kesyirikan?

Dr Abdussalaam Ibnu Muhsin Alu Isa berkata:

“Adapun Umar, telah disebutkan bahwasanya dia telah mengubur anak perempuannya hidup-hidup di masa jahiliyah. Saya tidak mendapatkan periwayat kisah ini setelah menelaah kitab-kitab rujukan. Akan tetapi, aku mendapatkan Prof Abbas Mahmud memberikan petunjuk dalam kitabnya Abqariyatu Umar: 221.

Beliau berkata:

“Ringkasnya, ketika beliau (Umar) sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya, tiba-tiba dia tertawa sedikit lalu kemudian ia menangis. Maka orang-orang yang hadir saat itu bertanya kepadanya. Dia berkata, “Kami dahulu ketika di masa jahiliyah membuat berhala dari ajwah (sejenis makanan dari kurma) lalu kami menyembahnya. Namun ketika kami lapar, kami memakannya, inilah sebab aku tertawa. Adapun tangisanku, karena dahulu aku memiliki seorang anak, lalu muncul keinginannku untuk menguburkannya hidup-hidup. Sehingga aku membawanya, lalu membuatkan lubang untuknya, hingga debu-debu jatuh dari janggutku. Lalu aku menguburnya hidup-hidup.

Orang-orang yang berakal merasa ragu dengan kebenaran kisah ini, sebab mengubur anak perempuan hidup-hidup bukanlah menjadi kebiasaan orang-orang Arab, demikian pula perbuatan ini tidak masyhur dikalangan Bani Adi, tidak pula pada keluarga al-Khattab (ayah Umar) dimana Fathimah saudara perempuan Umar hidup dalam naungan keluarganya, juga Hafshah anak wanitanya yang paling tua, dan Umar berkuniyah dengan namanya, yaitu Abu Hafsh. Hafshah juga lahir lima tahun sebelum diutusnya Nabi dan dia tidak menguburnya hidup-hidup. Lalu mengapa dia menguburkan anak perempuannya yang lebih kecil yang dituduhkan itu?

Mengapa kabarnya terputus, tidak disebutkan oleh saudara-saudaranya baik yang laki-laki maupun yang perempuan, bahkan tidak satupun dari bibi-bibinya, baik bibi dari kalangan ibu ataupun bapaknya?

Wallahu a’lam.

Sumber:

Web Fatwa al-Islam Sual Wa Jawab
https://islamqa.info/ar/132437

Penerjemah: Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar