Kamis, 15 Desember 2016

Syarah Umdatul Ahkam || Bab Dukhulu al-Khalai Wa al-Istithabah || Hadits No 12-13



Syarah Umdatul Ahkam
Halaqah Ke 12
Kitab Thaharah

Bab Dukhulu al-Khalai Wa al-Istithabah

Hadits No. 12-13

- عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ - رضي الله عنه - قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - : (( إذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ , فَلا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلا بَوْلٍ , وَلا تَسْتَدْبِرُوهَا , وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا )) . قَالَ أَبُو أَيُّوبَ : " فَقَدِمْنَا الشَّامَ , فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ قَدْ بُنِيَتْ نَحْوَ الْكَعْبَةِ , فَنَنْحَرِفُ عَنْهَا , وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ " .

- عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنهما قَالَ : (( رَقِيْتُ يَوْماً عَلَى بَيْتِ حَفْصَةَ , فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - يَقْضِي حَاجَتَهُ مُسْتَقْبِلَ الشَّامَ , مُسْتَدْبِرَ الْكَعْبَةَ )) . وَفِي رِوَايَةٍ (( مُسْتَقْبِلاً بَيْتَ الْمَقْدِسِ )) .

Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian hendak buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat ataupun membelakanginya, pada saat buang air besar ataupun yang kecil, akan tetapi menghadaplah ke timur atau baratnya.”

Abu Ayyub berkata, “Kami pernah datang ke Syam dan kami dapatkan WC nya dibangun menghadap Ka’bah sehingga kami merubah posisi kami darinya dan beristighfar kepada Allah azza wajalla.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah Ibn Umar Ibn al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: “Suatu hari aku pernah naik ke rumah Hafshah, maka aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam buang hajat menghadap ke syam yang posisinya membelakangi Ka’bah.” Dalam riwayat lain: “Menghadap Baitul Maqdis).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pelajaran:

1. Larangan menghadap atau membelakangi kiblat saat buang hajat, baik buang air kecil atau air besar.

2. Perintah untuk merubah arah posisi tubuh saat mendatangi tempat buang hajat yang menghadap kiblat atau membelakanginya, agar arag posisi tubuh tidak menghadap pada arah yang dilarang oleh syariat.

3. Secara umum hukum asal perintah dan larangan pada hadits ini adalah untuk seluruh umat, akan tetapi perintah untuk menghadap barat atau timur itu khusus untuk orang-orang Madinah dan semisal mereka, yang dimana jika mereka menghadap timur dan barat maka mereka tidak akan menghadap ataupun membelakangi kiblat. Adapun untuk arah kiblat di negara Indonesia adalah menghadap ke arah barat, sehingga posisi buang hajat yang benar adalah harus menghadap ke utara atau selatan agar tidak membelakangi ataupun menghadap kiblat.

4. Anjuran memuliakan Ka’bah.

5. Hadits kedua pada pembahasan kali ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam buang hajat membelakangi kiblat.

6. Tidak boleh menghukumi bahwa perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada hadits yang kedua ini hanyalah kekhususan buat beliau, kecuali ada dalil yang menunjukkan hal itu, sebagaimana kekhususan beliau melakukan puasa wishal. Tidak selamanya pula perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam harus didahulukan dari perbuatannya, sebab hukum asal perbuatan-perbuatan Nabi adalah sesuatu yang disyariatkan untuk diikuti. Oleh karena itu, para sahabat juga berhukum dengan perbuatan beliau walau menyelisishi perkataannya. Sehingga untuk memahami hadits ini, maka hendaknya di gabungkan.


7. Para ulama yang menggabungkan kedua hadits ini berkesimpulan bahwa hadits pelarangan menghadap atau membelakangi kiblat hanya untuk tempat terbuka yang tidak tertutup oleh bangunan, sedangkan hadits yang kedua yang menunjukkan bolehnya buang hajat menghadap kiblat adalah pada tempat yang tertutup dalam satu bangunan. Ini Merupakan mazhab Syafi’iyyah, Malikiyyah dan salah satu riwayat dari Mazhab Ahmad.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar