Jumat, 24 Juni 2016

Hukum Shalat Fardhu Di Dalam Pesawat Dengan Kondisi Kiblat Sering Berubah Dan Susah Berdiri





Qiyam (berdiri) pada saat melakukan shalat wajib dan menghadap kiblat merupakan dua rukun dari rukun-rukun shalat fardhu. Meninggalkan kedua rukun ini bisa membatalkan shalat, atau menjadikan shalat seseorang manjadi tidak sah.

Pada kondisi safar dengan menggunakan pesawat terbang, para penumpang tentu akan kesusahan mengetahui arah kiblat, begitu juga shalat dalam posisi qiyam, oleh karena itu penting bagi setiap muslim mengetahui hukum-hukum seputar masalah ini. Mengenai hal ini,   Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah berkata:

الراكب في الطائرة إن كان يريد أن يصلي صلاة نفل فإنه يُصلي حيث كان وجهه ولا يلزمه أن يستقبل القبلة لأنه ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان يصلي على راحلته حيثما اتجهت به إذا كان في سفر ، وأما الفريضة فلا بد من استقبال القبلة ولا بد من الركوع والسجود إذا أمكن وعلى هذا فإن من تمكن من هذا في الطائرة فليصل في الطائرة وإن كانت الصلاة التي حضرت وهو في الطائرة مما يُجمع إلى ما بعده كما لو حضرت صلاة الظهر فإنه يؤخرها حتى يجمعها مع العصر أو حضرت صلاة المغرب وهو في الطائرة يؤخرها حتى يجمعها مع العشاء . ويجب عليه أن يسأل المضيفين عن اتجاه القبلة إذا كان في طائرة ليس فيها علامة القبلة فإن لم يفعل فصلاته غير صحيحة

“Seorang yang bersafar dengan pesawat jika hendak mengerjakan shalat sunnah, maka boleh baginya mengerjakan shalat dimana saja arahnya, tidak wajib baginya menghadap kiblat saat mengerjakan shalat saat itu. Sebagaimana telah tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau pernah shalat di atas hewan tunggangannya dan terus shalat sesuai arah yang dituju oleh hewan tunggangannya itu.

Adapun dalam kondisi shalat fardhu, maka harus menghadap kiblat, melakukan ruku’ dan sujud, jika dia mampu melakukan hal itu. Maka dari itu, bagi siapa saja yang mampu melakukan hal ini di dalam pesawat, maka hendaknya dia shalat di dalam pesawat. Jika seandainya shalat yang akan dia kerjakan adalah shalat yang bisa di jamak dengan shalat setelahnya, misalnya jika telah masuk shalah zhuhur, maka hendaknya dia mengakhirkan shalatnya hingga dia shalat dalam kondisi jamak pada saat shalat ashar. Atau misalnya telah masuk shalat magrib dan dia berada di dalam pesawat, maka hendaknya dia mengakhirkannya hingga dia shalat diwaktu isya dengan menjamaknya. Dan wajib baginya untuk bertanya pada pelayan pesawat tentang arah kiblat jika di dalam pesawat tidak ada tanda arah kiblat. Jika dia tidak malakukan hal itu (bertanya) maka shalatnya tidak sah”.  (Dinukil Dari Web Islam Sual Wa Jawab dari Majallah al-Adad: 1757 halaman 45)

Lajnah Daimah Saudi Arabia juga pernah mengeluarkan fatwa sebagai berikut:

إذا حان وقت الصلاة والطائرة مستمرة في طيرانها ويخشى فوات وقت الصلاة قبل هبوطها في أحد المطارات - فقد أجمع أهل العلم على وجوب أدائها بقدر الاستطاعة، ركوعا وسجودا واستقبالا للقبلة؛ لقوله تعالى: { فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ } ولقوله صلى الله عليه وسلم: « إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم »، أما إذا علم أنها ستهبط قبل خروج وقت الصلاة بقدر يكفي لأدائها أو أن الصلاة مما يجمع مع غيره كصلاة الظهر مع العصر وصلاة المغرب مع العشاء، وعلم أنها ستهبط قبل خروج وقت الثانية بقدر يكفي لأدائهما - فقد ذهب جمهور أهل العلم إلى جواز أدائها في الطائرة؛ لوجوب الأمر بأدائها بدخول وقتها حسب الاستطاعة، كما تقدم، وهو الصواب.

“Jika telah masuk waktu shalat, sedangkan pesawat melanjutkan penerbangannya dan dikhawatirkan waktu shalat akan habis sebelum pesawat itu mendarat di salah satu bandara, maka dalam hal ini para ulama telah bersepakat akan wajibnya mengerjakan shalat di dalam pesawat sesuai kemampuannya, dengan tetap melakukan ruku’, sujud dan menghadap kiblat. Sebagaimana firman Allah azza wajalla (bertakwalah sesuai kemampuan kalian) juga sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika aku memerintahkan kalian untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah sesuai kemampuan kalian”.

Adapun jika dia mengetahui bahwa pesawat akan segera mendarat sebelum waktu shalat habis, dengan perhitungan dia bisa mengerjakannya, atau merupakan shalat yang bisa dijamak dengan shalat lainnya, seperti shalat zhuhur dan shalat ashar atau shalat magrib dan shalat isya, dan dia mengetahui bahwa pesawat akan mendarat sebelum waktu shalat yang kedua berakhir dengan perhitungan mampu melaksanakannya, maka dalam hal ini jumhur ulama berpendapat boleh melaksanakannya di dalam pesawat. Sebab wajib untuk melakukan shalat jika waktunya sudah masuk sesuai kemampuannya. Dan pendapat inilah yang benar.” (Fatwa Lajnah Daimah: 8/120)

Syaikh Abdul Aziz Ibnu Abdillah Ibu Baz rahimahullah berkata:

“Wajib bagi setiap muslim yang berada di dalam pesawat atau di padang pasir untuk bersungguh-sungguh mengetahui arah kiblat, dengan cara bertanya kepada orang yang berpengalaman, atau dengan cara melihat tanda arah kiblat, hingga ia shalat menghadap kiblat dengan ilmu. Jika dia tidak bisa melakukan hal itu, maka hendaknya dia bersungguh-sungguh mencari arah yang tepat mengarah ke kiblat lalu shalat pada arah tersebut. Hal itu telah boleh baginya, adapun jika setelah melakukan shalat nampak padanya bahwa perbuatannya tadi adalah kesalahan dalam menentukan arah kiblat, maka tidak mengapa, sebab dia telah bersungguh-sungguh dan bertakwa kepada Allah sesuai kemampuannya. Dan juga tidak boleh bagi dia melaksanakan shalat wajib di dalam pesawat atau di padang pasir tanpa bersungguh-sungguh untuk mengetahui arah kiblat sebelumnya. Jika dia melakukannya tanpa sungguh-sungguh, maka wajib baginya mengulangi shalat, sebab dia tidak bertakwa kepada Allah sesuai kemampuannya dan tidak bersungguh-sungguh.

Adapun mengenai pertanyaan penanya tentang shalat dalam keadaan duduk, maka tidak mengapa baginya shalat dalam keadaan duduk jika dia tidak mampu shalat dalam keadaan berdiri, seperti orang yang shalat di dalam kapal jika dia tidak dapat berdiri. Dalilnya adalah firman Allah azza wajalla (bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuanmu)

Jika dia mengakhirkan shalat hingga pesawat itu mendarat, maka tidak mengapa seandainya waktu masih cukup lapang. Dan ini semua dilakukan dalam keadaan shalat fardhu. Adapun pada kondisi shalat nafilah, maka tidak wajib baginya menghadap kiblat, baik itu dia dalam pesawat, mobil, atau di atas hewan tunggangan. Sebab telah tsabit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya dahulu ketika beliau melakukan safar, beliau melakukan shalat nafilah (sunnah) di atas unta, yang selalu menghadap pada tempat ia berjalan.” (Majmu Fatawa: 30/189)

Iika pada saat shalat wajib di dalam pesawat arah kiblat berubah, maka wajib baginya untuk bergerak dan berpindah sesuai arah kiblat. Jika tidak dilakukan, maka shalat menjadi batal.

Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

حكم الصلاة فيما إذا تغير اتجاه الطائرة أن يستدير المصلي في أثناء صلاته إلى الاتجاه الصحيح,كما قال ذلك أهل العلم في السفينة في البحر , أنه إذا تغير اتجاهها فإنه يتجه إلى القبلة ولو أدى ذلك إلى الاستدارة عدة مرات,الواجب على قائد الطائرة إذا تغير اتجاه الطائرة أن يقول للناس قد تغير الاتجاه فانحرفوا إلى الاتجاه الصحيح,هذا في صلاة الفريضة.

“Hukum shalat jika arah pesawat berubah, yaitu hendaknya seorang yang shalat bergerak dan berpindah ke arah kiblat yang benar saat dia shalat. Sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama bagi orang yang shalat di atas kapal laut, yaitu apabila kiblat berubah, maka wajib bagi yang shalat untuk bergerak mengarah ke kiblat, walaupun dia melakukan itu (bergerak mengarah ke kiblat) beberapa kali.

Dan wajib pula bagi pilot untuk memberitahukan penumpang bahwa arah kiblat berubah jika terjadi perubahan arah kiblat, sehingga mereka bisa bergerak mengarah pada arah kiblat yang benar. Hal ini pada shalat wajib.” (Majmu’ Fatawa Wa Rasail Ibnu Utsaimin: 15/256)

Oleh karena itu hendaknya setiap muslim betul-betul bersungguh-sungguh dalam hal ini. Seorang penumpang yang  ingin melaksanakan shalat hendaknya meminta pada pelayan dalam pesawat untuk memberitahukannya jika arah pesawat selalu berubah. Kemudian dia bergerak sesuai instruksi dari pelayan pesawat (pilot atau pramugari) tersebut. Ini menunjukkan kesungguhannya dalam bertakwa kepada Allah, sebab merupakan hak baginya untuk dilayani dan merupakan kewajiban bagi pilot dan pramugari untuk melayani para penumpang. Jika dia telah meminta hal itu kepada pelayan pesawat dan tidak ada pemberitahuan dari mereka, maka dia sudah memperlihatkan kesungguhannya dan ketakwaannya kepada Allah sesuai kemampuannya, sedang pertanggung jawaban arah kiblat tersebut pada pelayan pesawat.

Karena posisi qiyam saat shalat fadhu merupakan rukun, maka tidak boleh juga seseorang bermudah-mudahan dalam hal ini. Jika seseorang mampu untuk qiyam namun tidak memungkinkan baginya untuk ruku’ dan sujud dikarenakan sempitnya tempat, maka baginya tetap berdiri. Namun untuk posisi ruku’ dan sujudnya cukup baginya untuk membungkukkan badannya, dimana untuk posisi sujud lebih rendah dari posisi ruku’. Hal ini diqiyaskan dengan seorang yang shalat  fardhu dengan cara berbaring ketika sakit.

Hal ini pula berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi rahimahullah bahwasanya dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dalam perjalanan berhenti pada tempat yang sempit, sementara waktu shalat telah masuk, hujan turun dan keadaan tanah basah. Maka Nabi shallallahau ‘alaihi wasallam memerintahkan seseorang untuk adzan, setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maju dan memimpin mereka shalat sementara beliau di atas kendaraannya, dengan isyarat dimana mereka menjadikan sujud lebih rendah dari ruku’.

Riwayat ini dinukil pula oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Syarhul Umdah 4/518 dan Imam an-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu’: 3/106 hanya saja, imam Nawawi berpendapat tetap harus mengulangi shalat.

Guru kami a-Ustadz Muhammad Yusran hafizahullah berkata : “Jika dalam masalah ini harus memilih salah satu dari dua pendapat, maka kami condong pada perkataan syaihkhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Dimana dalam pandangan kami yang qashir ini, pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah lebih dekat pada maqashid syariah, yaitu firman Allah yang artinya:  “Bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuan kalian”, juga firman Allah yang artinya “Allah tidak membebani hambanya kecuali sesuai kemampuannya”, juga firman Allah yang artinya “Allah menginginkan kepada kalian kemudahan dan tidak menginginkan kesukaran”.

Sesungguhnya kesulitan mendatangkan kemudahan, dan tidak perbedaan dari kalangan ulama bahwasanya safar merupakan merupakan sesuatu yang berat.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang safar bahwasanya ia merupakan bagian dari azab.”


Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy  

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar