Sabtu, 30 April 2016

Tanggapan Ilmiyah Atas Tulisan Sofyan Chalid Rurai Mengapa Saya Keluar Dari Wahdah Islamiyah Bagian 2


Diantara ciri keimanan seseorang adalah mencintai saudaranya yang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa tidak sempurna keimanan seseorang hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

Begitulah muslim, kecintaannya tidak hanya ketika mereka duduk bersama dalam satu pandangan yang sama. Akan tetapi, cinta itu juga terpatri manakala salah seorang diantara mereka ada yang terjatuh pada satu kesalahan, lalu wujud cinta itu diaplikasikan kepada saudara yang terjatuh pada kesalahan dengan menasehatinya.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan pertama akan tanggapan terhadap al-akh Sofyan Chalid Rurai dan sebagai nasehat kepada kaum muslimin yang tertipu manhajnya yang tidak jelas. Kami katakan tidak jelas, karena serampangan dalam menghukumi. Pada tulisan awal telah kami jelaskan sebagian keserampangan itu, dan pada tulisan kali ini kami akan memperlihatkan beberapa keserampangan lain yang dia lakukan.

Al- Akh Al-akh Sofyan berkata:

Kedua : Muwazanah (Menyebutkan penyimpangan seseorang bersamaan dengan kebaikannya)

Adapun tentang keharusan muwazanah, terkadang dalam ceramah asatidzah WI tidak dengan terang-terangan mengatakan keharusan muwazanah, seperti dengan mengistilahkan tawazun, atau dengan ungkapan Ust. Yusron dalam salah satu kaset ceramahnya, ketika ia menjelaskan firman Allah -Ta’ala- tentang adanya Ahli Kitab yang berkhianat dan ada pula yang amanah. Di situ Ust. Yusron mengatakan, “Ayat ini merupakan dalil, terserah mau dinamakan muwazanah atau apa”.

Dalam kaset berjudul Muhasabah, Ust. Yusron mengatakan, “Kalau hanya perkara muwazanah ini yang menjadi sebab permusuhan WI dengan Salafy, maka kami siap meninggalkan muwazanah, tapi tidak dalam prakteknya”. Saya kutip secara makna, silahkan merujuk langsung ke kaset-kaset tersebut.

Secara tersirat ia mengharuskan muwazanah dengan istilah apapun. Ini membantah persangkaan sebagian orang bahwa asatidzah WI tidak mengharuskan muwazanah. Ini dikuatkan oleh perkataan Hasan Bugis yang diterjemahkan oleh Ust. Rahmat Abdurrahman, Lc ketika dauroh di Kalimantan dan telah dibantah oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari –jazahullahu khoiron-.

Tanggapan:

Muwazanah, sebagaimana yang dia dan kawan-kawannya istilahkan yaitu menyebutkan kebaikan seorang muslim walau orang tersebut memiliki penyimpangan, hakikatnya perbuatan ini merupakan perbuatan inshaf yang adil dan dipraktekkan oleh para ulama sunnah, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz, Syaikh al-Albani, Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahumuhullah,  dan ulama-ulama lainnya.

Bahkan praktek yang dilakukan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah akan masalah ini di nukil sendiri oleh al-akh Sofyan pada akhir tulisannya pada bagian kedua ini, hanya saja dia tidak memahami perkataan beliau yang dinukilnya tersebut. Sebab dia meletakkan perkataan ini bukan pada masalah muwazanah. Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang dia nukil yaitu:

وَإِذَا اجْتَمَعَ فِي الرَّجُلِ الْوَاحِدِ خَيْرٌ وَشَرٌّ وَفُجُورٌ وَطَاعَةٌ وَمَعْصِيَةٌ وَسُنَّةٌ وَبِدْعَةٌ : اسْتَحَقَّ مِنْ الْمُوَالَاةِ وَالثَّوَابِ بِقَدْرِ مَا فِيهِ مِنْ الْخَيْرِ وَاسْتَحَقَّ مِنْ الْمُعَادَاتِ وَالْعِقَابِ بِحَسَبِ مَا فِيهِ مِنْ الشَّرِّ فَيَجْتَمِعُ فِي الشَّخْصِ الْوَاحِدِ مُوجِبَاتُ الْإِكْرَامِ وَالْإِهَانَةِ فَيَجْتَمِعُ لَهُ مِنْ هَذَا وَهَذَا كَاللِّصِّ الْفَقِيرِ تُقْطَعُ يَدُهُ لِسَرِقَتِهِ وَيُعْطَى مِنْ بَيْتِ الْمَالِ مَا يَكْفِيهِ لِحَاجَتِهِ . هَذَا هُوَ الْأَصْلُ الَّذِي اتَّفَقَ عَلَيْهِ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَخَالَفَهُمْ الْخَوَارِجُ وَالْمُعْتَزِلَةُ وَمَنْ وَافَقَهُمْ عَلَيْهِ

“Apabila terkumpul pada diri seseorang kebaikan dan keburukan, kemaksiatan dan ketaatan, sunnah dan bid’ah, maka ia berhak mendapatkan wala` (loyalitas dan kecintaan) dan ganjaran sebatas kebaikan yang ada padanya, dan berhak menerima bara` dan hukuman sebatas keburukan atau kejahatan yang ada padanya.

Demikianlah apabila terkumpul pada diri seseorang penyebab kemuliaan, dan kehinaan, maka dia mendapatkan sesuai kadar kemuliaan dan kehinaannya. Seperti seorang fakir yang mencuri, harus dipotong tangannya sebagai hukuman, namun dia tetap disantuni dengan menerima bagian dari baitul mal untuk mencukupi kebutuhannya. Maka inilah salah satu prinsip pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah yang berbeda dengan Khawarij, Mu’tazilah dan yang mengikuti jalan mereka." [Lihat Majmu’ Fatawa (28/209)]

Sebenarnya jika dia memahami perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di atas, niscaya dia tidak akan menyesatkan perbuatan inshaf ini. Sayangnya pula al-akh Sofyan memotong perkataan Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah rahimahullah ini, dan tidak mengambil sampai akhir. Padahal bagian tersebut merupakan sesuatu yang penting, yang memperlihatkan bahwa beliau tetap menyebutkan kebaikan orang lain, walau orang tersebut memiliki kesalahan. Semoga bukan untuk mengelabui umat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

فَلَمْ يَجْعَلُوا النَّاسَ لَا مُسْتَحِقًّا لِلثَّوَابِ فَقَطْ وَلَا مُسْتَحِقًّا لِلْعِقَابِ فَقَط

“Mereka (Khawarij, Mu’tazilah dan yang mengikuti mereka itu) tidak manjadikan pada diri manusia (apa yang sesuai dengan hak-hak mereka-pent), tidak akan haknya  untuk mendapatkan tsawab (pahala) saja, dan tidak pula akan haknya untuk mendapatkan hukuman saja.” [Lihat Majmu’ Fatawa (28/209)]

Ini merupakan perkataan mulia yang sangat bijak dari seorang ulama rabbani yang menjadi panutan. Beliau tidak menafikan hak-hak seorang muslim, bahwa perkataan mereka tetap diterima dan disebutkan selama mengandung kebenaran, dan juga berhak mendapatkan hukuman atas kesalahan mereka. Dan seperti inilah yang dipraktekkan oleh beliau dan ulama salafi yang lainnya.

Contoh praktek yang dilakukan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam masalah muwazanah (menyebutkan kebaikan dan kesalahan seorang muslim yang memiliki penyimpangan), misalnya beliau pernah memuji Abu al-Hasan al-Asy’ari, seorang yang banyak menyelisihinya dalam masalah tauhid asma wa sifat dan berbagai amalan yang dianggap oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagai amalan bid’ah, beliau berkata:

وَلِهَذَا يَكْثُرُ فِي الْأُمَّةِ مِنْ أَئِمَّةِ الْأُمَرَاءِ وَغَيْرِهِمْ مَنْ يَجْتَمِعُ فِيهِ الْأَمْرَانِ , فَبَعْضُ النَّاسِ يَقْتَصِرُ عَلَى ذِكْرِ مَحَاسِنِهِ وَمَدْحِهِ , غُلُوًّا وَهَوًى , وَبَعْضُهُمْ يَقْتَصِرُ عَلَى ذِكْرِ مَسَاوِيهِ غُلُوًّا وَهَوًى , وَدِينُ اللَّهِ بَيْنَ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ , وَخِيَارُ الْأُمُورِ أَوْسَطُهَا . وَلَا رَيْبَ أَنَّ لِلْأَشْعَرِيِّ فِي الرَّدِّ عَلَى أَهْلِ الْبِدَعِ كَلَامًا حَسَنًا هُوَ مِنْ الْكَلَامِ الْمَقْبُولِ الَّذِي يُحْمَدُ قَائِلُهُ إذَا أَخْلَصَ فِيهِ النِّيَّةَ , وَلَهُ أَيْضًا كَلَامٌ خَالَفَ بِهِ بَعْضَ السُّنَّةِ هُوَ مِنْ الْكَلَامِ الْمَرْدُودِ الَّذِي يُذَمُّ بِهِ قَائِلُهُ إذَا أَصَرَّ عَلَيْهِ بَعْدَ قِيَامِ الْحُجَّةِ , وَإِنْ كَانَ الْكَلَامُ الْحَسَنُ لَمْ يُخْلِصْ فِيهِ النِّيَّةَ , وَالْكَلَامُ السَّيِّئُ كَانَ صَاحِبُهُ مُجْتَهِدًا مُخْطِئًا مَغْفُورًا لَهُ خَطَؤُهُ لَمْ يَكُنْ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَدْحٌ وَلَا ذَمٌّ , بَلْ يُحْمَدُ نَفْسُ الْكَلَامِ الْمَقْبُولِ الْمُوَافِقِ لِلسُّنَّةِ وَيُذَمُّ الْكَلَامُ الْمُخَالِفُ لِلسُّنَّةِ , وَإِنَّمَا الْمَقْصُودُ أَنَّ الْأَئِمَّةَ الْمَرْجُوعَ إلَيْهِمْ فِي الدِّينِ مُخَالِفُونَ لِلْأَشْعَرِيِّ فِي مَسْأَلَةِ الْكَلَامِ , وَإِنْ كَانُوا مَعَ ذَلِكَ مُعَظِّمِينَ لَهُ فِي أُمُورٍ أُخْرَى وَنَاهِينَ عَنْ لَعْنِهِ وَتَكْفِيرِهِ , وَمَادِحِينَ لَهُ بِمَا لَهُ مِنْ الْمَحَاسِنِ
­
“Oleh karena itu, kebanyakan para imam dari pemimipin-pemimpin ummat ini dan selain mereka terdapat pada diri merea dua sifat (sifat yang baik dan buruk). Diantara manusia ada yang mencukupkan diri hanya dengan menyebut kebaikan-kebaikannya dan memujinya, yang merupakan bentuk ghuluw (perbuatan belebih-lebihan) dan mengikuti hawa nafsunya. Diantara mereka pula ada yang hanya mencukupkan diri dengan menyebut keburukan-keburukannya, yang juga merupakan bentuk ghuluw dan mengikuti hawa nafsunya. Dan agama Allah mengajarkan agar mansuia bersifat pertengahan yaitu tidak sifat ghuluw dan juga tidak bersifat kasar (merendah-rendahkan-pent) terhadap mereka. sesungguhnya sebaik-baik perkara adalah yang paling pertengahan.

Dan tidak diragukan bahwa pada imam al-Asy’ari terdapat perkataannya yang baik dalam membantah orang-orang yang ahli bid’ah. Dan hal itu merupakan perkataan yang diterima, dimana pelakunya dipuji jika ia mengikhlaskan niatnya. Juga terdapat beberapa perkataannya yang menyelisihi sunnah, yang tertolak dimana pelakunya tercela jika ia tetap berbuat seperti itu setelah melakukan iqamatul hujjah (hujjah yang benar telah disampaikan padanya). Walaupun ada pada perkataannya yang baik yang tidak mengikhlaskan niatnya dan pada perkataannya yang buruk, maka sesungguhnya pemilik perkataan (Imam al-Asy’ari) adalah seorang mujtahid, yang dimaafkan pada kesalahannya, tidak terdapat pada satu dari keduanya pujian atau celaan. Justru perkataannya yang sesuai sunnah adalah perkataan yang diterima dan terpuji dan perkataannya yang menyelishi sunnah adalah perkataan yang dicela. Hanya saja maksudnya adalah para imam yang dijadikan oleh manusia untuk selalu kembali pada mereka pada masalah agama ini, yang menyelisihi imam al-Asy’ari pada permasalahan kalam tetap mengagungkan dia pada permasalahan ilmu agam yang lain walau terdapat perbedaan itu. Dan mereka melarang untuk melaknat dan mengkafirkannya justru tetap memujinya pada kebaikan-kebaikannya. (Iqamatu ad-Dalil ‘Ala Ibthalu at-Tahlil: 4/170 dan al-Fatwa al-Kubra: 6/662)

Contoh yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah saat membolehkan mengambil perkataan Sayyid Quthb rahimahullah, yang oleh al-akh Sofyan dan kawan-kawannya dicela habis-habisan. Seolah tidak ada kebaikan pada dirinya sedikitpun. Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata:

“Semoga Allah memberi keberkahan kepadamu. Saya tidak ingin melihat perselisihan dikalangan pemuda-pemuda muslim pada ketokohan seseorang, bukan pada Sayyid Quthb, bukan pula selain dirinya, akan tetapi niza’ (perselisihan) pada hukum syar’i. Misalnya, kita menolak perkataan Sayyid Quthb atau selain dirinya, apakah perkataanya adalah kebenaran atau kebatilan? Maka hendaknya kita mengujinya. Jika perkataannya benar, maka kita terima dan jika perkataannya salah maka perkataanya kita tolak. Adapun jika perselisihan antara kaum muslimin karena seseorang yang mereka kagumi, maka ini adalah ghalath (kekeliruan) dan kesalahan yang sangat besar.

Sayyid Quthb bukanlah seorang yang maksum, para ulama yang keilmuannya berada diatasnya juga bukanlah orang-orang yang maksum, begitupula para ulama yang keilmuannya berada dibawahnya bukanlah orang-orang yang maksum. Maka semua orang ada yang perkataannya diterima dan adapula yang ditolak kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka saya melarang setiap pemuda muslim berselisih karena ketokohan seseorang, siapapun dia. Karena jika seandainya perselisihan terjadi dalam ranah seperti ini, maka boleh jadi seseorang akan menjadikan suatu perkara sebagai kebatilan padahal hal itu adalah kebenaran yang telah dikatakan oleh tokoh tersebut, atau mungkin dia menolong perkataan yang batil yang dikatakan oleh tokoh tersebut. Ini merupakan perkara yang sangat berbahaya. Karena apabila seseorang telah ta’ashshub (fanatik) pada seorang tokoh dan lawannya ta’ashshub pada tokoh yang lain, maka dia akan mengatakan sesuatu apa yang tidak dikatakan oleh tokoh tersebut, atau menta’wilkan perkataannya, atau selain itu. Dan boleh jadi, dia mengingkari apa yang dikatakannya, atau mengarahkan perkataannya pada kebatilan.

Maka aku katakan, hendaknya kita tidak berbicara pada ketokohan seseorang, dan juga tidak ta’ashshub pada ketokohan seseorang. Sayyid Quthb sekarang telah berpindah dari dunia yang merupakan tempat untuk beramal ke alam yang setiap orang akan mendapatkan ganjaran dari amalannya. Dan Allah lah yang menghitungnya. Begitupula keadaannya terhadap para ulama yang lain. Adapun kebenaran, maka dari siapa saja kita terima, baik itu datangnya dari Sayyid Quthb atau selain Sayyid Quthb. Dan kebatilan wajib untuk ditolak, baik itu datangnya dari Sayyid Quthb atau dari selainnya. Dan merupakan suatu kewajiban memperingatkan manusia akan kebatilan yang dituliskannya, atau diperdengarkannya. Dari siapapun orangnya. Inilah nasehatku untuk saudara-saudaraku. Tidak boleh peselisihan hanya karena menolak ketokohannya atau menerima ketokohannya.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah juga demikian, memuji kitab Sayyid Quthb sebagai kitab yang memberikan manfaat yang sangat banyak walau dari kitab mereka tidak lepas dari kesalahan-kesalahan. Beliau juga memuji bahwa Sayyid Quthb dan orang-orang semisanya telah berijtihad untuk kebaikan dan berdakwah pada kebaikan, dan bersabar atas kseuslitan-kesulitan di jalan itu.  Lihatlah betapa indahnya perkataan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah di web resmi beliau: (http://www.binbaz.org.sa/node/10678).

Apakah dia dan kawan-kawannya hanya menutup mata terhadap semua hal-hal yang mereka cela ini, dimana para ulama juga menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka? Bukankah perbuatan para ulama ini merupakan perbuatan menyebut kebaikan-kebaikan seseorang setelah menyebutkan penyimpangannya???? Jika bukan seperti itu, maka mereka anggap apa ini????

Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah rahimahullah berkata:

وَإِنَّهُ كَثِيرًا مَا يَجْتَمِعُ فِي الْفِعْلِ الْوَاحِدِ أَوْ فِي الشَّخْصِ الْوَاحِدِ الْأَمْرَانِ فَالذَّمُّ وَالنَّهْيُ وَالْعِقَابُ قَدْ يَتَوَجَّهُ إلَى مَا تَضَمَّنَهُ أَحَدُهُمَا فَلَا يَغْفُلُ عَمَّا فِيهِ مِنْ النَّوْعِ الْآخَرِ كَمَا يَتَوَجَّهُ الْمَدْحُ وَالْأَمْرُ وَالثَّوَابُ إلَى مَا تَضَمَّنَهُ أَحَدُهُمَا فَلَا يَغْفُلُ عَمَّا فِيهِ مِنْ النَّوْعِ الْآخَرِ وَقَدْ يُمْدَحُ الرَّجُلُ بِتَرْكِ بَعْضِ السَّيِّئَاتِ الْبِدْعِيَّةِ والفجورية لَكِنْ قَدْ يُسْلَبُ مَعَ ذَلِكَ مَا حُمِدَ بِهِ غَيْرُهُ عَلَى فِعْلِ بَعْضِ الْحَسَنَاتِ السُّنِّيَّةِ الْبَرِّيَّةِ . فَهَذَا طَرِيقُ الْمُوَازَنَةِ وَالْمُعَادَلَةِ وَمَنْ سَلَكَهُ كَانَ قَائِمًا بِالْقِسْطِ الَّذِي أَنْزَلَ اللَّهُ لَهُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَان

“Sesungguhnya kebanyakan terkumpul pada satu perbuatan atau pada diri seseoarang dua perkara (baik dan buruk). Celaan, larangan dan hukuman, hal ini kadang terarah pada pelakunya jika melakukan salah satu dari dua perkara itu, maka jangan sampai dia lalai dari jenis yang lainnya. Sebagaimana pujian, perintah dan ganjaran akan terarah kepadanya jika melakukan salah satu dari dua perkara itu. Maka jangan pula dia lalai dari jenis yang lainnya. Seseorang dipuji jika dia meninggalkan dosa-dosa, bid’ah dan keburukan. Akan tetapi terkadang apa yang telah dipuji oleh orang lain kepadanya itu, bisa dicabut karena melakukan keburukan. Inilah jalan muwazanah dan keadilan, siapa yang menapakinya, maka dia telah menegakkan keadilan dengan apa yang telah Allah turunkan kepadanya berupa kitab dan mizan. (Majmu al-Fatawa: 10/366)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata:

والله قد أمرنا ألا نقول عليه إلا الحق وألا نقول عليه إلا بعلم وأمرنا بالعدل والقسط فلا يجوز لنا إذا قال يهودي أو نصراني فضلا عن الرافضي قولا فيه حق أن نتركه أو نرده كله بل لا نرد إلا ما فيه من الباطل دون ما فيه من الحق

“Allah azza wajalla telah memerintahkan kepada kita agar tidak berkata kecuali dengan kebenaran, tidak berbicara kecuali dengan ilmu dan memerintahkan kepada kita untuk berbuat adil. Maka jika orang-orang Yahudi atau orang-orang Nashrani utamanya lagi orang-orang Rafidhah telah berbicara dengan perkataan yang haq, tidak boleh bagi kita meninggalkan perkataan mereka atau menolaknya secara keseluruhan. Bahkan kita menolak perkataan itu jika mengandung kebatilan tanpa menolak perkataan yang mengandung kebenaran.” (Minhaju Sunnah an-Nabawiyyah: 2/199)

Kemudian beliau berkata lagi:

ولهذا جعل هذا الكتاب منهاج أهل السنة النبوية في نقض كلام الشيع والقدرية فإن كثيرا من المنتسبين إلى السنة ردوا ما تقوله المعتزلة والرافضة وغيرهم من أهل البدع بكلام فيه أيضا بدعة وباطل

“Oleh karena itu kitab Minhaj Sunnah an-Nabawiyyah ini ditulis untuk membatalkan perkatan Syiah dan Qadariyyah, sebab banyak orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada ahlusunnah menolak apa yang dikatakan oleh kelompok Mu’tazilah, Rafidhah dan selain mereka, dengan perkataan yang juga merupakan bid’ah dan kebatilan.” (Minhaj Sunnah An-Nabawiyyah: 2/199)

Adapun kasus-kasus mereka sangat berbeda dengan ulama selama ini, misalnya saja pada sayyid Quthb rahimahullah, ia dicela habis-habisan sampai tidak ada lagi kebaikan yang boleh disebutkan. Sampai-sampai guru al-akh Sofyan sebagai editor tulisan pertamanya, ketika mengomentari perkataan ust Bahrun Nida hafizhahullah yang mengatakan, “Andaikata manusia mendekatkan diri kepada Allah dengan mencela Sayyid Quthub, maka aku mendekatkan diri kepada-Nya dengan membelanya,” guru Al-akh Sofyan mengatakan, “Seakan Sayyid adalah seorang nabi yang tak pernah salah, sehingga harus dibela dalam segala kondisi. Padahal setiap orang –selain nabi- boleh jadi terjatuh dalam kesalahan. Karenanya, Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy, Syaikh bin Baaz, Syaikh Al-Albaniy, Syaikh Al-Utsaimin, Syaikh An-Najmiy, Syaikh Robi’, dan ulama lainnya telah memberikan pengingkaran terhadap kesalahan dan penyimpangan Sayyid Quthub dalam kitab-kitab dan ceramah mereka. [ed].

Dia dan kawan-kawannya menutup mata dan tidak mau menukil kalau Syaikh al-Bani, Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Ibnu Qu’ud, Syaikh Abdurrahman al-Jibrin, Syaikh Hamud Ibnu Uqala asy-Syua’aibi dan Syaikh al-Fauzan menghormati keilmuannya dan membela kebenaran yang ada pada dirinya, bahkan menyuruh untuk mengambil kebenaran yang ada pada dirinya.

Kasus serupa juga pernah terjadi kepada Dr. Zakir Naik hafizhahullah, dimana orang-orang yang tidak mau bermuwazanah seperti mereka ini mencela habis-habisan Dr. Zakir Naik hafizhahullah. Dia dituduh sebagai tukang fitnah, dan lain sebagainya, padahal mereka belum pernah bertanya langsung pada Dr. Zakir Naik bahkan tidak mengerti bahasanya. Wallahul Musta’an.

Saya selalu teringat dengan perkataan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah sangat cocok dengan watak mereka. Beliau rahimhullah berkata:

 ومن الناس من طبعه طبع خنزير يمر بالطيبات فلا يلوى عليها فإذا قام الإنسان عن رجيعه قمه وهكذا كثير من الناس يسمع منك ويرى من المحاسن أضعاف أضعاف المساوىء فلا يحفظها ولا ينقلها ولا تناسبه فإذا رأى سقطة أو كلمة عوراء وجد بغيته وما يناسبها فجعلها فاكهته ونقله

“Diantara manusia ada yang tabiatnya seperti tabiat babi. Seekor babi jika melewati sesuatu yang baik-baik maka ia tidak memiliki hajat padanya, akan tetapi apabila ada seorang manusia yang selesai buang kotorannya, maka babi itu akan mendatanginya dan melahap habis kotoran tersebut. Seperti itulah tabiat kebanyakan manusia. Mereka mendengar dan melihat kebaikanmu berlipat-lipat dari kesalahanmu akan tetapi kebaikan itu tidak mereka hafalkan, tidak menukilnya dan tidak pula cocok dengannya. Tapi jika melihat ketergelinciran atau ucapan yang cacat maka ia telah mendapatkan yang dicarinya, dan dijadikannya sebagai buah santapan kemudian ia sebarkan.” (lihat madariju as-salikin: 1/403.)

Wahai saudaraku, berbuat adillah terhadap saudaramu, karena itu merupakan ajaran islam yang benar. Allah azza wajalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (٨)

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

لا يحملنكم بُغْض قوم على ترك العدل فيهم، بل استعملوا العدل في كل أحد، صديقا كان أو عدوًا؛ ولهذا قال: { اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى } أي: عَدْلُكم أقرب إلى التقوى من تركه

“Janganlah sekali-kali kebencian terhadap sautu kaum menjadikan kalian meninggalkan keadilan terhadap mereka, justru berbuat adillah pada setiap orang, baik itu sahabatmu ataupun musuh-musuhmu. Oleh karena itu Allah berfirman, “Berbuat adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” maksudnya, keadilan kalian sangat dekat kepada takwa dari meninggalkannya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 2/29)

Ibnu Katsir rahimahullah juga berkata:

لا يحملنكم بغض قوم على ترك العدل، فإن العدل واجب على كل أحد، في كل أحد في كل حال

“Janganlah karena kebencian terhadap suatu kaum membuat kalian meninggalkan keadilan. Sesungguhnya berlaku adil adalah sesuatu yang wajib ada pada setiap orang, dilakukan pada setiap orang dan pada setiap keadaan.” (Tafsir Ibnu Katsir: 2/7)

Selama  ini, kebencian mereka kepada saudaranya tidak hanya menghilangkan sikap adil, namun juga menghalalkan kedustaan-kedustaan lainnya. Misalnya menuduh Wahdah terlibat jaringan teroris. Hal ini disebutkan oleh salah satu web mereka yang sampai detik ini tidak di hapus, lebih-lebih di klarifikasi. Tuduhan ini juga pernah disebutkan oleh gurunya Ust. Dzulkarnain saat tabligh akbar di Sidrap. Padahal Metro Tv yang tidak pernah mengaku sebagai salafy yang menuduh Wahdah juga sebagai teroris meminta maaf kepada Wahdah dan mengklarifikasinya secara live di Metro Tv dengan mendatangkan Ust. Zaitun Rasmin hafizhahullah selaku pimpinan umum Wahdah Islamiyah.

Pertanyaannya, siapa yang lebih salafy, metro Tv atau mereka??? Metro Tv berani mengklarifikasi tuduhan mereka dan meminta maaf dari tuduhan itu, sedangkan mereka sampai detik ini terus menebar kedustaan lewat situsnya. Mereka inikah yang disebut salafy??? Kalla!!! Wa alfu Kalla. Inilah contoh manhaj yang tidak jelas.

Al-akh Sofyan berkata:

Ketiga : Terjun dalam Politik Demokrasi

Hal ini terbukti pada pemilu 2004 di TPS dekat kampus STIBA, bahwa PKS mendapat suara yang cukup signifikan, sehingga membuat masyarakat sekitar terheran-heran karena di daerah tersebut hampir tidak ada bendera PKS, karena yang mencoblos adalah para santri STIBA.

Diantara bentuk terjunnya mereka dalam politik demokrasi, ada seorang da’i WI menjadi caleg PBB pada Pemilu 2009. Sebagian diantara mereka ada yang menjadi tim sukses dalam sebuah pemilu.

Adapun bermajelis dengan para ahli bid’ah dalam seminar dan lainnya, maka perkara ini telah masyhur bagi semua orang. Ini semua merupakan bukti lemah nya manhaj wala’ dan baro’ mereka.

Tanggapan:

Telah kami katakan pada tulisan pertama, bahwa apabila seseorang memvonis kaum mu’minin sebagai orang atau kelompok sesat dan menyimpang pada perkara khilafiyyah, maka perbuatannaya adalah perbuatan yang sangat ghuluw, ekstrim dan jauh dari tuntunan para ulama rabbani yang bermanhaj salafiy. Bahkan perbuatan itu lebih kejam dari khawarij. Karena khawarij mengelurakan seorang muslim dari islam karena dosa besar, sedangkan mereka justru menyesatkan orang lain pada perkara khilafiyyah.

Ulama-ulama salafy tidak menyesatkan saudara mereka yang berbeda dengan mereka, pada perkara khilaf yang saigh. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:

إذا رأيت الرجل يعمل العمل الذي قد اختلف فيه وأنت ترى غيره فلا تنهه

“Jika engkau melihat seseorang yang beramal dengan amalan yang diperselisihkan hukukmnya (ikhtilaf), sementara engkau berpandangan dengan pandangan yang berbeda dengannya, maka jangan engkau melarangnya.” (al-Faqih Wal-Mutafaqqih : 2/355)

Yahya Ibnu Sa’id al-Anshari rahimahullah berkata:

ما برح أولو الفتوى يفتون فيحل هذا ويحرم هذا، فلا يرى المحل أن المحرم هلك لتحريمه، ولا يرى المحرم أن المحل هلك لتحليله

“Para ahli fatwa senantiasa berfatwa, lalu mereka menghalalkan ini sedangkan yang lain mengharamkan itu. Seorang yang menghalalkan perkara itu tidak berpandangan bahwa orang yang mengharamkannya akan binasa disebabkan fatwa pengharamannya, dan orang yang berfatwa akan keharamannya tidak berpandangan bahwa seorang yang menghalalkannya akan binasa disebabkan fatwa penghalalannya.”  (Laa Inkaara Fii Masaail al-Khilaf: 134 )

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وأما إذا لم يكن في المسألة سنة ولا إجماع وللاجتهاد فيها مساغ فلا ينكر على من عمل بها مجتهدًا أو مقلدًا

“Adapun jika dalam masalah yang diperselisihkan tidak ada sunnah ataupun ijma’ padanya sementara pintu ijtihad dibolehkan, maka tidak boleh mengingkari seseorang yang berbuat dengannya, baik dia adalah seorang mujtahid ataupun yang hanya  sekedar muqallid.” (al-Muastadrak ‘Ala Majmu’ al-Fatawa : 3/206)

Beliau juga berkata:

مسائل الاجتهاد من عمل فيها بقول بعض العلماء لم ينكر عليه ولم يهجر ومن عمل بأحد القولين لم ينكر عليه وإذا كان فى المسألة قولان

“Masalah-masalah ijtihad, siapapun yang beramal dengannya, dengan menyandarkan apa yang mereka lakukan pada perkataan ulama, maka dia tidak boleh diingkari dan tidak boleh pula dihajr (diisolir). Dan siapa yang beramal dengan salah satu dari dua perkataan yang ada pada satu masalah itu, maka dia tidak diingkari jika terdapat dua perkataan dalam masalah tersebut.” (Majmu’ al-Fatawa: 20/207)

Berkata Imam an-Nawawi rahimahullah:

لَيْسَ لِلْمُفْتِي وَلَا لِلْقَاضِي أَنْ يَعْتَرِض عَلَى مَنْ خَالَفَهُ إِذَا لَمْ يُخَالِف نَصًّا أَوْ إِجْمَاعًا أَوْ قِيَاسًا جَلِيًّا

“Tidak boleh bagi seorang mufti ataupun seorang qadhi mencela orang yang menyelisihinya dalam satu masalah, jika pada masalah itu tidak ada nash atau ijma’ atau qiyas jaliy.” (Al-Minhaj : 1/131)

Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

وإذا رأيت من عالم خطأ فناقشه وتكلم معه، فإما أن يبتين لك أن الصواب معه فتتبعه أو يكون الصواب معك فيتبعك، أو لا يتبين الأمر ويكون الخلاف بينكما من الخلاف السائغ، وحينئذ يحب عليك الكف عنه وليقل هو ما يقول ولتقل أنت ما تقول

“Jika engkau melihat seorang alim yang salah, maka berdialoglah dan berbicaralah dengannya. Maka mungkin saja akan nampak bagimu bahwasanya kebenaran berada pada orang yang menyelisihimu itu atau kebenaran ada padamu sehingga dia mengikutimu, atau permasalahan itu tetap tidak terjelaskan, sehingga terjadi khilaf antara kalian berdua yang dibolehkan. Jika sudah seperti itu, maka wajib bagimu untuk berhenti darinya, sehingga dia beramal dengan apa yang dia katakan dan engkau beramal dengan apa yang engkau katakan.”  (Kitab al-Ilm : 267)

Mengenai hukum bolehnya ikut pemilu, sangat banyak fatwa para ulama dalam masalah ini. Tidak perlu kami menukilkannya satu persatu fatwa tersebut, karena sudah sangat banyak tersebar dan sangat masyhur masalah ini, seperti syaikh Ibnu Baz rahimahullah, Syaikh al-Utsaimin, Lajnah Daimah dan lainnya.

Makanya sangat aneh manhaj yang dipraktekkan oleh al-akh Sofyan dan kawan-kawannya. Mereka menyesatkan orang lain karena berpegang pada pendapat ulama, namun tidak berani menyesatkan ulama yang memfatwakan bolehnya ikut pemilu. Padahal orang-orang yang ikut dalam pemilu merupakan bentuk pengamalan fatwa-fatwa ulama yang membolehkannya.

Ketahuilah wahai saudaraku, perbuatan menyesatakan seperti ini merupakan perbuatan yang menyangkut kehormatan seorang muslim, maka berhati-hatilah. Sebenarnya apa yang kalian inginkan dari kegemaran kalian menyesatkan saudara kalian pada perkara-perkara khilafiyyah??

Contohlah syaikh al-Bani rahimahullah, ketika ada orang yang bertanya tentang Sayyid Quthb rahimahullah yang kalian cela habis-habisan dan bahkan ada yang ingin mengkafirkannya. Maka beliaupun membelanya, dengan berkata:

رأينا أنه رجل غير عالم وانتهى الأمر!! ماذا تريد- يعني- أكثر منهذا؟!! إن كنتَ تطمع أن نكفِّره، فلستُ من المكفّرين، ولا حتى أنتَ أيضاً من المكفّرين..
لكن ماذا تريد إذاً؟؟!! يكفي المسلم المنصف المتجرِّد أن يُعطي كل ذي حق حقه، وكما قال تعالى:\" ولا تبخسوا الناس أشياءهم ولا تعثوا في الأرض مفسدين\". الرجل كاتب، ومتحمس للإسلام الذي يفهمه، لكن الرجل أولاً ليس بعالم، وكتاباته (العدالة الاجتماعية) هي من أوائل تآليفه، ولما ألّف كان محض أديب، وليس بعالم

“Kami berpendapat bahwasanya ia bukanlah seorang alim, selesai perkara!! Apa yang engkau inginkan??? Apa yang engkau inginkan lebih banyak dari perkataan ini??!! Jika engkau rakus agar kami mengkafirkannya, maka ketahuilah aku bukanlah diantara orang-orang yang berpemahaman takfiri. Dan engkau juga bukanlah seorang yang berpemhaman takfiri.

Akan tetapi apa yang engkau inginkan kalau begitu? Cukuplah seorang muslim yang inshaf untuk menilai orang lain sesuai hak-hak mereka. Sebagaimana firman Allah ta’ala: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.”  Dia adalah seorang penulis, sangat bersemangat untuk memperjuangkan islam sesuai yang ia pahami. Tapi yang perlu ketahui bahwa ia bukanlah seorang alim. Dan tulisannya (al-Adalatu al-Ijtimaiyyah) merupakan karya-karya yang pertama ia tulis. Dan ketika ia menulisnya ia adalah seorang sastrawan dan bukan seorang alim.” (lihat di: https://www.youtube.com/watch?v=dWOroLzSAfo )

Wahai saudaraku, mengapa kalian tidak datang saja ke tempat kami berbicara secara baik-baik akan masalah khilaf diantara kita? Kita bisa saling menasehati dan saling berwasiat dengan didasari rasa cinta dan persaudaraan karena Allah. Membuat tulisan dan menyebarkannya di media sosial bukanlah tanasuh wahai saudaraku, justru bisa membuat masyarakat semakin bingung. Sebab kami akan menanggapi tuduhan-tuduhan yang kalian lemparkan kepada kami, yang kami anggap sebagai perbuatan yang menyelisihi para ulama. Bahkan orang-orang yang dangkal ilmunya akan sibuk menyebarkan perkataan-perkataan kalian dan juga kami, yang dimana mereka tidak tahu darimana kita mengambil dalil-dalil ini.

Justru lebih aneh lagi, ketika undangan dan ajakan untuk diskusi baik-baik itu kalian tolak dan menulis artikel dengan judul “Mengapa ustadz-ustadz Salafi tidak mau berdialog dengan Wahdah Islamiyah.” Tidak ada menfaat dari semua ini kecuali hanya sekedar mencari pembenaran diri dan mendoktrin manusia agar belajar hanya kepada kalian. Bukankah yang kalian praktekkan seperti ini cara ahli bid’ah??

Waki’ Ibnu Jarrah rahimahullah berkata:

إن أهل العلم يكتبون ما لهم وما عليهم وأهل الأهواء لا يكتبون إلا ما لهم

“Sesungguhnya para ulama mengambil ilmu dari orang-orang yang sejalan dengan mereka dan yang tidak sejalan dengan mereka. Adapun para pengekor hawa nafsu, mereka tidak akan menulis kecuali apa yang ada pada mereka saja.” (Ahadits fi Dzammi Ilmi al-Kalam: 2/188)


Jika kalian tetap dalam sikap angkuh dan gemar menyesatkan seperti itu, maka ketahuilah, sesungguhnya dakwah kami adalah dakwah yang dibangun atas cinta karena Allah. Dakwah kami adalah dakwah yang washatiyyah, yang akan membawa sejuta cinta untuk umat, dan akan memberi sejuta cinta untuk Indonesia. Dengan dakwah cinta ini, kami akan membangun peradaban islam yang gemilang dengan mempererat ukhuwah dan persatuan kaum muslimin.

Al-akh Sofyan berkata:

Keempat : al-Hizbiyyah

Syawahid-nya (buktinya) banyak sekali, diantaranya ungkapan sebagian orang WI, bahwa organisasi mereka adalah organisasi yang paling terbaik di dunia. Mereka juga senantiasa memunculkan nama WI hampir dalam setiap kegiatan mereka, seakan-akan hanya berdakwah menuju organisasi, dan bagaimana cara membesarkannya. Hal ini dengan mudah didapati dalam situs-situs resmi maupun blog-blog pribadi mereka. Dalam salah satu tingkatan dauroh mereka terdapat jadwal materi khusus membahas tentang perjalanan dakwah WI.

Demikian pula mereka sangat bangga dengan pujian-pujian tokoh maupun masyarakat kepada WI, diantaranya pujian-pujian beberapa tokoh kepada WI dan buku Sejarah WI terus menerus diiklankan dalam website resmi WI. Pujian-pujian ini membuat mereka lalai dari segala penyimpangan. Mereka telah tertipu dengan pujian-pujian semu yang membuat mereka bangga dengan apa yang mereka miliki.

Selain itu, hampir seluruh aktivitas dakwah kader-kader WI, dimana pun mereka berada, senantiasa menonjolkan label WI, sehingga orang-orang awam di kalangan mereka bisa langsung memiliki persepsi memang beda antara WI dan Salafy. WI mengajak kepada organisasi, sedang Salafy mengajak untuk berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah ala pemahaman sahabat.

Diantara perkara yang paling berbahaya adalah ketika al-wala’ wal bara’ yang terbangun diantara mereka –sadar atau tidak- bukan lagi di atas manhaj Salaf, tetapi atas dasar organisasi. Mereka lebih bisa bekerja sama dan lebih mencintai orang-orang yang seorganisasi dengan mereka dibanding orang-orang di luar WI, meskipun dari sisi ilmu dan iltizam kepada sunnah mungkin lebih baik dari mereka, padahal mestinya, setiap orang yang lebih berilmu dan lebih takwa kepada Allah -Ta’ala-, maka dia yang lebih kita cintai.

Sampai pada urusan pernikahan, mereka berusaha bagaimana agar Ikhwan dan Akhwat mereka hanya menikah dengan sesama mereka saja, tidak dari luar kalangan WI, tanpa mengecek dulu apakah orang yang dari luar WI yang hendak menikah dengan kadernya tersebut bermanhaj yang lurus atau tidak, hal ini benar-benar terjadi, hanya karena berhubungan dengan permasalahan pribadi , maka saya tidak menyebutkan nama-nama mereka.

Tanggapan:

Menanggapi penyataan al-akh Sofyan ini, akan kami tanggapi dengan beberapa point:

Pertama: Hukum membuat ormas islam di bolehkan oleh para ulama.

Syaikh al-Bani rahimahullah berkata:

“Setiap jam’iyyah (organisasi) yang dibentuk di atas dasar Islam yang benar yang mana hukum-hukumnya disimpulkan dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta berada di atas manhaj para Salafushshalih, setiap organisasi yang didirikan atas dasar ini maka tidak ada alasan untuk diingkari dan dituduh sebagai hizbiyyah, karena hal tersebut termasuk dalam firman Allah Ta’ala: “Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa…” Saling tolong menolong merupakan perkara yang syar’i dan wasilah (sarana)-nya kadang berbeda antara satu zaman dengan zaman lainnya dan antara satu tempat dengan tempat lainnya dan juga antara satu negara dengan negara lainnya. Oleh karena itu menebarkan tuduhan terhadap organisasi yang berdiri di atas dasar ini (al-Quran dan Sunnah) dengan label “Hizbiyyah” atau “Bid’iyyah”, maka ini adalah klaim yang tidak boleh seorang pun berpendapat dengannya sebab hal ini menyelisihi apa yang telah ditetapkan oleh para ulama berupa pembedaan antara bid’ah yang disifati dengan kesesatan secara umum dan sunnah hasanah. Sunnah hasanah merupakan suatu metode yang dibuat dan diadakan sebagai wasilah (sarana) yang bisa mengantarkan kaum muslimin pada suatu maksud/tujuan dan masyru’ secara nash. Jadi, organisasi-organisasi yang ada di zaman ini tidaklah berbeda dengan semua jenis sarana yang ada pada zaman ini yang bertujuan untuk mengantarkan kaum muslimin pada tujuan-tujuan syar’i. Dan apa yang ada dalam majelis kita ini berupa penggunaan alat rekam dengan ragam jenisnya, adalah bagian dari masalah ini (sarana yang dibolehkan -pent). Ia adalah wasilah yang dibuat baru, jika digunakan untuk mewujudkan tujuan yang syar’i, maka ia merupakan wasilah yang syar’i, dan jika digunakan untuk tujuan yang tidak syar’i, maka ia bukan wasilah yang syar’i. Demikian pula sarana transportasi yang beragam hari ini berupa mobil, pesawat dan selainnya, semuanya merupakan wasilah, jika digunakan untuk tujuan syar’i maka ia adalah wasilah yang syar’i, jika tidak maka ia bukan wasilah syar’i.” (Silsilah al-Huda wa an-Nur, kaset no. 590 atau silahkan lihat di web resmi beliau: http://www.alalbany.net/2030)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah juga berkata:

“Intinya, yang menjadi dhabith (prinsip dasar) adalah selama mereka (kelompok-kelompok islam) berada di atas kebenaran. Maka apabila seorang muslim atau jama’ah mengajak pada kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengajak pada tauhidullah serta mengikuti syariatnya maka mereka adalah al-Firqatu an-Najiyah. Adapun siapa saja yang mendakwahkan pada selain kitab Allah atau kepada selain Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka perkara seperti ini bukanlah ahlusunnah, melainkan kelompok sesat yang akan binasa. Sesungguhnya kelompok al-Firqatun Najiyah adalah sekelompok orang-orang yang mengajak pada kitab Allah dan sunnah. Sekalipun diantara mereka ada jama’ah dari sini dan dari situ.

Intinya, jika mereka berada pada tujuan dan akidah yang satu, maka penamaan kelompok mereka yang berbeda-beda seperti jama’ah ansharu sunnah, jama’ah ikhwanul muslimin dan kelompok ini dan itu, tidak akan memberikan mudharat (mengeluarkan mereka dari ahlusunnah-pent) yang penting akidah mereka dan amalan mereka tetap istiqamah di atas kebenaran dan mentauhidkan Allah, ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada perkataan dan perbuatan, amalan dan akidah. Maka perbendaan nama tidak akan memberikan mudharat. Namun hendaknya mereka bertakwa kepada Allah dan jujur dalam pengakuannya…….. dan jika ada satu jama’ah yang terjatuh dalam kesalahan pada satu perkara dari perkara-perakara agama, maka hendaknya yang lain memperingatkannya dan tidak meninggalkan mereka dalam kesalahannya. Justru kita harus saling tolong menolong dengan mereka pada perkara kebaikan dan takwa. Maka jika diantara mereka terjatuh pada perkara akidah atau pada perkara yang wajib atau haram, maka hendaknya diingatkan dengan dalil-dalil syar’i dengan kelemah lembutan dan penuh hikmah serta metode yang baik, hingga mereka kembali pada kebenaran dan menerimanya, dan agar mereka tidak lari darinya. Itulah perkara yang wajib. Maka hendaknya kaum muslimin saling bekerja sama dalam kebaikan dan takwa serta saling menasehati sesama mereka dan tidak saling menghinakan.” (Majalah al-Ishlah al-Adad 241 atau lihat linknya disini: http://www.saaid.net/leqa/16.htm)

Kedua: Perkataan al-akh Sofyan bahwa asatidz wahdah sangat berbangga-bangga dengan wahdah dan membangun al-Wala dan al-Bara di atasnya, ini hanyalah kedustaannya. Ustadz Zaitun Rasmin hafizhahullah berkata:

“Organisasi kita adalah sarana dan bukan tujuan. Siapapun yang ingin keluar dari organisasi ini, silahkan, dan kita tetap bersaudara. Organisasi bukan landasan wala’ kita, dan jika suatu saat organisasi ini harus dilebur untuk sebuah maslahat yang lebih besar, maka kita tidak pernah ragu untuk meleburkannya.”

Perkataan al-akh Sofyan bahwa Wahdah membangun al-Wala dan al-Bara di tubuh WI, sehingga tidak bisa bekerja sama dengan selain WI dan hanya mencintai orang-orang yang seorganisasi dengan WI, ini juga merupakan kedustaan. Bahkan ini hanya melempar batu sembunyi tangan, lalu menuduh orang lain yang melakukannya. Orang-orang yang mengamati dakwah WI akan melihat bahwa WI sangat mudah bekerja sama dengan lembaga-lembaga dakwah lain. Tapi lihatlah dia dan kawan-kawannya yang menduh, mereka akan memebenci orang-orang yang tidak bersama dengan kelompoknya dan akan menyesatkan mereka. Tidak usah jauh-jauh, kelompok mereka kini juga sudah saling menyesatkan satu sama lain, bahkan yang awalnya satu ma’had, kini membuat ma’had baru padahal hanya berbeda beberapa meter saja. Sebagaimana kasus yang terjadi di Markaz mereka ma’had tanwiru as-Sunnah di Bonto Te’ne Kecamatatan Bontomarannu Kabupaten Gowa.

Perkataan al-akh Sofyan bahwa WI selalu memperlihatkan lambang WI dan merupakan bagian dari berbangga-banggan dengan ormas juga adalah kesalahan. Memperlihatkan nama Wahdah hanyalah agar orang-orang bisa mengenalnya, sehingga orang-orang tertarik mempelajari islam lewat ormas ini. Tidak ada niat berbangga-bangga dengannya, apalagi membangun hukum wala wal bara sebagaimana tuduhan yang dia lemparkan.

Sama saja dengan setiap ma’had, pesantren, tv dakwah dan radio dakwah yang berdakwah dengan pesantren, ma’had, radio dan tv mereka.  Mereka akan memperlihatkan lambang ma’had, pesantren, radio dan tv mereka, tanpa ada niat berbangga-bangga dengan pesantren, radio, tv itu. jika ada kebaikan atau pujian pada setiap pesantren, radio, tv dakwah, dan ma’had itu, pengelolanya akan memberitakannya lewat media-media sebagai harapan orang-orang bisa mengenal kebaikannya dan mempelajari islam dalam pesantren atau ma’had mereka. Sesungguhnya tuduhan yang dilempakrkan al-akh Sofyan hanyalah dibangun diatas buruk sangka saja.

Mengenai akhwat-akhwat wahdah yang tidak mau menikah dengan selain binaan dari Wahdah, karena mereka ingin menjaga manhaj mereka yang inshaf, jangan sampai menikah dengan orang-orang yang berpahaman suka menyesatkan dan ekstrim serta sangat buruk akhlaknya kepada saudara-saudara muslimnya yang lain, seperti dia dan kawan-kawannya.  Sama juga dengan akhwat-akhwat yang belajar di tempat lain, bahkan Sofyan sendiri, pasti akan melarang binaan-binaan akhwatnya menikah dengan ikhwah Wahdah yang dia sesatkan. Maka sebenarnya alasan dia hanya alasan yang dipaksa-paksa untuk menyesatkan saudaranya.

Hakikatnya menghukumi seperti ini tidak boleh pada person-personnya, melainkan menghukumi apa yang diajarkan oleh wahdah, apakah betul wahdah mengharamkan binaan-binaan akhwatnya menikah dengan laki-laki yang tidak belajar di wahdah?? Maka jawabannya tidak, sebab banyak akhwat-akhwat binaan wahdah yang menikah dengan laki-laki yang tidak belajar di wahdah. Maka kami katakan, alasan yang dia sebut hanyalah alasan yang dibuat-buat.

Al-Akh Sofyan berkata:

Demikianlah secuil catatan dari saya, meski belum mencakup keseluruhan penyimpangan yang diingatkan bahayanya oleh asatidzah Salafiyin.

Tanggapan:

Kemungkinan maksudnya adalah tuduhan-tuduhan dusta yang tidak bisa dibuktikan hingga hari ini oleh guru-gurunya, yaitu Wahdah berbaiat, wahdah menghalalkan demonstrasi, wahdah mengajarkan 4 macam tauhid, wahdah memiliki hubungan dengan jaringan terorisme, wahdah mengkafirkan pemerintah, dan tuduhan-tuduhan dusta mereka yang lain.

Wallahu a’lam bishshowab.


12 komentar:

  1. Sofyan kholid keluar dari wahda krn apa yg di ktkn ust salafi dialami semasa beliau di wahda jdi nggk ush buat syubht2 lagie ust

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akhi, akhi, :) saya sangat yakin antum tidak baca tulisan sy. Mkanya tidak bisa memahami. Semua tulisan itu mnunjukkan bahwa mnhaj guru antum itu tidak sesuai dgn manhaj para ulama. Saran sy baca dulu. Jika memang antum seorang pnuntut ilmu syar'i.

      Tuduhan ustadz2 Salafi??? Mereka ustadz salafi??? Jgn terkecoh dgn pengakuan, salafi itu tidk suka berdusta, tidak mnyesatkan orang pads perkara khilafiyah. Oleh karena itu saudaraku baca tulisan sy. Tulisan itu pnjang krn pnuh dgn fatwa ulama yg mnunjukkan perbedaan mnhaj mereka dgn mnhaj para ulama. Jgn jadi orang ta'ashshub dong... ,:D

      Hapus
    2. Akhi, akhi, :) saya sangat yakin antum tidak baca tulisan sy. Mkanya tidak bisa memahami. Semua tulisan itu mnunjukkan bahwa mnhaj guru antum itu tidak sesuai dgn manhaj para ulama. Saran sy baca dulu. Jika memang antum seorang pnuntut ilmu syar'i.

      Tuduhan ustadz2 Salafi??? Mereka ustadz salafi??? Jgn terkecoh dgn pengakuan, salafi itu tidk suka berdusta, tidak mnyesatkan orang pads perkara khilafiyah. Oleh karena itu saudaraku baca tulisan sy. Tulisan itu pnjang krn pnuh dgn fatwa ulama yg mnunjukkan perbedaan mnhaj mereka dgn mnhaj para ulama. Jgn jadi orang ta'ashshub dong... ,:D

      Hapus
  2. Sofyan khalid keluar krn apa yg di alami di wahdah persis dgn apa yg di katkan dzulqarnain dan fatwah syaikh roby

    BalasHapus
    Balasan

    1. Dari dulu komentar anda cuma dzulqarnain dan syaikh Rabi'. Sdh sy katakn, bca artikelnya dan jgn ta'ashshub pada seseorang. Sdh sy sebutkan dlm artikek itu dzulqarnain berdusta mnuduh wahdah teroris dan syaikh Rabi' cuma mnjawab pertanyaan. Kmudian alasan sofyan sdh sy jlaskan pada artikel tsb tentang ksalahan2nya berdalil.

      Jangan jadi orang yg mnuhankan syaikh Rabi dan Zulkarnain. Krn mereka mnusia biasa yg kadang benar dan kadang salah.

      Lihatlah akhlak para ulama.

      Hapus

    2. Dari dulu komentar anda cuma dzulqarnain dan syaikh Rabi'. Sdh sy katakn, bca artikelnya dan jgn ta'ashshub pada seseorang. Sdh sy sebutkan dlm artikek itu dzulqarnain berdusta mnuduh wahdah teroris dan syaikh Rabi' cuma mnjawab pertanyaan. Kmudian alasan sofyan sdh sy jlaskan pada artikel tsb tentang ksalahan2nya berdalil.

      Jangan jadi orang yg mnuhankan syaikh Rabi dan Zulkarnain. Krn mereka mnusia biasa yg kadang benar dan kadang salah.

      Lihatlah akhlak para ulama.

      Hapus
  3. Ust. KEnapa di hapus blog ttg keslahapahaman ttg kesessatan WI oleh para asatidzah dan fatwa syaikh roby. intiny klo WI benar di atas manhaj al haq tlong klarifikasi ke syaikh roby ttg sesatnya WI sprt kmrin di metro tv ana tunggu ust yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. ????

      Blog mna yang kmi hapus??? Ittaqillah.. Jangan berdusta.

      Sdh kmi katakan berulang2, kmi tidak butuh pngakuan org lain.

      Beramallah akhi.. Suatu saat nsnti di hari kiamat tidak akan ada satupun yg luput dari pantauan Allah.

      Nama2 yg klian cela dlm mjlis2 bhkn mnuduh dgn kedustaan. Bersiaplah untuk mpertanggung jawabkannya.

      Hapus
    2. ????

      Blog mna yang kmi hapus??? Ittaqillah.. Jangan berdusta.

      Sdh kmi katakan berulang2, kmi tidak butuh pngakuan org lain.

      Beramallah akhi.. Suatu saat nsnti di hari kiamat tidak akan ada satupun yg luput dari pantauan Allah.

      Nama2 yg klian cela dlm mjlis2 bhkn mnuduh dgn kedustaan. Bersiaplah untuk mpertanggung jawabkannya.

      Hapus
    3. anda pernah bertanya tentang hukum berjam'iyyah (organisasi) pada artikel saya sebelumnya, padahal dalam artikel tersebut ada fatwa dari syaikh Ibnu Baz dan Syaikh al-Albani tentang bolehnya membuat ormas.

      inilah kejahilan kalian akhi.. tidak mau membaca dan hanya mau di doktrin dengan kedustaan dan kejahilan.

      Hapus
  4. Jazakallah Ustad atas tulisannya , sangat bermanfaat bagi saya yang masih awam baru belajar dan menjadi bingung tentang sikap sebagian para dai yang menghajr sebagian yang lainnya

    BalasHapus
  5. kasiannya ini tukang tuduh itu ada tanggapannya dr ust. yg kalian celah. Up to you deh

    BalasHapus

Silahkan Memberi komentar