Jumat, 02 Desember 2016

Cerita Malam 212



Cerita Malam 212

Ada banyak kisah malam ini yang harus keceritakan. Kisah manusia-manusia yang teramat luar biasa dalam satu lakon perjuangan. Tergerakkan oleh ghirah tuk membela agama, semangat tuk menjadi bagian dari aksi sejarah tak berulang, mencatatkan nama dalam lembaran sejarah yang terbayar dengan peluh,  bahkan darah dan harta. Mereka berkumpul dalam satu aksi yang bernama aksi super damai 212

Jika malam ini langit dihiasi gemerlap bintang-bintang yang indah, ia tak menangis. Tapi kemarin kudengar dibawahnya berjalan ribuan lelaki tangguh dari Ciamis hingga Jakarta, sendal jepit menjadi kendaraannya, bukan untuk mencari sesuap nasi, tapi mereka tak ingin agamanya dihina.

Sesekali langit menangis menumpahkan rahmat Penciptanya, guyuran hujan merayap disekeliling tubuh mereka membasahi, menambah semangat dan keyakinan akan janji Ilahi yang tak pernah diingkari.

Oh, tidak, aku malu pada diriku yang blum bisa berbuat apa-apa. Disana, di barisan mereka itu,  ternyata ada seorang lelaki yang berjalan dengan kekurangannya, tapi hatinya juga telah tergerakkan oleh ghirah api cemburu, aku muslim, aku tak ingin kitab suciku dihinakan. Mungkin begitu pikirnya.

Aku juga merasa malu pada diriku sendiri yang tak menyumbang apa-apa. Baru saja kudengar seorang nenek bergerak menghampiri panitia, "Diterimakah uang 2000 rupiah ini?" katanya. Cuma itu kemampuannya, tapi ia tidak ingin tertinggal dalam satu perjuangan.

Kuingat kembali kisah seorang wanita yang menyumbangkan kuciran rambutnya tuk menjadi tali pelana kuda di medan jihad, sebagaimana tuturan ibnu al-Jauzi rahimahullah dalam sifatu ash-Shofwah.

Ah,  dimana diriku dari perjuangan ini? Sementara mungkin aku tak sadar kalau-kalau lisanku telah menyakiti hati mereka yang sedang berjuang.

Semoga setelah ini aku takkan kalah.

-----

Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar