Sabtu, 30 Juli 2016

Panduan Ringkas Dan Menyeluruh Tentang Sujud Sahwi



(Diringkas Dari Kitab Risalatu Sujudis Sahwi Karya Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah)

Sujud sahwi adalah sujud dua kali yang dilakukan oleh seseorang yang shalat, untuk menutup sesuatu yang cacat dalam shalatnya disebabkan adanya tambahan gerakan, atau kekurangan gerakan, dan atau keraguan.

·         Masalah 1

Jika seseorang melakukan salam sebelum shalat sempurna (belum waktu salam) karena lupa

o   Bentuk/Keadaan

Jika seseorang mengingat perbuatannya itu setelah waktu yang panjang, maka dia harus memulai shalatnya dari awal dengan shalat yang baru. Jika dia mengingat perbuatannya itu dalam waktu yang singkat misalnya dalam waktu 5 menit, maka hendaknya dia menyempurnakan shalatnya kemudian salam kembali.

o   Posisi Sujud Sahwi

Sujud sahwi dilakukan setelah salam, setelah melakukan sujud dua kali ditutup dengan salam kembali.

·         Masalah 2

Gerakan tambahan dalam shalat: Menambah raka’at, berdiri, duduk, ruku’, atau sujud.

o   Bentuk/Keadaan

Jika seseorang mengingat gerakan tambahannya itu setelah selesai shalat, maka tidak ada yang perlu dia lakukan selain sujud sahwi dua kali, kemudian salam. Namun jika dia mengingat gerakan tambahan itu ketika shalat, maka  wajib baginya kembali ke gerakan yang seharusnya dia lakukan dan tidak melanjutkan gerakan tambahannya itu.

o   Posisi Sujud Sahwi

Sujud sahwi dilakukan setelah salam dua kali, kemudian ditutup dengan salam setelah sujud.

·         Masalah 3

Meninggalkan rukun-rukun yang 13 shalat selain takbiratul ihram karena lupa

o   Bentuk/ Keadaan

Jika seseorang meninggalkan satu rukun pada satu raka’at dan dia SUDAH pada posisi raka’at berikutnya, maka raka’at pertama batal, karena telah melupakan satu rukun, sehingga raka’at yang sementara dia berdiri mengerjakannya itu menggantikan raka’at yang batal tadi. Jika dia BELUM sampai pada posisi raka’at berikutnya, maka dia wajib kembali pada keadaan atau tempat rukun yang dia tinggalkan itu, kemudian melakukan rukun itu dan seterusnya dari gerakan shalatnya.

o   Posisi Sujud Sahwi

Dari dua keadaan ini wajib baginya sujud sahwi setelah salam kemudian ditutup dengan salam.

·         Masalah 4

Ragu akan jumlah raka’at dalam shalat
o   Bentuk/Keadaan

Ø  Keadaan pertama: Seseorang ragu akan jumlah raka’at, namun prasangkanya menguatkan satu posisi raka’at. Maka hendaknya dia tetap melakukan raka’at yang sesuai dengan prasangka yang kuat itu kemudian salam.

Ø  Keadaan kedua: seseorang tidak mampu menguatkan salah satu dari dua raka’at yang dia ragukan, maka hendaknya dia memilih jumlah raka’at dengan membangunnya di atas keyakinan, yaitu mengambil jumlah raka’at yang paling sedikit.


o   Posisi Sujud Sahwi

Ø  Untuk keadaan pertama: Sujud sahwi dua kali setelah salam

Ø  Untuk keadaan kedua: Sujud sahwi sebelum salam


·         Masalah 5

Meninggalkan tasyahhud awal karena lupa

o   Bentuk/Keadaan

Ø  Jika seseorang tidak mengingatnya kecuali setelah menyempurnakan raka’at berikutnya (posisi tegak raka’at ke tiga) maka hendaknya dia meneruskan shalatnya dan TIDAK KEMBALI melakukan tasyahhud (Karena telah masuk pada rukun berikutnya)

Ø  Jika seseorang dalam keadaan bangkit menuju raka’at ketiga namun belum dalam keadaan atau posisi belum tegak sempurna, maka hendaknya dia KEMBALI duduk untuk melakukan tasyahhud dan melanjutkan shalatnya


Ø  Jika dia mengingat sebelum dia mengangkat dua pahanya dari kedua betisnya, maka hendaknya dia tetap duduk dan melakukan tasyahhud serta menyempurnakan shalatnya. Keadaan ini tidak perlu sujud sahwi karena seseorang yang lupa belum menambah gerakan dalam shalat.

o   Posisi Sujud Sahwi

Ø  Untuk keadaan pertama, sujud sahwi dilakukan sebelum salam.

Ø  Untuk keadaan kedua, sujud sahwi dilakukan setelah salam

Ø  Untuk keadaan ketiga, tidak melakukan sujud sahwi karena belum menambah gerakan.
Saudaraku yang kucintai

v Jika seseorang melakukan hal-hal yang cacat dalam shalat tadi secara sengaja maka batal shalatnya

v Jika seseorang lupa takbiratul ihram maka seluruh gerakan shalatnya batal, sebab takbiratul ihram merupakan rukun dan kunci pembuka shalat.

Diterjemahkan dengan sedikit perbaikan dari situs shaidul Fawaid: https://saaid.net/Minute/30.htm



Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar