Minggu, 19 Juni 2016

Bolehkah Menikahi Anak Perempuan Saudara Bapak Atau Anak Perempuan Saudara Ibu?




Pernikahan merupakan sesuatu yang sangat sakral dalam islam, sebab ia menjadikan sesuatu yang awalnya haram menjadi halal. Mengetahui hukum-hukum pernikahan sangat penting, sebab jika terjatuh dalam kesalahan tentang hukum-hukumnya, maka pernikahan seseorang bisa dianggap tidak sah. Kadang ada orang-orang yang menikahi orang-orang yang tidak boleh mereka nikahi (haram untuk dinikahi) yang mengakibatkan pernikahan mereka secara syariat haram . Akhirnya, pelakunya tergolong berzina selama kehidupan mereka. Misalnya, anak menikahi ibu tirinya, atau bapak menikahi anak tirinya, setelah menikahi ibunya dan mencampurinya dan lain-lain.
Mengenai hukum menikahi anak perempuan saudara bapak (anak paman) atau anak perempuan saudara ibu (anak bibi), maka hukum islam membolehkannya. Sebab mereka tidak masuk dalam kategori maharim (orang-orang yang haram dinikahi).

Allah azza wajalla berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالاتِكَ اللاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (٥٠)

“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 50)

Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya “Taisiru al-Karimi ar-Rahman Fi Tafsir Kalami al-Mannan” menafsirkan ayat tersebut berkata:

{ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ } أي: أعطيتهن مهورهن، من الزوجات، وهذا من الأمور المشتركة بينه وبين المؤمنين، [فإن المؤمنين] كذلك يباح لهم ما  آتوهن أجورهن، من الأزواج.

“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya” Maksudnya yang telah engkau berikan mahar mereka kepada istri-istrimu. Perkara ini penyebutan hukumnya musytarak (untuk Nabi dan kaum mu’minin). Karena kaum mu’minin juga dihalalkan untuk mereka setelah mereka memberikan mahar kepada istri-istri mereka.

Pada ayat yang menyebutkan tentang anak-anak perempuan saudara bapak dan saudara ibu, beliau berkata:

وكذلك من المشترك، قوله { وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالاتِكَ } شمل العم والعمة، والخال والخالة، القريبين والبعيدين، وهذا حصر المحللات. يؤخذ من مفهومه، أن ما عداهن من الأقارب، غير محلل

“Demikian pula yang merupakan perkara musytarak (penyebutan hukumnya sama baik itu untuk Nabi atau kaum mu’minin). Firman Allah “Dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu.” Mencakup paman dari jalur bapak, paman dari jalur ibu, bibi dari jalur bapak dan bibi dari jalur ibu, yang dekat ataupun yang jauh. Ini merupakan batasan penghalalannya. Dipahami dari sini bahwa keluarga-keluarga selain dari yang disebutkan ini tidak halal.” (Taisiru al-Karimi ar-Rahman Fi Tafsiri al-Kalami al-Mannan: 785)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

هذا عدل وَسط بين الإفراط والتفريط؛ فإن النصارى لا يتزوجون المرأة إلا إذا كان الرجل بينه وبينها سبعة أجداد فصاعدا، واليهود يتزوج أحدهم بنت أخيه وبنت أخته، فجاءت هذه الشريعة الكاملة الطاهرة بهدم إفراط النصارى، فأباح بنت العم والعمة، وبنت الخال والخالة، وتحريم (2) ما فَرّطت (3) فيه اليهود من إباحة بنت الأخ والأخت وهذا شنيع فظيع.

“Inilah bentuk keadilan dan pertengahan antara perbuatan berlebih-lebihan dan memudah-mudahkan. Sesungguhnya orang-orang nashrani tidak menikahi seorang wanita kecuali jarak antara laki-laki dan perempuan itu berbeda tujuh generasi atau lebih. Sedangkan orang-orang Yahudi menikahi anak perempuan dari saudara laki-laki mereka dan anak perempuan dari saudara perempuan mereka. Maka syariat yang sempurna dan suci ini datang dengan membatalkan perbuatan berlebih-lebihan dari kalangan Nashrani sehingga menghalalkan menikahi anak perempuan paman dari jalur bapak dan ibu serta anak perempuan bibi dari jalur bapak dan ibu  dan perbuatan. Syariat ini juga mengharamkan perbuatan bermudah-mudahan yang dilakukan orang-orang Yahudi dari menghalalkan anak perempuan saudara laki-laki dan anak perempuan saudara perempuan, dan ini merupakan perbuatan yang buruk dan amat mengerikan.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/445)

Wallahu a’lam bishshowab.


15 komentar:

  1. Saya mau di jodohkan dengan anak perempuan dari saudara laki2 ayah saya perjodohan itu berarti hukumnya halal ya pak? Terimakasih

    BalasHapus
  2. kakek saya punya adik perempuan trus adik perempuam kakek saya tersebut punya anak apa boleh anaknya itu saa nikahi?

    BalasHapus
  3. bisa dijelasin kenapa bisa boleh ya?

    BalasHapus
  4. Saya mau tanya admin..bolehkah saya menikahi anak dri cucunya kakak bapa sya...

    BalasHapus
  5. Assalamuallaikum
    Ibu saya punya saudara perempuan dan dia punya anak perempuan terakhir
    Sedangkan saya adalah anak laki laki dr ibu saya yang kebetulan adik dr ibu si anak perempuan itu tadi apakah sah atau boleh di nikahi
    Trimakasih

    BalasHapus
  6. Assalamulaikum, mau nanya nih...
    Kakak ayah saya punya anak. Perempuan, boleh dinikahi gk??!
    Terima kaaih

    BalasHapus
  7. Saya punya sepupu laki-laki anaknya pakde (kakak ibu saya), boleh kah kami menikah?

    BalasHapus

Silahkan Memberi komentar