Kamis, 08 Desember 2016

Diantara Petuah Penuh Hikmah Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah, Untukku Dan Untukmu


Diantara Petuah Penuh Hikmah Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah, Untukku Dan Untukmu 

Kepadamu wahai penuntut ilmu syar’i, yang sedang haus akan telaga ilmu warisan sang Nabi, kunukilkan kepadamu satu nasehat indah nan mulia dari salah seorang pewaris Nabi, yang terkenal dengan keluasan ilmu dan keluhuran akhlaknya. Namanya Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah, dari kitabnya Hilyatu Thalib al-Ilm. Dengannya semoga bisa menjadi mutiara indah yang menghiasi adab-adabku dan adab-adabmu.

Ia berkata:

الفصل السابع
المحاذير

Pasal Ke tujuh, hal-hal yang harus dihindari bagi seorang penuntut ilmu.

إياك و(حلم اليقظة)، ومنه بأن تدعي العلم لما لم تعلم، أو إتقان ما لم تتقن، فإن فعلت، فهو حجاب كثيف عن العلم.

Jauhkanlah dirimu dari berangan-angan, bermimpi dalam keadaan sadar, yaitu engkau mengaku memiliki ilmu pada perkara yang engkau sadari tidak memiliki ilmu tentangnya, mengaku menjadi seorang yang mutqin (professional) padahal engkau bukanlah seorang yang mutqin. Jika engkau telah melakukannya, maka sesungguhnya hal itulah yang akan menjadi hijab tebal yang menghalangimu dari memperoleh ilmu.

احذر أن تكون "أبا شبر"
فقد قيل: العلم ثلاثة أشبار، من دخل في الشبر الأول، تكبر ومن دخل في الشبر الثانى، تواضع ومن دخل في الشبر الثالث، علم أنه ما يعلم.

Hidndarkan dirimu untuk menjadi “Abu Syibr”.
Dikatakan bahwa ilmu itu memiliki tiga tingkatan, siapa yang masuk pada tingkatan pertama maka ia akan sombong, siapa yang masuk pada tingkatan ke dua maka ia akan bersifat tawadhu’ dan siapa yang masuk pada tingkatan ke tiga maka ia akan menyadari bahwa dirinya belum memiliki ilmu.

التصدر قبل التأهل:
احذر التصدر قبل التأهل، هو آفة في العلم والعمل.
وقد قيل: من تصدر قبل أوانه، فقد تصدى لهوانه.

Hindarkan dirimu dari menyampaikan ilmu sebelum menjadi ahlinya, karena ia merupakan cela pada ilmu dan amal. Dikatakan bahwa siapa yang menyampaikan ilmu sebelum waktunya, maka ia telah menjatuhkan dirinya dalam kehinaan.

التنمر بالعلم:
احذر ما يتسلى به المفلسون من العلم، يراجع مسألة أو مسألتين، فإذا كان في مجلس فيه من يشار إليه، أثار البحث فيهما، ليظهر علمه! وكم في هذا من سوءة، أقلها أن يعلم أن الناس يعلمون حقيقته.

Berlagak memiliki ilmu yang tinggi.
Hindarkan dirimu dari sesuatu yang dijadikan hiburan oleh orang-orang yang bangkrut, yaitu orang-orang mengulang-ulangi satu atau dua masalah dalam rangka mempelajarinya, akan tetapi apabila dalam satu majelis ilmu ada seseorang yang terpandang, maka ia mulai melontarkan dua masalah tadi, untuk memperlihatkan ilmunya di hadapan manusia. Betapa banyak kerugian dari perbuatan keji ini, minimalnya adalah orang-orang akan mengetahui hakikat keburukan dirinya.

موقفك من وهم من سبقك:
إذا ظفرت بوهم لعالم، فلا تفرح به للحط منه، ولكن افرح به لتصحيح المسألة فقط، فإن المنصف يكاد يجزم بأنه ما من إمام إلا وله أغلاط وأوهام لا سيما المكثرين منهم . وما يشغب بهذا ويفرح به للتنقص، إلا متعالم "يريد أن يطب زكاما فيحدث به جذاما


Sikapmu terhadap kesalahan para pendahulumu.
Jika telah nampak kesalahan seorang ulama, maka jangan engkau bahagia dengan kesalahannya agar engkau bisa merendahkan martabatnya. Hendaklah engkau berbahagia karena dapat membenarkan satu perkara dimana ia terjatuh pada satu kesalahan, itu saja. Sesungguhnya seorang yang adil akan memastikan bahwa tidaklah seorang imam itu melainkan pasti memiliki kesalahan-kesalahan apalagi mereka yang telah memiliki banyak karya diantara mereka.

Siapa saja yang menyimpang dari jalan ini dan berbahagia dengannya untuk merendakhkan martabat seorang alim, maka ia hanyalah seorang yang berlagak pandai. Ia ingin menyembuhkan sakit pilek namun justru malah membuat dirinya dan orang lain menderita penyakit kusta/lepra.

نعم، ينبه على خطأ أو وهم وقع لإمام غمر في بحر علمه وفضله، لكن لا يثير الرهج عليه بالتنقص منه والحط عليه فيغتر به من هو مثله

Benar, kesalahan seorang alim yang telah menyelam dalam lautan ilmu dan terkenal dengan kemuliannya tetap harus diluruskan, akan tetapi jangan sampai merendahkan dirinya karena kesalahan itu hingga membuat orang lain tertipu.

Hilyatu Thalib al-Ilm: 79-81

---

Saudaraku, mari berhias dengan sedikit adab dari nukilan kitab yang mengagumkan itu. Umat ini memiliki banyak masalah, maka jangan menambah masalah dengan keberadaan diri kita. Jika tidak mampu menghilangkan masalah, setidaknya kita tidak membuat masalah baru.

Betapa banyak saudara-saudara kita yang terseret dalam gejolak debat yang tak bertepi, ia tak terhenti. Sementara kita selalu saja menambah kobaran apinya, ah andai saja kita betul-betul memahami bahwasanya diam itu berpahala.

Andai saja kita memahami kapasitas diri kita yang hanyalah sebutir bijian yang baru hendak tumbuh, dimana tunasnya juga belum ada apalagi buahnya. Tapi kita sudah merasa laksana sebatang dahan jagung yang berdiri tegak dengan buah menguning, merayu manusia untuk segera memetik buahnya. Padahal kita hanya menipu dengan lagak yang sok pandai.

Ah, aku ini… sudah terlalu banyak bicara.
Tapi semoga nukilan adab ini dapat menyadarkanku dan juga dirimu dari kesombongan.

Wallahul Musta’an


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar