Jumat, 15 April 2016

Tadabbur Ayat Pilihan 12 || Surah al-A’raf: 179 || Akibat Hati, Mata Dan Telinga Tidak Difungsikan




Allah azza wajalla berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)

Faidah:

1.    Firman Allah azza wajallaSungguh Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia.” Hal ini menunjukkan bahwa pemebebanan ibadah tidak hanya dibebankan kepada manusia saja, melainkan juga kepada jin. Pembebanan ibadah sama antara jin dan manusia. Sehingga ketika kedua makhluk Allah ini bermaksiat maka balasannya adalah neraka. Hal ini mengingatkan asal penciptaan kita sebagai manusia, bahwa kita tidak diciptakan melainkan hanya untuk beribadah kepada-Nya. sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini juga menjadi peringatan Allah kepada orang-orang yang berakal, yang mau memikirkan kehidupan yang akan dirasakannya di akhirat kelak. Sebab pada ayat ini, Allah menakut-nakuti manusia dengan siksa yang amat dahsyat dan mengerikan yang telah dipersiapkannya untuk makhluk-makhluk yang berpaling dari-Nya.

Kehidupan manusia setiap hari dan setiap waktunya hanyalah berupaya melakukan proses transaksi perdagangan dengan Allah. Dengan itu, apakah Ia membebaskan jiwanya dari api neraka, atau justru menjerumuskan dirnya ke dalam neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

“Setiap manusia, keluar di pagi hari maka diapun menjual dirinya. Apakah dia akan membebaskan dirinya dari api neraka atau justru membinasakan dirinya sendiri.” HR. Muslim.

2.   Ayat ini menunjukkan bahwa neraka dan surga telah ada namun belum ada yang memasuki kedua tempat tersebut kecuali setelah hari peadilan kelak, dimana masnuia akan memasuki sesuai kadar amalan mereka. Pelaku maksiat akan masuk ke Neraka dan orang-orang shaleh akan masuk ke dalam surga.

Mengenai perkara bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat penghuni-penghuni neraka sehingga beliau mengatakan kebanyakan adalah dari kalangan wanita. Hal ini tidak menjadi dalil bahwa telah ada manusia yang masuk ke dalam neraka dan mendapatkan adzab dari Allah. Melainkan hanya diperlihatkan kepada beliau layaknya kita menonton tv.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:

أما الذي رآه النبي -صلى الله عليه وسلم- فهذا ليلة أسري به، عرض عليه بعض الشيء، عرضت عليه الجنة والنار ورأى بعض من يعذب في النار ورأى الجنة وما فيها من النعيم، وعرض عليه أشياء من أمور الغيب اطلع عليها بإذن الله عز وجل سبحانه وتعالى،

3.   Firman Allah azza wajallaMereka memiliki hati tapi tidak dipergunakan untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah,” ini menunjukkan bahwa anggota tubuh yang berfungsi untuk memikirkan dan memahami sesuatu adalah hati. Hal ini pula menunjukkan pentingnya hati bagi anggota tubuh, karena itu para ulama mengibaratkannya sebagai raja bagi anggota tubuh.

Karena hati merupakan anggota tubuh yang Allah ciptakan sebagai alat untuk memahami bagi manusia, maka pengaruhnya terhdap keimanan juga sangatlah besar. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله , وإذا فسدت فسد الجسد كله , ألا وهي القلب

“Ketahuilah, di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, dia adalah hati.” (HR. Muslim)

Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Ustaimin rahimahullah berkata:

أنه يجب العناية بالقلب أكثر من العناية بعمل الجوارح، لأن القلب عليه مدار الأعمال، والقلب هو الذي يُمتحن عليه الإنسان يوم القيامة

“Wajib bagi setiap orang untuk memberikan perhatian terhadap hatinya lebih besar daripada perhtiannya terhadap perbuatan anggota tubuhnya. Sebab hati merupakan poros dari setiap amalan. Hati juga merupakan sesuatu yang akan di uji bagi manusia pada hari kiamat.” (Syarah Arbain an-Nawawi: 113)

Hati yang sehat akan berjalan sesuai fitrahnya, yaitu dia akan selalu berfirkir pada perkara yang baik-baik kemudian mengantarkan pemiliknya untuk memiliki akhlak yang baik. Karena itu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya oleh Wabishah Ibnu Ma’bad radhiyallahu ‘anhu tentang perkara yang baik dan buruk, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

استفت قلبك ، البر ما اطمأنت إليه النفس ، واطمأن إليه القلب ، والإثم ما حاك في النفس وتردد في الصدر

“Mintalah fatwa pada hatimu, kebaikan itu adalah hal-hal yang membuat jiwa dan hati menjadi tenang, sedangkan dosa adalah apa yang membekas dalam jiwamu dan membuat bimbang dalam dadamu.” (HR. Ad-Darimi di hasankan oleh an-Nawawi)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاس

“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik sedangkan dosa adalah apa-apa yang membuat bimbang dalam hatimu dan engkau benci jika orang mengetahuinya.” (HR. Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

التَّقْوَى هَا هُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

“Ketakwaan itu disini.” Nabi menunjukkan ke dadanya sebanyak 3 kali.” (HR. Muslim)

4.   Ketika seseorang tidak memanfaatkan fungsi hatinya dengan benar, yaitu untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah, maka penglihatan dan pendengarannya pun tidak akan bermanfaat untuknya, sebab mata dan pendengaran mengikuti perintah hati.

Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

وقد قال بعض العلماء هذا بالملك، إذ صلح صلحت رعيته وإذا فسد فسدت.
لكن، نظر فيه العلماء المحققون وقالوا: هذا المثال لا يستقيم، لأن الملك ربما يأمر ولا يطاع. والقلب إذا أمر الجوارح أطاعه ولابد.
“Sebagian ulama mengatakan bahwa hati ini seperti raja, jika dia baik maka baik pula rakyatnya dan jika ia rusak, maka rusak pula rakyatnya. Akan tetapi para ulama muhaqqiq mengatakan bahwa permisalan seperti ini tidak tepat, sebab raja mungkin saja jika dia memerintah, rakyatnya tidak taat terhadapnya. Adapun hati, jika dia memerintah anggota badan, annggota badan itu akan taat pada perintahnya.” (Syarah Hadits Arbain: 108)

Karena itu, Allah azza wajalla melanjutkan firman-Nya dengan menyebutkan Mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).” Sebab semua ini saling berhubungan. Walaupun mata melihat tanda-tanda kebesaran itu, telinga mendengarkan ayat-ayat itu, namun jika hati tidak dipergunakan untuk memahami tanda-tanda kebesaran-Nya, maka ia laksana seorang yang buta dan tuli.

Buta dan tuli bukan karena mata tidak bisa melihat ataupun telinga tidak dapat mendengar, bukan! Hal itu karena hatinya yang telah mati.

Allah azza wajalla berfirman:

وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لأسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ

“Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).” (QS. Al-Anfal: 23)

Allah azza wajalla juga berfirman:

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)

Allah azza wajalla berfirman:

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (٧)

“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup dan bagi mereka siksa yang Amat berat.” (QS. Al-Baqarah: 7)

Qatadah rahimahullah berkata:

استحوذ عليهم الشيطان إذ أطاعوه؛ فختم الله على قلوبهم وعلى سمعهم وعلى أبصارهم غشاوة، فهم لا يبصرون هدى ولا يسمعون ولا يفقهون ولا يعقلون

“Syaithan menguasai mereka ketika mereka taat kepadanya. Maka Allah menutup hati-hati mereka, pendengaran-pendengaran mereka dan menutup mata-mata mereka. Sehingga mereka tidak mampu melihat petunjuk, tidak dapat mendengar ayat-ayat Allah, tidak mampu memahami tanda-tanda kebesarannya dan menjadi orang-orang yang tidak berakal.” (Tafsir Ibnu Katsir: 1/47)

5.     Firman Allah azza wajallaMereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat,” penggalan ayat ini menunjukkan bahwa setiap orang yang tidak mempergunakan hati, mata dan telinganya untuk mengenal Rabbnya dengan memahami ayat-ayat-Nya, melihat tanda-tanda kebesaran-Nya dan mendengar ayat-ayat-Nya akan terjatuh pada derajat yang sangat hina.

Allah azza wajalla mempermisalkan mereka dengan binatang, bahkan lebih sesat dari binatang, karena manusia-manusia yang tidak mempergunakan anggota tubuhnya untuk mengenal-Nya, akan melakukan hal-hal yang tidak dilakukan oleh manusia normal yang mengikuti fitrah mereka. Bahkan lebih parahnya, mereka akan melakukan perbuatan yang tidak tidak dilakukan hewan ataupun mansia normal. Padahal mereka memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki hewan itu, karena itu mereka lebih sesat.

Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:

{ بَلْ هُمْ أَضَلُّ } من البهائم، فإن الأنعام مستعملة فيما خلقت له، ولها أذهان، تدرك بها، مضرتها من منفعتها، فلذلك كانت أحسن حالا منهم.

Bahkan mereka lebih sesat dari binatang ternak,” karena sesungguhnya binatang ternak mempergunakan apa yang diciptakan untuknya. Ia memiliki akal yang dengannya mengetahui sesuatu yang dapat memerikan mudharat atau bermanfaat untuknya. Oleh karena itu, binatang ternak lebih baik dari orang-orang yang tidak mempergunakan hati, mata dan telinganya itu.”  (Tafsir as-Sa’di: 351)

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata:

هؤلاء المتصفين بهذه الأوصاف كالأنعام في انتفاء انتفاعهم بهذه المشاعر ، ثم حكم عليهم بأنهم أضلّ منها ، لأنها تدرك بهذه الأمور ما ينفعها ويضرّها ، فينتفع بما ينفع ، وتجتنب ما يضرّ ، وهؤلاء لا يميزون بين ما ينفع وما يضرّ باعتبار ما طلبه الله منهم وكلفهم به

“Mereka yang bersifat dengan sifat-sifat ini (tidak mempergunakan hati, mata dan telinganya) seperti binatang ternak dalam menafikan hal-hal yang dapat bermanfaat untuk mereka dengan panca indra mereka. Kemudian Allah memvonis mereka bahwa mereka lebih sesat dari binatang ternak, karena hewan-hewan itu dapat mengetahui dengan hati, mata dan telinga mereka, perkara-perkara yang dapat memberi manfaat dan mudharat bagi mereka. Sehingga mereka mengambil manfaat dari hal yang dapat memberi manfaat dan menjauhi sesuatu yang dapat meberikan mudharat. Adapun mereka-mereka yang tidak dapat membedakan antara perkara yang yang bermanfaat atau dapat memberi mudharat untuk mereka, sesuai apa yang Allah inginkan untuk mereka dan bebankan kepada mereka.” (Fathul Qadir: 513)

Penggalan ayat ini juga menunjukkan bahwa apa yang Allah inginkan untuk kita dari segala apa yang Dia syariatkan adalah yang terbaik untuk kita, sedangkan apa yang kita inginkan untuk diri kita sendiri bisa jadi adalah keburukan untuk kita sendiri. Sehingga, sepantasnya setiap manusia memilih apa yang Allah inginkan darinya berupa apa yang Dia syriatkan serta menjauhi perasaan yang menyelisihi syariat-Nya. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

عاش الناس حياتهم على مرادهم  فهلكوا، و والله لو عاشوها على مراد الله لفلحوا ونجوا

“Manusia menjalani kehidupan mereka atas keinginan mereka sendiri sehingga merekapun celaka. Sungguh, Demi Allah, jika seandainya mereka menjalani hidup mereka sesuai keinginan Allah, niscaya mereka akan beruntung dan selamat.”

من أعظم الظلم والجهل أن تطلب التعظيم والتوقير من الناس وقلبك خال من تعظيم الله وتوقيره

“Diantara bentuk kezhaliman dan kejahilan terbesar adalah ketika engkau mengharapkan pengagungan dan pujian manusia terhadapmu sementara hatimi kosong dari pengharapan akan pengagungan Allah terhdapmu.”  (al-Fawaid: 187)

6. Firman Allah azza wajallaMereka itulah orang-orang yang lalai,” Penggalan ayat ini menunjukkan bahwa Allah meberikan kepada manusia kehendak dan kemampuan untuk memilih jalan mereka sendiri, agar tidak ada lagi alasan bagi manusia di hari pengadilan kelak atas apa yang mereka lakukan di dunia.

Mereka lalai, karena Allah telah menciptakan bagi mereka anggota tubuh sebagai sarana memahami hal-hal yang bermanfaat untuk mereka dan menjauhi hal-hal yang membawa mudharat bagi mereka. Padahal, jika mereka meluangkan sedikit waktunya untuk merenungi apa yang terjadi pada diri mereka dan sekitarnya, niscaya mereka akan memahami kalau mereka memang dalam kesalahan.

Para pelaku LGBT misalnya. Pada kasus lesbian, salah satu dari kedua wanita yang saling mencintai memiliki sifat yang berbeda. Satu dari mereka berupaya untuk merubah sifatnya dengan sifat lelaki dan satunya lagi memang mengakui dirinya sebagai wanita. Hal ini menunjukkan bahwa mereka menyadari kalau cinta sesama jenis  memang tertolak oleh fitrah mereka sendiri. Sehingga yang satu berupaya menjadikan dirinya sebagai laki-laki dan yang satu sebagai wanita.

Demikian pula pada kasus gay, salah satu dari kedua laki-laki yang saling mencintai itu ada yang bersifat kewanitaan dan ada pula yang tetap sebagai laki-laki. Mereka sadar kalau fitrah manusia diciptakan berpasangan dengan perbedaan jenis kelamin. Karena itu, salah satu dari mereka ada yang mencoba untuk menjadi wanita dan satu sebagai laki-laki.

Setiap dari mereka yakin kalau keturunan hanya bisa ada jika wanita menikah dengan laki-laki. mereka sadar kalau perbuatan mereka itu adalah keburukan, karena itu laki-laki yang berupaya menjadi wanita atau wanita yang berupaya mejadi laki-laki merasa malu jika jati diri mereka yang sebenarnya diketahui. Sehingga mereka menyembunyikan hal itu.

Fitrah begitu jelas mereka rasakan, akan tetapi fitrah itu mereka tolak dan mengikuti ajakan-ajakan syaithan. Akhirnya perbuatan yang tidak dilakukan binantangpun mereka lakukan.

Lihatlah disekitar kita, pernahkah seeokor ayam jantan mengawini ayam jantan atau seekor ayam betina mengawini ayam betina? Pernahkan seekor anjing jantan mengawini anjing jantan dan anjing betina mengawani anjing betina? Kita tidak akan pernah menemukannya, karena mereka menggunakan apa yang Allah cipatakan untuk  mereka, sebagai alat untuk mendapatkan hal yang bermanfaat bagi mereka dan menjauhi perkara buruk untuk mereka.

Maka mereka pun lebih rendah dari binatang.


Wallahu a’lam

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar