Selasa, 29 November 2016

Syarah Umdatul Ahkam || Hadits Ke 8



Syarah Umdatul Ahkam
Halaqah Ke 8
Kitab Thaharah

Hadits No. 8

عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : (( شَهِدْتُ عَمْرَو بْنَ أَبِي حَسَنٍ سَأَلَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ زَيْدٍ عَنْ وُضُوءِ النَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم - ؟ فَدَعَا بِتَوْرٍ مِنْ مَاءٍ , فَتَوَضَّأَ لَهُمْ وُضُوءَ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَأَكْفَأَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ التَّوْرِ , فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلاثاً , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ , فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلاثاً بِثَلاثِ غَرْفَاتٍ , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاثاً , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ , فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ إلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ , فَمَسَحَ رَأْسَهُ , فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ )) .
وَفِي رِوَايَةٍ : (( بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ , حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إلَى قَفَاهُ , ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ )) . وَفِي رِوَايَةٍ (( أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَأَخْرَجْنَا لَهُ مَاءً فِي تَوْرٍ مِنْ صُفْرٍ ))

Dari Amr Ibn Yahya al-Mazini dari bapaknya, ia berkata: “Aku melihat Amr Ibn Abi Hasan bertanya kepada Abdullah Ibn Zaid mengenai cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia meminta sebuah bejana (yang terbuat dari tembaga) yang berisi air, lalu ia berwudhu dan memperlihatkan kepada mereka cara berwudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia memulai dengan menuangkan sedikit air ke tangannya dari bejana tersebut lalu mencucinya sebanyak 3 kali, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam bejana, kemudian ia berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidungnya lalu mengeluarkannya sebanyak 3 kali, kemudian ia memasukkan kembali tangannya ke dalam bejana lalu mencuci wajahnya 3 kali, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam bejana lalu mencuci tangannya sampai sikunya sebanyak 2 kali, lalu ia mengusap kepalanya dengan kedua telapang tangannya memulainya dari depan ke arah belakang  lalu mengembalikannya ke arah depan sekali saja, lalu mencuci kedua kakinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam satu riwayat: “Beliau memulai dari bagian awal depan kepala (ubun-ubunnya) hingga ke belakang kepala, kemudian mengembalikannya ke tempat ia memulainya semula.” (HR. Bukhari Muslim)
Dalam riwayat lain: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kami, lalu kami memberikannya air dalam sebuah bejana yang terbuat dari kuningan.” (HR. Bukhari)

Pelajajran:

1. Bolehnya berwudhu menggunakan bejana yang terbuat dari tembaga ataupun kuningan.

2. Disyariatkannya berwudhu dengan niat mengajari orang lain bukan niat wudhu ibadah secara khusus.

3. Mengajari orang lain berwudhu dianjurkan dengan gerakan, karena akan lebih memperjelas tata cara berwudhu.

4. Hadits ini menunjukkan sifat wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang benar.

5. Anjuran mencuci tangan sebelum berwudhu

6. Memasukkan tangan ke dalam bejana yang berisi air tidak mempengaruhi kesucian air.

7. Anjuran berkumur-kumur ketika berwudhu dan tidak sekedar memasukkan air kedalam mulut tanpa berkumur-kumur.

8. Anjuran beristinsyaq (menghirup air ke dalam hidung) dan istinstar mengeluarkannya. Hal ini menunjukkan perbuatan yang benar dalam wudhu bukan sekedar membasahi hidung.

9. Bolehnya membedakan jumlah basuhan pada anggota wudhu, sebagaimana Nabi membasuh wajahnya 3 kali dan membasuh tangannya 2 kali.  Adapun membasuh lebih dari 3 kali adalah sesuatu yang tidak boleh.

10. Mengusap seluruh kepala saat berwudhu sebanyak satu kali berlaku bagi laki-laki dan perempuan. Adapun bagi wanita yang memiliki rambut panjang, maka cukup baginya mengusap hingga pada bagian belakang kepalanya sebagaimana rambut laki-laki yang pendek pada umumnya, serta tidak perlu meneruskan pada sisa rambutnya yang panjang menjuntai ke bawah.

11. Bagi wanita yang menggunakan khimar atau hijab dan susah baginya untuk melepasnya maka cukup baginya mengusap khimarnya.

Wallahu a’lam.

Disarikan dari kitab Syarah Umdatul Ahkam Karya Syaikh Sa’ad Ibn Nashir Ibn Abdul Aziz asy-Syatsri hafizhahullah: 34-38


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar