Kamis, 16 Juni 2016

Hukum Wanita Haid Membaca Qur’an




Wanita Haid dan Nifas Membaca Qur’an Tanpa Menyentuh Mushaf

Para Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi dua pendapat.

Pendapat Pertama: Pendapat jumhur ulama yang mengharamkan wanita-wanita haid membaca al-Qur’an.

Dalil-dalil mereka adalah:

Hadits yang berasal dari sahabat Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئاً من القرآن

“Tidak boleh bagi wanita haid dan seorang yang junub membaca al-Qur’an.”

Hadits ini diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Daruquthni dan al-Baihaqi. Namun para ulama menilainya sebagai hadits yang dhaif, karena pada perawinya terdapat Ismail Ibnu Iyasy yang meriwayatkan dari kalangan hijaziyyin (orang-orang hijaz). Sementara para ulama yang mengetahui ilmu hadits mengatakan bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh beliau dari mereka dihukumi dhaif.

Imam az-Zaili’I rahimahullah menukil perkataan Imam Ahmad Ibnu Hambal dan Imam Yahya Ibnu Mu’in rahimahumallah tentang Ismail Ibnu Iyasy beliau berkata:

هذَا حديث ينفرد بن إسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، وَرِوَايَتُهُ عَنْ أَهْلِ الْحِجَازِ ضَعِيفَةٌ لَا يُحْتَجُّ بِهَا، قَالَهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ. وَيَحْيَى بْنُ مَعِينٍ. وَغَيْرُهُمَا مِنْ الْحُفَّاظِ

“Hadits ini diriwayatkan oleh Ismail Ibnu Iyasy sendirian. Dan riwayat-riwayatnya dari kalangan ahli hijaz lamah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad Ibnu Hambal, Imam Yahya Ibnu Mu’in dan selain mereka berdua dari kalangan para huffazh.” (Nashbu ar-Rayah: 1/195)

Diantara dalil mereka juga adalah hukum wanita haid membaca al-Qur’an disamakan dengan hukum seorang yang junub membaca al-Qur’an. Sebagaimana telah tsabit hadits dari Ali radhiyallahu ‘anhu bahwasanya tidak ada yang menghalangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca al-Qur’an kecuali karena dalam keadaan junub.

Pendapat Kedua: Pendapat Mazhab Malikiyyah, riwayat dari Imam Ahmad dan pendapat ini yang dipilih pula oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah. Pendapat ini yang penulis kuatkan.

Mengenai dua dalil pendapat yang pertama, para ulama telah menjelaskan bahwasanya hadits yang digunakan oleh mereka sebagai dalil merupakan hadits dhaif, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Sedangkan menyamakan hukum seorang yang junub dengan wanita haid adalah qiyas ma’a al-fariq (Qiyas yang tidak sama). Sebab seorang yang junub waktunya tidak lama, ketika waktu shalat dia sudah diwajibkan suci sedangkan wanita haid waktunya lama terlebih wanita yang nifas.

Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah berkata:

هذا قياس غير صحيح ، لأن حالة الحائض والنفساء غير حالة الجنب ، الحائض والنفساء مدتهما تطول وربما شق عليهما ذلك وربما نسيتا الكثير من حفظهما للقرآن الكريم ، أما الجنب فمدته يسيرة متى فرغ من حاجته اغتسل وقرأ ، فلا يجوز قياس الحائض والنفساء عليه ، والصواب من قولي العلماء أنه لا حرج على الحائض والنفساء أن تقرأ ما تحفظان من القرآن

“Qiyas semacam ini tidak benar, sebab keadaan wanita haid dan nifas berbeda dengan keadaan seorang yang junub. Seorang yang haid dan nifas waktu mereka cukup lama sehingga jika mereka tidak membaca al-Qur’an hal itu bisa menghilangkan hafalan al-Qur’an mereka. Adapun seorang yang junub maka waktunya sangat singkat, kapan ia selesai dari hajatnya maka dia boleh mandi dan membaca al-Qur’an. Maka tidak benar mengqiyaskan wanita haid dan nifas terhadap seorang yang junub. Yang benar dari dua perkataan ulama bahwasanya tidak mengapa wanita haid dan nifas membaca al-Qur’an dengan hafalan mereka.” (Majmu’ al-Fatawa: 6/364)

Wanita Haid dan Nifas Membaca Qur’an Dengan Mushaf

Pada masalah ini pendapat yang benar dari perbedaan pendapat para ulama adalah haram bagi wanita membaca al-Qur’an dengan memegang/menyentuh mushaf. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah azza wajalla:

لا يمسه إلا المطهرون

“Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang berada dalam keadaan suci.” (QS. Al-Waqiah: 79)

Juga sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

ألا يمس القرآن إلا طاهر

“Tidak boleh ada yang menyentuh al-Qur’an kecuali seorang yang suci.” (HR. Malik, Nasai, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi)

Pendapat ini merupakan pendapat jumhur Ahli Fiqih, yaitu Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Dan Imam Syafi’I rahimahumullah, dimana mereka memahami dari ayat tersebut bahwa kesucian merupakan syarat yang harus dipenuhi ketika hendak menyentuh mushaf. (Bidayatul Mujtahid: 1/57)

Wanita Haid dan Nifas Membaca Qur’an Dengan Mushaf Terjemahan

Mushaf terjemahan hukumnya sama dengan mushaf tafsir. Para ulama juga berbeda pendapat dalam masalah ini. Mazhab Syafi’iyyah merinci masalah ini, jika tafsirnya lebih banyak maka boleh bagi wanita haid untuk membacanya, sedangkan jika isi al-Qur’an lebih banyak dari tafsir, maka wanita haid dan nifas tidak boleh membacanya. 
Imam an-Nawai rahimahullah berkata:

كتاب تفسير القرآن ان كان القرآن فيه أكثر كبعض كتب غريب القرآن حرم مسه وحمله وجها واحدا كذا ذكره الماوردى وغيره ونقله الروياني عن الاصحاب وان كان التفسير أكثر كما هو الغالب ففيه أوجه اصحها لا يحرم لانه ليس بمصحف

“Pada masalah kitab tafsir al-Qur’an, jika seandainya isi al-Qur’an lebih banyak dari tafsirnya seperti beberapa kitab gharibul Qur’an maka haram untuk di sentuh dan dibawa karena dalam bentuk satu wajah (satu jilid-pent). Seperti itu pula disebutkan oleh imam al-Mawardi dan selainnya dan dinukil pula oleh ar-Rauyani dari ashhabul Mazhab. Dan jika seandainya isi tafsir lebih banyak yang terdiri dari beberapa jilid maka tidak diharamkan menyentuhnya, karena dia bukanlah mushaf. (al-Majmu’: 2/69)

Mazhab Hanafiyyah mengharamkan secara muthlak, walau mengandung tulisan yang di tulis dengan tulisan selain Bahasa Arab.  

Sedangkan mazhab Hanabilah membolehkan secara muthlak seorang wanita haid atau nifas membaca al-Qur’an terjemahan, karena terjemahan tidak disebut sebagai mushaf. Pendapat inilah yang penulis kuatkan dan yakini  dalam masalah ini.

Markaz Fatwa dibawah asuhan Dr. Abdullah al-Faqih menyebutkan:

فلا حرج عليك في أن تعطي زميلك نسخة من المصحف المترجم باللغة الإنجليزية، لأن الكافر ممنوع من مس القرآن الكريم، والترجمة ليست قرآنا، بل هي من قبيل التفسير، لأن القرآن هو: اللفظ العربي المنزل على سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم، ولذا قال الفقهاء رحمهم الله تعالى: لا تحرم قراءة الترجمة على الجنب والحائض، وكذا الكافر

“Tidak mengapa bagimu untuk memberi sahabatmu mushaf terjemahan dalam bahasa inggris. Sebab tidak boleh bagi orang kafir menyentuh al-Qur’an al-Karim. Adapun terjemahan bukanlah al-Qur’an, melainkan hukumnya hukum tafsir. Sebab al-Qur’an adalah lafaz berbahasa Arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. oleh karena itu para fuqaha rahimahumullah mengatakan tidak diharamkan membaca kitab terjemahan bagi seorang junub atau haid, begitupula bagi orang-orang kafir.”

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:

يجوز إمساك كتب التفسير من غير حائل ومن غير طهارة ; لأنها لا تسمى مصحفا , أما المصحف المختص بالقرآن فقط فلا يجوز مسه لمن لم يكن على طهارة

“Boleh memegang kitab tafsir tanpa pembatas dan dalam keadaan tidak dalam keadaan suci. Sebab kitab tafsir tidak disebut sebagai mushaf. Adapun mushaf yang khusus berisi al-Qur’an saja maka tidak boleh menyentuhnya bagi orang-orang yang tidak dalam keadaan suci.” (10/148)

Beliau juga berkata:

لا حرج أن يمس الكافر ترجمة معاني القرآن الكريم باللغة الإنجليزية أو غيرها من اللغات ؛ لأن الترجمة تفسير لمعاني القرآن , فإذا مسها الكافر أو من ليس على طهارة فلا حرج في ذلك ؛ لأن الترجمة ليس لها حكم القرآن وإنما لها حكم التفسير , وكتب التفسير لا حرج أن يمسها الكافر ومن ليس على طهارة


“Tidak mengapa bagi orang kafir menyentuh terjemah makna-makna al-Qur’an al-Karim yang berbahasa Inggris atau bahasa lainnya. Karena terjemahan merupakan tafsir untuk makna-makna al-Qur’an. Jika seorang kafir menyentuhnya, atau orang-orang yang berada dalam keadaan tidak bersuci maka hukumnya tidak mengapa. Sebab kitab terjemahan hukumnya bukan hukum al-Qur’an, melainkan hukum kitab tafsir. Sementara kitab tafsir boleh disentuh oleh orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak dalam keadaan bersuci.” (Majmu’ al-Fatawa: 5/405)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar