Selasa, 22 November 2016

Kaidah Fiqih || Adh-Dharar Yuzal



Kaidah Fiqih
Adh-Dharar Yuzal (Dharar Harus Dihilangkan)

Ad-dharar yuzaal (Dharar harus dihilangkan) merupakan salah satu dari lima kaidah fiqhiyah al-kubra. Dharar adalah sesuatu yang bersifat membahayakan, merugikan, merusak, melukai, menyulitkan atau makna yang serupa dengannya. Karena itu, hal-hal yang sifatnya seperti itu harus dihilangkan dalam islam.

Asal kaidah ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

لا ضرر ولا ضرار

“Janganlah melakukan sesuautu yang dapat membahayakan.” (HR. Ibnu Majah)

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna dharar dan dhirar. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa makna kedua kata tersebut sama, penyebutan dhirar hanya sebagai bentuk ta’kid (penekanan) dari kata yang pertama.

Sedangkan ulama yang lain ada yang mengatakan bahwa, dharar (ضرر) adalah sesuatu yang terjadi karena tidak memilki niat, sedangkan dhirar adalah sesuatu yang terjadi karena memilki niat. (Syarah Hadits Arbain Karya Syaikh al-Utsaimin: 389)

Makna Kaidah

Syariat tidak menginginkan adanya sesuatu yang merusak, merugikan atau membahayakan orang lain. Oleh karena itu islam tidak menghendaki keberadaannya sehingga diharuskan menghilangkannya setelah keberadaannya.

Contoh kaidah:

Melarang seseorang melakukan sesuatu yang dapat membahayakan manusia di jalanan, misalnya membuat lubang di tengah jalan atau meletakkan besi di tengah jalan manusia.

Kaidah-kaidah cabang dari kaidah besar ini:

1.  Adh-Dharar laa yuzaalu bimitslihi au a’laa minhu (Dharar tidak boleh dihilangkan dengan dharar yang sama dengannya atau dengan dharar yang lebih besar dari dharar yang pertama).
Misalnya: tidak boleh mengambil makanan orang lain untuk menghindari kematian, sedangkan orang yang diambil makanannya juga hendak menggunakan makanan itu untuk menghindarkan dirinya dari kematian. Atau tidak boleh mengambil pakaian orang lain untuk menutupi aurat sendiri sedangkan orang yang diambil pakaiannya itu juga hendak menggunakan pakaian itu untuk menutup auratnya.

2.  Ad-Dharar Yudfa’u Qadru al-Imkan (Dharar dihindari sesuai kemampuan)
Misalnya menutup aurat yang paling besar dan dirasa paling membahayakan jika tidak mampu menutup seluruh aurat yang nampak, sebagai bentuk menghindari mafsadat (kerusakan) sesuai dengan kemampuan.

3.  Tudfa’u a’la mafsadatain birtikabi adnaahuma (ketika terjadi dua mafsadat yang tidak bisa dihandari maka hendaknya mengambil mafsadat yang paling kecil)
Misalnya membelah perut seorang ibu yang telah meninggal dunia untuk mengeluarkan janin yang masih diharapkan atau diperkirakan ia masih hidup. Maka dibolehkan mengambil mafsadat yang lebih kecil berupa membelah perut ibu yang telah meninggal dunia untuk menghindari mafsadat yang lebih besar lagi yaitu kematian seorang janin bersama kematian seorang ibu.

4.  Dar’u al-mafasid muqaddamun ‘ala jalbi al-mashalih (menghindari kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil mashlahat)

Misalnya membunuh seorang yang murtad setelah diberikan nasehat dan dimintai untuk bertaubat demi menghindari mafsadat akan keberadaannya, yaitu itu memberi was-was kepada kaum muslimin atau menyerang akidah mereka dengan syubhat bahwa agama ini masih kurang sehingga mereka bisa murtad sepertinya. Maka ini lebih di dahulukan daripada membiarkannya hidup walau diketahui masih ada mashlahat dari kehidupannya, seperti memberi nafkah kepada anak istrinya, birrul walidain dan lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar