Senin, 13 Juni 2016

Hukum Wanita Yang Belum Mengqadha Puasanya Selama 2 Tahun Dan Ia Masih Belum Mampu Mengqadhanya



Pertanyaan:

Saudara perempuan saya selalu tidak berpuasa beberapa hari di bulan karena kehamilannya semenjak 2 tahun yang lalu. Dan ia masih dalam kondisi lemah untuk menqadhanya, apa yang harus dia lakukan?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah.

Seorang wanita yang hamil –begitu juga yang menyusui- jika dia takut terhadap dirinya atau pada kondisi janinnya saat berpuasa, maka baginya boleh untuk tidak berpuasa pada bulan ramadhan dan cukup baginya untuk mengqadha saja, karena kondisinya sama dengan orang yang sakit.

Kemudian jika dia mampu untuk mengqadha sebelum masuknya bulan ramadhan yang baru, wajib baginya untuk mengqadhanya dan tidak boleh menundanya hingga masuk ramadhan yang berikutnya.  Jika udzurnya masih berlanjut karena ia hamil lagi, atau karena menyusui, atau karena sakit, atau safar hingga masuk ramadhan berikutnya, maka tidak mengapa baginya. Cukup baginya untuk mengqadha kapan ia mampu melakukannya.

Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya mengenai hal ini, dimana penanya berkata:

Ada seorang wanita yang tidak berpuasa di bulan ramadhan karena nifas dan dia tidak mampu untuk mengqadhanya karena ia menyusui anaknya, sampai masuk ramadhan berikutnya. Maka apa yang harus dilakukan oleh wanita ini?

Beliau menjawab:

Yang wajib bagi wanita ini adalah berpuasa untuk menggantikan hari-hari yang dia tiggalkan saat bulan ramadhan, walau setelah bulan ramadhan yang berikutnya. Sebab dia tidak menqadha puasanya antara ramadhan yang pertama dan kedua karena udzur syar’i.

Namun jika tidak memberatkan dirinya hendaknya ia mengqadhanya pada waktu-waktu tertentu walau selang beberapa hari. Karena hal itu adalah kewajiban baginya. Jika dia dalam kondisi menyusui, hendaknya dia bersemangat sesuai kemampuannya untuk mengqadha puasanya sebelum datangnya ramadhan berikutnya. Jika dia tidak mampu, maka tidak mengapa baginya untuk menundanya hingga masuknya bulan ramadhan berikutnya.

Beliau rahimahullah juga pernah ditanya:

Ada seorang wanita yang tidak berpuasa di bulan ramadhan karena ia baru saja melahirkan, namun dia tidak menqadha puasanya itu dalam waktu yang sangat panjang, namun dia tidak mampu berpuasa. Maka bagaimana hukumnya?

Beliau menjawab:

Wajib bagi wanita ini untuk bertaubat kepada Allah atas apa yang dia lakukan, karena tidak boleh bagi seseorang menunda membayar utang puasa hingga masuk ramadhan berikutnya kecuali karena udzur syar’i. Maka hendaknya dia bertaubat, kemudian jika dia mampu untuk berpuasa walau selalu dengan selang-seling waktu, maka hendaknya dia berpuasa.

Jika dia tidak mampu berpuasa, maka harus diperhatikan, jika dia memiliki udzur syar’i yang selalu berlanjut maka baginya cukup memberi makan (membayar fidyah), jika dia memiliki udzur syar’i yang diperkirakan uduzur tersebut bisa hilang, maka uduzurnya itu ditunggu hingga hilang kemudian dia menqadha puasanya. Selesai kutipan.

Penanya pada pertanyaan tersebut tidak menjelaskan sebab kelemahan saudaranya tidak menqadha puasanya. Jika kelemahannya itu hanya beberapa waktu saja dan diperkirakan udzurnya bisa hilang (hamil, atau menyusui, atau sakit) maka baginya untuk menqadha puasanya jika ia mampu melakukannya.

Dan jika kelemahannya selalu berlanjut karena sebab sakit yang telah diperkirakan tidak sembuh lagi, maka tidak perlu dia menqadha dan cukup baginya untuk memberikan makan kepada orang miskin pada setiap hari yang ditinggalkan itu.

Wallahu a’lam.

Sumber:  web Fatwa Sual wa Jawab di bawah bimbingan Syaikh Shalih al-Munajjid hafizahullah.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar