Jumat, 13 Mei 2016

Salafy Ahlisunnah Vs Salafy Ahli Batil



Salafy merupakan nama lain dari ahlusunnah waljama’ah. Nama ini nampaknya terlalu manis, sehingga dia selalu diperebutkan. Sayangnya, beberapa pelaku yang menisbatkan diri mereka kepada salafy justru menggunakan kata salafy ini untuk memecah belah umat, sadar atau tidak sadar. Ini bukan tuntunan ulama salaf dan ulama salafy.

Diantara mereka, ada yang menggandengkan nama mereka dengan kata as-Salafy (sang pengikut salaf), al-Atsary (sang pengikut ahli atsar) atau yang lainnya. Hanya saja, terkadang perbuatan mereka justru berbeda dengan tuntunan manhaj salaf dan ulama salafy dari segi manhaj ataupun akidah. Menisbatkan diri pada manhaj salaf memang bukanlah kesalahan. Namun jika menganggap diri sebagai pengikut mazhab salaf lalu mudah memvonis orang lain sebagai seorang atau kelompok yang sesat pada perkara-perkara mubah, juga merupakan perbuatan yang sesat.

Banyak orang menjadikan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah sebagai dasar pijakan mereka dalam menisbatkan diri mereka terhadap manhaj salaf. Beliau berkata: 

لَا عَيْبَ عَلَى مَنْ أَظْهَرَ مَذْهَبَ السَّلَفِ وَانْتَسَبَ إلَيْهِ وَاعْتَزَى إلَيْهِ بَلْ يَجِبُ قَبُولُ ذَلِكَ مِنْهُ بِالِاتِّفَاقِ . فَإِنَّ مَذْهَبَ السَّلَفِ لَا يَكُونُ إلَّا حَقًّا

“Bukanlah aib (kesalahan) bagi siapa saja yang mengizharkan (menampakkan) mazhab salaf dan menisbatkan diri padanya. Bahkan wajib menerima hal itu darinya dengan kesepakatan. Karena sesungguhnya mazhab salaf tidaklah ia ada kecuali ia adalah kebenaran.” (Majmu’ Fatawa: 4/149)

Dari fatwa beliau ini, muncullah sekelompok orang yang selalu menisbatkan diri mereka kepada manhaj salaf. Mereka melabeli diri mereka sebagai pengikuti manhaj salaf, sedangkan orang-orang yang tidak bersama mereka dalam  barisan dakwah, hanya karena berbeda wasilah dakwahnya dikatakan keluar dari manhaj salaf. Padahal apa yang mereka dakwahkan adalah sesuatu yang sama.

Perpecahan pun begitu banyak mereka lakukan, lembaga-lembaga dakwah yang menyuarakan manhaj salaf tidak luput dari mereka, karena tidak bersama mereka, mereka beteriak, “Mereka bukan pengikut manhaj salaf, mereka bukan ahlusunnah.”

Sayangnya, perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tadi tentang penisbatan salafy dipotong sampai pada kalimat

فإن مذهب السلف لا يكون إلا حقا

"Karena manhaj salaf tidaklah ia ada kecuali merupakan kebenaran."

Padahal pada perkataan berikutnya ada celaan dari beliau terhadap orang-orang yang menisbatkan diri mereka pada manhaj salaf, tapi tidak mengikuti metode mereka dalam beragama. Beliau menyebutkan bahwa kedudukan mereka seperti munafik. Beliau berkata:

إِنْ كَانَ مُوَافِقًا لَهُ بَاطِنًا وَظَاهِرًا : فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُؤْمِنِ الَّذِي هُوَ عَلَى الْحَقِّ بَاطِنًا وَظَاهِرًا . وَإِنْ كَانَ مُوَافِقًا لَهُ فِي الظَّاهِرِ فَقَطْ دُونَ الْبَاطِنِ : فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُنَافِقِ . فَتُقْبَلُ مِنْهُ عَلَانِيَتُهُ وَتُوكَلُ سَرِيرَتُهُ إلَى اللَّهِ . فَإِنَّا لَمْ نُؤْمَرْ أَنْ نُنَقِّبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلَا نَشُقَّ بُطُونَهُمْ

“Jika seandainya penisbatan terhadap manhaj salaf sesuai secara batin dan zhahir, maka kedudukannya sebagai mu’min yang berada pada kebenaran secara zhahir dan batin. Dan jika penisbatannya terhadap manhaj salaf itu hanya sesuai dalam perkara-perkara zhahir saja tanpa yang batin, maka kedudukannya sebagai munafik. Kita menerima darinya apa yang disebutkan secara terang-terangan dan kita pasrahkan rahasianya kepada Allah. Karena kita tidak diperintahkan untuk menyelidiki apa yang ada dalam hati-hati manusia, dan juga tidak merobek perkara-perkara batin mereka.” (Majmu’ Fatawa: 4/149)

Dari sini kita ketahui bahwa sekedar pengakuan menjadi pengikut manhaj salaf itu tidak cukup, melainkan harus sesuai perbuatan kita dengan mereka, baik yang zhahir (nampak) maupun yang batin (tidak nampak). Sehingga jika ada orang-orang yang mengaku sebagai pengikut manhaj salaf namun perbuatan zhahirnya tidak sesuai dengan manhaj salaf, maka pengakuan itu tidak diterima.

Jika kita mempelajari adab-adab para ulama salaf, kita akan mendapati mereka sebagai orang yang sangat menjaga persatuan umat, mereka tidak mudah menyesatkan. Inilah yang membedakan manhaj salaf dengan para pengaku pengikut manhaj salaf hari ini. Mereka sangat gemar memecah belah umat, tidak tanggung-tanggung, ma’had yang awalnya satu pun pecah menjadi dua, jaraknya hanya beda beberapa meter. Yang mengamati mereka pasti akan sering mendapati hal ini.

Mari kita coba bandingkan ulama yang mengikuti manhaj salaf dengan mereka yang mengaku sebagai pengikut salaf hari ini.

Pertama: Ulama yang mengikuti manhaj salaf tidak menyesatkan orang-orang yang mengamalkan perkara khilafiyah yang berbeda dengan mereka. Sedangkan orang-orang yang mengaku mengikuti manhaj salaf menyesatkan orang lain pada perkara khilafiyah, bahkan pada tuduhan dusta yang mereka belum pernah mengecek kebenaran beritanya.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:

إذا رأيت الرجل يعمل العمل الذي قد اختلف فيه وأنت ترى غيره فلا تنهه

“Jika engkau melihat seseorang yang beramal dengan amalan yang diperselisihkan hukukmnya (ikhtilaf), sementara engkau berpandangan dengan pandangan yang berbeda dengannya, maka jangan engkau melarangnya.” (al-Faqih Wal-Mutafaqqih : 2/355)

Yahya Ibnu Sa’id al-Anshari rahimahullah berkata:

ما برح أولو الفتوى يفتون فيحل هذا ويحرم هذا، فلا يرى المحل أن المحرم هلك لتحريمه، ولا يرى المحرم أن المحل هلك لتحليله

“Para ahli fatwa senantiasa berfatwa, lalu mereka menghalalkan ini sedangkan yang lain mengharamkan itu. Seorang yang menghalalkan perkara itu tidak berpandangan bahwa orang yang mengharamkannya akan binasa disebabkan fatwa pengharamannya, dan orang yang berfatwa akan keharamannya tidak berpandangan bahwa seorang yang menghalalkannya akan binasa disebabkan fatwa penghalalannya.”  (Laa Inkaara Fii Masaail al-Khilaf: 134 )

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وأما إذا لم يكن في المسألة سنة ولا إجماع وللاجتهاد فيها مساغ فلا ينكر على من عمل بها مجتهدًا أو مقلدًا

“Adapun jika dalam masalah yang diperselisihkan tidak ada sunnah ataupun ijma’ padanya sementara pintu ijtihad dibolehkan, maka tidak boleh mengingkari seseorang yang berbuat dengannya, seorang mujtahid ataupun yang yang hanya  sekedar muqallid.” (al-Muastadrak ‘Ala Majmu’ al-Fatawa : 3/206)

Beliau juga berkata:

مسائل الاجتهاد من عمل فيها بقول بعض العلماء لم ينكر عليه ولم يهجر ومن عمل بأحد القولين لم ينكر عليه وإذا كان فى المسألة قولان

“Masalah-masalah ijtihad, siapapun yang beramal dengannya, dengan menyandarkan apa yang mereka lakukan pada perkataan ulama, maka dia tidak boleh diingkari dan tidak boleh pula dihajr (diisolir). Dan siapa yang beramal dengan salah satu dari dua perkataan yang ada pada satu masalah itu, maka dia tidak diingkari jika terdapat dua perkataan dalam masalah tersebut.” (Majmu’ al-Fatawa: 20/207)

Berkata Imam an-Nawawi rahimahullah:

لَيْسَ لِلْمُفْتِي وَلَا لِلْقَاضِي أَنْ يَعْتَرِض عَلَى مَنْ خَالَفَهُ إِذَا لَمْ يُخَالِف نَصًّا أَوْ إِجْمَاعًا أَوْ قِيَاسًا جَلِيًّا

“Tidak boleh bagi seorang mufti ataupun seorang qadhi mencela orang yang menyelisihinya dalam satu masalah, jika pada masalah itu tidak ada nash atau ijma’ atau qiyas jaliy.” (Al-Minhaj : 1/131)

وإذا رأيت من عالم خطأ فناقشه وتكلم معه، فإما أن يبتين لك أن الصواب معه فتتبعه أو يكون الصواب معك فيتبعك، أو لا يتبين الأمر ويكون الخلاف بينكما من الخلاف السائغ، وحينئذ يحب عليك الكف عنه وليقل هو ما يقول ولتقل أنت ما تقول

“Jika engkau melihat seorang alim yang salah, maka dialoglah dan berbicaralah dengannya. Maka mungkin saja akan nampak bagimu bahwasanya kebenaran berada pada orang yang menyelisihimu itu atau kebenaran ada padamu sehingga dia mengikutimu, atau permasalahan itu tetap tidak terjelaskan. Sehingga terjadi khilaf antara kalian berdua yang dibolehkan. Jika sudah seperti itu, maka wajib bagimu untuk berhenti dari, sehingga dia beramal dengan apa yang dia katakan dan engkau beramal dengan apa yang engkau katakan.”  (Kitab al-Ilm : 267)

Jika kita mengamati dakwah orang-orang yang mengaku-ngaku menisbatkan diri mereka pada manhaj salaf yang mulia ini, niscaya kita akan mendapatkan bahwa mereka menyesatkan orang-orang yang berbeda dengan mereka pada perkara khilafiyyah, misalnya ikut pemilu dan lain sebagainya.

Kedua: Ulama-ulama yang mengikuti manhaj salaf akan menghukumi seseorang sebagai seorang atau kelompok yang menyimpang dengan melihat pada manhaj dan akidahnya, bukan pada nama organisasi dakwahnya atau hanya karena memiliki AD ART. Adapun orang-orang yang mengaku-ngaku menisbatkan diri mereka pada manhaj salaf, akan mudah mengeluarkan seseorang dari manhaj salaf hanya karena mereka berorganisasi.

Syaikh al-Bani rahimahullah berkata:

“Setiap jam’iyyah (organisasi) yang dibentuk di atas dasar Islam yang benar yang mana hukum-hukumnya disimpulkan dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta berada di atas manhaj para Salafushshalih, setiap organisasi yang didirikan atas dasar ini maka tidak ada alasan untuk diingkari dan dituduh sebagai hizbiyyah, karena hal tersebut termasuk dalam firman Allah Ta’ala: “Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa.” (Silsilah al-Huda wa an-Nur, kaset no. 590 atau silahkan lihat di web resmi beliau: http://www.alalbany.net/2030)

Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah berkata:

Intinya, jika mereka berada pada tujuan dan akidah yang satu, maka penamaan kelompok mereka yang berbeda-beda seperti jama’ah ansharu sunnah, jama’ah ikhwanul muslimin dan kelompok ini dan itu, tidak akan memberikan mudharat (mengeluarkan mereka dari ahlusunnah-pent). Yang penting akidah mereka dan amalan mereka tetap istiqamah di atas kebenaran dan mentauhidkan Allah, ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada perkataan dan perbuatan, amalan dan akidah. Maka perbedaan nama tidak akan memberikan mudharat. Namun hendaknya mereka bertakwa kepada Allah dan jujur dalam pengakuannya…….. dan jika ada satu jama’ah yang terjatuh dalam kesalahan pada satu perkara dari perkara-perkara agama, maka hendaknya yang lain memperingatkannya dan tidak meninggalkan mereka dalam kesalahannya. Justru kita harus saling tolong menolong dengan mereka pada perkara kebaikan dan takwa.” (Majalah al-Ishlah al-Adad 241 atau lihat linknya disini: http://www.saaid.net/leqa/16.htm)

Mengeluarkan ormas-ormas islam yang berdakwah di atas manhaj salaf ahlusunnah waljama’ah dari ahlusunnah waljama’ah hanya karena memiliki AD ART adalah sesuatu yang sangat ceroboh dan jahil. Sebab tidak ada satupun dari ormas-ormas itu yang menjadikan AD ART mereka sebagai landasan dalam beragama, sehingga dengannya membangun wala (loyalitas) dan bara (permusuhan) terhadap orang lain.

AD ART tidak lain hanyalah aturan dalam satu jam'iyyah (organisasi) yang disepakati oleh ketua organisasi dan anggota-anggotanya, yang dimana AD ART juga biasa ada pada pesantren-pesantren, sebagai rambu-rambu jalan agar dakwah bisa berjalan secara teratur dan rapi. Kedudukannya tidak lain hanya sebagai tata tertib dan aturan biasa, kerangka dan program-program kerja. Jika dalam masalah safar saja, seseorang wajib mengikuti perintah pemimpin safarnya dalam ketaatan kepada Allah, maka seperti itu pula hendaknya dalam organisasi dakwah. Karena orang-orang yang tergabung dalam lembaga itu tidak memiliki sifat-sifat yang sama, maka suatu fitrah yang ada pada diri manuisia adalah hendaknya selalu ada aturan yang mengingatkan mereka,  baik itu aturan dalam rumah tangga, sekolah, pesantren, ma’had dan lain sebagainya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وبنو آدم لا يعيشون الا باجتماع بعضهم مع بعض واذا اجتمع اثنان فصاعدا فلا بد ان يكون بينهما ائتمار بأمر وتناه عن امر

“Anak cucu Adam tidak hidup kecuali berjama’ah (bersosialisasi) antara yang satu dengan yang lainnya. Maka jika telah berkumpul dua orang atau lebih maka hendaknya ada diantara mereka yang memerintahkan pada satu masalah dan melarang pada satu masalah.” (al-Istiqamah: 2/292)

Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

وظاهر الحديث أن هذا الأمير إذا رضوه وجبت طاعته فيما يتعلق بمصالح السفر لأنه أمير أما ما لا يتعلق بأمور السفر فلا تجب طاعته كالمسائل الخاصة بالإنسان

“Secara zhahir bahwa pemimpin ini (pemimpin safar) jika orang-orang yang dipimpin olehnya telah ridha, maka wajib bagi mereka untuk taat padanya pada perkara-perkara yang mengandung mashlahat untuk safar mereka, karena dia adalah pemimpin. Adapun perkara-perkara yang tidak berhubungan dengan perkara safar maka tidak wajib untuk taat kepadanya, seperti masalah-masalah yang khusus bagi seseorang.” (Syarah Riyadhu ash-Shalihin: 3/89)

Satu kelompok dikatakan sebagai kelompok  yang menyimpang dari manhaj salaf jika dalam akidah mereka bertentangan dengan manhaj salaf. Sebut saja kelompok Qadariyah yang dinisbatkan kepada Ma’bad al-Juhaini. Apakah mereka punya AD ART sehingga dikatakan sebagai firqah? Maka jawabannya tidak. Mereka dikatakan sebagai kelompok menyimpang karena memiliki akidah yang bathil, yaitu menolak adanya takdir. Sama halnya dengan Mu’tazilah, Jabariyyah, Murjiah dan lainnya. Mereka disesatkan bukan karena memiliki AD ART, melainkan karena manhaj dan akidah mereka.

Sama juga halnya dengan sebab penamaan akidah Thahawiyyah yang tidak lain akidah ahlusunnah waljama’ah. Penamaannya sebagai akidah thahawiyyah tidak menjadikannya sebagai akidah munfashilah (akidah tersendiri/terpisah) dari akidah ahlusunnah. Para ulama menyebutkannya sebagai akidah thahawiyyah hanya sebagai tamyiz (pembeda) bukan mengeluarkan pada akidah ahlusunnah. Maka perbedaan nama tidak menjadi masalah selama akidah dan tujuannya satu, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah sebelumnya.

Salafy itu benar, tapi jika yang mengaku salafy lalu mudah menyesatkan orang lain pada perkara-perkara yang halal, itu bukan manhaj salafy ahlusunnah waljama’ah.

Yang mencoba berusaha untuk menjadi salafy walau belum seperti mereka
Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi
Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

1 komentar:

  1. Barokallohu fykum akhi... Jazakallahu khaer penjelasannya. Perkenalkan ana ahmad asal sinjai utara. Saat ini mukim di pondok ibnu qoyyim balikpapan asuhan ustadz asykari. Mengenal manhaj salaf tahun 2008, mondok di ustadz askary tahun 2009.. dan akhir2 ini Ana banyak tercerahkan oleh artikel2 yg antum tulis dalam masalah yg seperti ini. Begitu juga ana banyak dapat faidah dari situs al-inshaf. Padahal sebelumnya ana tdk mau baca artikel yg diluar golongan ana. Karna dianggapp syubhat semua sehingga hidayah pun sulit digapai.. Tapi karena hidayah dari allah, dengan sebab perpecahan di kalangan kami, dan perpecahan ini selalu saja terjadi alhamdulillah, ana akhirnya mau membaca tulisan2 diluar kelompok ana. Sebab ternyata terlalu banyak tuduhan dusta yg diarahkan contoh kepada sayyid qutb yg dituduh berfaham wihdatul wujud olh syekh robi, dan diluruskan oleh anggota haiah kibar syekh bakr abu zaid, tuduhan atas wahdah yg berfaham khawarij dengan menukil berita dari metro yg pada akhirnya metro pun minta maaf karna salah dll dan masih terlalu banyak,,, maka dalam rangka cek dan ricek tabayyun dan tatsabbut atas berbagai tuduhan yg tersebar maka wajib bagi siapapun untuk menelaah tulisan yg diluar kelompoknya.. kalau tdk maka dia akan terus tersesat dengan info2 dusta yg dia dapat....
    Mungkin ini sedikit komentar dari ana. Ana minta nomor wa antum, mungkin kita bisa berbagi faidah di wa, ini nomer ana 085845503135

    BalasHapus

Silahkan Memberi komentar