Kamis, 22 Desember 2016

Syarah Umdatul Ahkam || Kitab Thaharah || Hadits No. 14



Syarah Umdatul Ahkam
Halaqah Ke 13
Kitab Thaharah

Bab Dukhulu al-Khalai Wa al-Istithabah

Hadits No. 14

14- عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رضي الله عنه - أَنَّهُ قَالَ : (( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَدْخُلُ الْخَلاءَ , فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلامٌ نَحْوِي إدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً , فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ )) .

Dari Anas Ibn Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah masuk ke khala (tempat buang hajat) dan saya bersama kawan yang sebaya denganku membawa satu bejana berisi air dan satu buah tombak kecil, lalu beliau beristinja dengan air.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pelajaraan:

1. Disyariatkannya buang hajat di tempat yang tertutup atau tempat yang jauh dari pandangan manusia

2. Bolehnya bagi seorang yang memiliki kedudukan pada kaumnya memiliki pembantu dari kaumnya tersebut.

3. Membantu seseorang yang memiliki kedudukan atau keutamaan merupakan salah satu bentuk taqarrub kepada Allah.

4. Anjuran beristinja dengan menggunakan air, dan tidak perlu menambahnya dengan istijmar (menngunakan bebatuan), akan tetapi menggabungkan antara keduanya adalah sesuatu yang lebih utama.

5. Anjuran membawa benda tajam saat buang hajat di tempat terbuka untuk menggali lubang tempat pembuangan dan menutupnya kembali agar kotoran itu segera susut dalam tanah dan juga tidak mengeluarkan bau yang tidak sedap.

6. Kotoran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki keutamaan seperti keringat atau ludah beliau, sehingga kotoran itu tidak diperebutkan. Karena itu perbuatan manusia mencari berkah pada kotoran-kotoran orang-orang yang dianggap shalih adalah perbuatan ghuluw (melampaui batas) bahkan sesuatu yang menjijikkan.


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar