Selasa, 21 Juni 2016

Saudaraku, Hati-Hati Dengan Lisanmu



Dahulu seorang sahabat pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah aku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jagalah ini,” sambil mengisyaratkan lisannya dan mengulang-ulanginya.” (HR. al-Bazzar)

Dahulu Mu’adz radhiyallahu ‘anhu juga pernah diajari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah engkau mau aku tunjukkan kepadamu, empunya segala kebaikan-kebaikan tadi?” Mu’adz menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memegang lisannya dan berkata, “Jagalah ini,” Muadzpun bertanya, “Wahai Nabi Allah apakah kami akan dihukum atas apa yang kami katakan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celaka, wahai Mua’dz bukankah manusia ditelungkupkan di neraka di atas wajah-wajah mereka (atau Nabi berkata di atas kerongkongan mereka) disebabkan lisan-lisan mereka?” (HR. Tirmidzi)

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan satu kalimat, ternyata dia masuk ke dalam neraka karena ucapannya itu yang jaraknya sejauh timur dan barat.” (HR. Bukhari)

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya seseorang hamba tidak akan istiqamah keimanannya hingga hatinya telah istiqamah, dan hatinya tidak akan istiqmah hingga lisannya telah istiqamah.” (HR. Ahmad)

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan satu ucapan yang dibenci Allah sementara dia menganggapnya sebagai sesuautu yang remeh, ternyata dengan itu dia masuk ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Bukhari)

Dahulu Ibnu Buraidah rahimahullah pernah berkata, “Aku melihat Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma memegang lisannya dan berkata, “Celakalah engkau, katakanlah yang baik kau akan beruntung atau diamlah dari keburukan kau akan selamat. Jika tidak, ketahuilah engkau pasti akan menyesal.” (Jami’ul Ulum Wal Hikam: 310)

Saudaraku, lisan ini memang tidak bertulang tapi dia perlu dijaga agar tidak sembarang dalam bertutur kata. Kadang kita berbicara dengan saudara kita, menganggap candaan-candaan kita kepadanya sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, namun ternyata hal itu menyakiti hati saudara kita.

Saudaraku, hati-hatilah, jangan sampai karena ucapan itulah yang membuat dirimu masuk ke dalam neraka. Jika engkau pernah melakukan itu, jika ada saudaramu yang terzhalimi dari ucapanmu, maka segeralah minta maaf. Ini bukanlah perkara remeh.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah pernah berkata, “Sesungguhnya setiap manusia sedang bertani dengan perkataannya dan amalannya yang baik ataupun yang buruk, lalu akan dipanen saat hari kiamat atas apa yang selama ini dia tanam. Siapa yang menanam kebaikan-kebaikan dari perkataan dan perbuatannya, niscaya dia akan memanen kemuliaan dan barangsiapa yang menanam keburukan dari perkataan dan perbuatannya niscaya dia akan menyesal.” (Jamiul Ulum Wal Hikam: 310)

Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Tidak sesuatupun yang lebih aku butuhkan untuk lama dipenjarakan dari lisanku.” (Mukhtashar Minhaj al-Qashidin: 128)

Saudaraku, semua orang punya kekurangan, maka jangan engkau hina. Semua orang punya aib, maka jangan engkau permalukan. Lihatlah diri sendiri yang begitu memiliki banyak aib dan kekurangan. Diri ini hanyalah manusia lemah, dimana berbuat salah hampir menjadi kebiasaan sehari-harinya. Karena itu Allah selalu membuka pintu taubat selama matahari belum terbit dari barat dan nafas belum sampai di tenggorokan. Mungkin kita sedang asyik-asyik membciarakan aibnya yang membuat bencana untuk diri kita sendiri, sedang dia sedang menangis di hadapan Rabbnya memohon ampun atas segala kesalahannya.

Dibulan ramadhan ini, mari perbaiki diri. Jagalah ucapan, semoga kita semua selamat.

Jika ada yang pernah tersakiti oleh lisan ini, mohon maafkanlah.

Al-Faqiru ila Maghfirati Rabbihi

Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar