Minggu, 22 Mei 2016

Jika Imam Shalat 5 Raka’at, Apa Yang Harus Dilakukan Makmum?



Pertanyaan:

Pada saat shalat jama’ah, imam mengalami lupa sehingga tidak mengetahui jumlah raka’at shalatnya. Saat itu dia shalat zhuhur sebanyak lima raka’at, sementara para ma’mum telah mentanbih (memperingatkannya). Tapi dia melakukan perbuatannya itu dengan keyakinan bahwasanya dia berada di atas kebenaran. Maka apakah yang harus kami lakukan sebagai makmum?

Jawab:

Pertama: Jika imam yakin dengan kebenaran yang ada pada dirinya dan dia tidak menoleh pada peringatan para ma’mum, dimana saat itu dia telah melaksanakan shalat dengan 5 raka’at, maka shalatnya tetap shahih dan tidak ada perkara yang harus dia lakukan setelah itu. Akan tetapi jika dia mengetahui hal itu setelah salam, maka hendaknya dia melakukan sujud sahwi dua kali setelah itu dia salam kembali.

Kedua: Jika para makmum mengetahui bahwa imam menambah raka’at, maka wajib bagi para makmum untuk mentanbih (mengingatkan) imam. Jika imam tidak kembali (pada posisi/gerakan yang seharusnya dia lakukan sesuai peringatan makmum), maka tidak boleh mengikuti gerakan imam itu. Bahkan bagi makmum hendaknya dia memisahkan dirinya dengan imam, yaitu dengan tetap duduk dan melakukan tasyahhud akhir kemudian salam. Sebab jika dia mengetahui bahwa raka’at yang dilakukan imam itu adalah raka’at yang kelima, maka batal sholat makmum tersebut. Adapun bagi yang mengikuti imam karena jahil atau lupa, maka shalatnya tetap sah.

Disebutkan dalam kitab “Syarh Muntahaa al-Iradaat” :

ومن سها فنبهه ثقتان لزمه الرجوع ما لم يتيقن صوابَ نفسه فلا يجوز رجوعه . . "

ثم ذكر أنه إن قام إلى خامسة لم يجز للمأموم متابعته لأنه " يعتقد خطأه , وأن ما قام إليه ليس من صلاته . فإن تبعه جاهلا , أو ناسيا , أو فارقه : صحت له (أي الصلاة) , ويلزم من علم الحال مفارقته ، ويسلم المفارق لإمامه بعد قيامه إلى الزائدة , وتنبيهه وإبائه الرجوع , إذا أتم التشهد الأخير " انتهى .\

“Barangsiapa lupa kemudian dia ditanbih oleh dua orang (makmum) yang tsiqah, maka lazim baginya (imam) untuk kembali selama dia tidak yakin akan kebenaran yang ada pada dirinya, dan tidak wajib mengikutinya..”

Kemudian, bahwasanya jika imam shalat lima raka’at maka tidak boleh bagi makmun mengikutinya, karena makmum berkeyakinan bahwa dia sedang melakukan sesuatu yang salah, dan gerakan yang sedang dilakukan oleh imam bukanlah bagian dari gerakan shalat. Jika dia mengikutinya karena jahil, atau lupa, atau dia (makmum) memisahkan dirinya dari imam maka shalatnya sah. Dan, wajib bagi yang mengetahui keadaan yang sedang terjadi untuk memisahkan diri dari imam. Bagi makmum hendaknya ia salam untuk memisahkan dirinya dengan imam ketika dia menambah gerakan (raka’at kelima), setelah memberikan peringatan dan tidak mengikutinya, dan jika telah selesai dari tasyahud akhir. Selesai kutipan.. (1/223)

Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Jika imam shalat lima raka’at karena lupa, maka bagaimana hukum orang yang shalat dibelakangnya? Dan apakah bagi makmum dianggap telah menyempurnakan gerakannya dengan raka’at tambahan itu?

Beliau menjawab:

“Jika imam shalat lima raka’at karena lupa, maka shalat imam tersebut sah, begitu juga shalat orang yang mengikutinya dibelakang karena lupa dan jahil maka shalatnya juga sah.

Adapun bagi makmum yang mengetahui bahwasanya imam sedang melakukan gerakan tambahan, maka wajib baginya untuk tetap duduk tasyahud akhir dan melakukan salam. Sebab pada kondisi ini makmum berkeyakinan bahwa gerakan shalat yang dilakukan oleh imam adalah gerakan yang tidak benar. Kecuali jika makmum khawatir bahwasanya imam menambah raka’at yang kelima telah meninggalkan (tidak membaca) surah al-Fatihah (misalnya) pada salah satu raka’at-raka’at. Shalatnya, maka bagi makmum hendaknya menunggu imam (yaitu dengan tetap duduk dan tidak salam) hingga dia salam bersama imam.

Adapun pada perkara seorang yang masbuk, yang mengikuti gerakan imam pada raka’at kedua dan sesudahnya (ketinggalan satu raka’at-pent), maka raka’at tambahan yang dilakukan imam dihitung dan merupakan raka’at penyempurna akan raka’at shalat yang dia terlambat itu. Jika makmum masuk mengikuti imam pada raka’at ketiga (ketinggalan dua raka’at-pent), maka dia cukup untuk menambah satu raka’at jika imam menambah gerakan shalat menjadi lima raka’at. Hal itu karena kalau kita katakan bahwa masbuk tidak terhitung gerakannya pada saat imam melakukan gerakan tambahan, berarti dalam hal ini dia telah melakukan gerakan tambahan secara sengaja, yang dimana ini merupakan pembatal dalam shalat. Adapun bagi imam, dia telah mendapatkan udzur dari penambahannya itu karena dia lupa. Selesai pengutipannya dari (Majmu’ Fatawa Syaikh al-Utsaimin:  14/19)


Ta’liq dari kami:

Karena ini cuma terjemah, maka kami mencoba untuk menerjemahkan secara keseluruhan dari artikel ini. Akan tetapi pada kasus seorang masbuk yang mengikuti gerakan imam yang menambah raka’atnya karena sang imam lupa, keyakinan kami bahwasanya:

Jika makmum mengetahui bahwa imamnya telah menambah gerakan shalat, maka hendaknya makmum mentanbih imamnya karena imam tersebut sedang menambah gerakan shalat dan makmum tidak boleh mengikutinya. Jika imam tetap menambah raka’at yang kelima karena keyakinan imam bahwasanya dia sholat empat raka’at, maka bagi makmum masbuk tersebut tetap duduk dan tidak salam hingga imam selesai salam. Ketika imam selesai salam maka dia bangkit menyempurnakan shalatnya.

Dikatakan dalam “Kasyful Iqna”:

( وَلَا يَعْتَدُّ ) أَيْ لَا يَحْتَسِبُ ( بِهَا ) أَيْ بِالرَّكْعَةِ الزَّائِدَةِ مِنْ صَلَاتِهِ مَسْبُوقٌ دَخَلَ مَعَ الْإِمَامِ فِيهَا أَوْ قَبْلَهَا لِأَنَّهَا زِيَادَةٌ لَا يَعْتَدُّ بِهَا الْإِمَامُ وَلَا يَجِبُ عَلَى مَنْ عَلِمَ الْحَالَ مُتَابَعَتُهُ فِيهَا فَلَمْ يُعْتَدَّ بِهَا لِلْمَأْمُومِ ( وَلَا يَصِحُّ أَنْ يَدْخُلَ مَعَهُ ) أَيْ مَعَ الْإِمَامِ الْقَائِمِ لِزَائِدَةٍ ( فِيهَا مَنْ عَلِمَ أَنَّهَا زَائِدَةٌ ) لِأَنَّهَا سَهْوٌ وَغَلَطٌ  

“Gerakan tambahan dari imam itu tidak dihitung sebagai penyempurna gerakan dari shalat seorang masbuk yang dia masuk bersama imam pada raka’at itu atau sebelumnya lagi. Karena gerakan tambahan itu adalah gerakan yang tidak terhitung, dan tidak boleh bagi seorang yang mengetahui keadaan itu untuk mengikuti imamnya dalam melakukan gerakan. Sebab hal itu tidak bisa dihitung sebagai gerakan penyempurna  bagi seorang makmum. Dan tidak sah bagi orang yang masuk bersama imam, maksudnya ikut bersama imam dalam melakukan gerakan tambahan bagi seorang yang mengetahui bahwa imam telah melakukan gerakan tambahan dalam shalat. Karena gerakan imam itu disebabkan lupa dan kesalahan.” (Kasyfu al-Iqna’ : 3/157)

-------


Abu Ukasyah al-Munawy

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar