Jumat, 01 April 2016

Tadabbur Ayat Pilihan 11 || Surah al-Furqan Ayat 2 || Rapinya Pengaturan Allah



Allah azza wajalla berfirman:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

“Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan: 2)

Faidah:

1.       Setiap manusia yang mentadabburi (merenungi) ayat-ayat kauniyyah Allah azza wajalla berupa penciptaan alam semesta dan pengaturannya, niscaya ia akan melihat pengaturan yang begitu rapi dan sangat menakjubkan. Pengaturan yang begitu rapi itu menjadi bukti bahwa ayat-ayat al-Qur’an bukanlah perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, melainkan perkataan Rabb yang Mengatur segala-galanya.

Allah menegaskan dan memastikan dalam al-Qur’an pada ayat pertama surah al-Baqarah, bahwa kitab suci ini tidak memiliki keraguan dan tidak ada sesuatu yang bertentangan di dalamnya. Hal ini bukanlah sekedar kalimat bisa dari-Nya, namun ini menjadi tantangan bagi setiap orang-orang yang memiliki akal untuk membuktinnya. Adapun orang yang beriman kepada-Nya, kalimat-Nya itu sudah menjadi sesuatu yang dapat menenangkan hatinya.

Coba perhatikan bagaimana pengaturan yang menakjubkan itu.

Ketika Allah azza wajalla menciptakan alam semesta, setiap planet, bintang dan galaksi, bergerak dengan cepat, namun ternyata Allah juga menciptakan lintasan peredarannya, sehingga tidak menjadikan semua itu saling tabrak satu sama lain.

Ketika Allah menciptakan semut yang sangat kecil, ternyata ia mampu mengangkat beban puluhan kali lipat dari berat badannya, mengankatnya dan membawanya pergi hingga ketempat yang sangat jauh. Sedangkan manusia, walau ia besar dan kuat, ia tidak mampu mengangkat beban yang melebihi 2-3 kali berat tubuhnya, apalagi jika diangkat menuju tempat yang sangat jauh layaknya semut. Maka Allah menciptakan manusia akal yang dapat dipergunakan untuk menciptakan sesuatu yang membantunya dalam segala aktifitasnya.

Ketika Allah menciptakan laki-laki dan perempuan yang keduanya diseting untuk saling menyempurnakan dan saling melayani, tatkala keduanya masih kecil, Allah belum menumbuhkan kepada mereka perasaan untuk saling membutuhkan. Hal itu agar mereka tidak khawatir siapa yang akan mengurusi pasangan-pasangan mereka. Bagaimana jadinya jika anak bayi Allah tetapkan padanya perasaan untuk mencari pasangannya sejak lahir? Ini sungguh pengaturan yang luar biasa. Maka perasaan-perasaan mereka akan tumbuh seiring bertambahnya umur mereka.

Sungguh amat luar biasa pengaturan-Nya. Tidak ada yang mengingkari ini kecuali orang-orang yang tidak bisa menggunakan akalnya.

2.       Allah menekankan bahwa semua makhluk yang Dia ciptakan telah diberikan ukuran-ukuran sesuai kemamapuannya, agar setiap orang yang memperhatikan pengaturan yang luar biasa itu menjadi sebab peningkatan keimanan bagi orang-orang yang beriman dan menjadi sebab jalan hidayah bagi orang-orang yang beriman.

Allah azza wajalla berfirman:

وَفِي الأرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (٢٠) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُونَ (٢١)

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan.” (QS. Adz-Dzariyat: 20-21)

Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

ويتعرف العبد على ربه بالنظر في الآيات الشرعية في كتاب الله عز وجل وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم والنطر في الآيات الكونية التي هي المخلوقات فإن الإنسان كلما نظر في تلك الآيات ازداد علما بخالقه ومعبوده

“Seorang hamba bisa mengenal Rabbnya dengan melihat ayat-ayat-Nya (tanda-tanda kebesaran-Nya) yang terdapat dalam al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasul-Nya, serta melihat pada ayat-ayat kauniyyah yang merupakan makhluk-makhluk-Nya. Sebab setiap kali manusia melihat tanda-tanda kebesaran-Nya itu akan bertambah keimanannya terhadap penciptanya (Allah) dan terhadap apa yang dia sembah (Allah).” Syarah al-Ushul ats-Tsalatsah: 19)

3.       Seseorang yang memahami bahwa seluruh makhluk diciptakan dengan kemampuan dan batas ukuran kemampuan itu, akan merasa tenang dengan segala keputusan Allah padanya. Ia tidak akan merasa cemas yang amat besar ketika musibah ataupun cobaan menimpanya. Sebab ia mengetahui bahwa Allah azza wajalla tidak akan membebankan sesuatu yang melebihi batas kemampuannya itu.

Ibarat tetesan-tetesan hujan, sebelum ia turun dan jatuh ke bumi, ada muqaddimah menakutkan yang menandakan kedatangannya. Awan pekat nan gelap, sambaran kilat yang diikuti gemuruh keras dan dahsyat, serta badai angin yang begitu kuat, membuat hati takut akan terjadi sesuatu yang buruk.

Setelah itu, ternyata Allah tidak menjatuhkan hujan dengan sekali jatuhan bagai seorang yang menumpahkan air ke dalam loyang, melainkan hanya berupa tetesan-tetesan kecil yang indah dilihat dan menentramkan hati, membawa rahmat bagi mansuia dengan kesehajaannya. Menjadi sebab terkabulnya doa dengan kedatangannya, menjadi sebab petani tersenyum gembira dengan perlombaan mereka untuk jatuh ke bumi, bahwa esok mereka bisa memberi makan kepada manusia dengan tanamannya.

Begitulah fenomena hidup, ketika masalah dan musibah bertubi-tubi datang seolah-olah menyerang, kita tidak sadar kalau hal itu justru membawa rahmat buat kita sendiri. Maka seseorang yang mengetahui indahnya pengaturan Allah itu, akan tetap berusaha untuk  tersenyum. Sebab di balik pekatnya awan, ada cahaya sinar mentari yang akan selalu bersinar terang, seolah memberi isyarat akan adanya segenggam harapan, bahwa hidup ini masih panjang dan akan berakhir dengan kebahagiaan


Wallahu a’lam bishshowab

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar