Selasa, 27 Desember 2016

Syarah Umdatul Ahkam || Kitab Thaharah || Hadits No 15



Syarah Umdatul Ahkam
Halaqah Ke 14
Kitab Thaharah

Bab Dukhuli al-Khalai Wa al-Istithabah

Hadits No. 15

15 - عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْحَارِثِ بْنِ رِبْعِيٍّ الأَنْصَارِيِّ - رضي الله عنه - : أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ : (( لا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلا يَتَمَسَّحْ مِنْ الْخَلاءِ بِيَمِينِهِ وَلا يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ )) .

15. Dari Abu Qatadah al-Harits Ibn Rib’iy al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah salah seorang diantara kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanan saat buang air kecil, dan janganlah mengusap dengan tangan kanan saat buang hajat, serta jangan pula bernafas di dalam bejana.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Faidah:

1. Larangan memegang kemaluan dengan tangan kanan saat buang air kecil dan buang hajat. Beberapa ulama memandang pelarangan ini hanya dalam bentuk karahatu tanzih, yaitu sesuatu yang  bersifat makruh yang di anjurkan oleh syariat untuk tidak dilakukan, akan tetapi tidak dalam bentuk jazm sehingga tidak sampai pada tingkat pengharaman. Namun beberapa ulama memandang bahwa perkara ini merupakan sesuatu yang haram, sebab hukum asal dalam satu larangan adalah haram hingga ada dalil yang merubah hukumnya menjadi makruh. Pendapat ini yang penulis kuatkan, wallahu a’lam.

2. Para ulama juga berbeda pendapat menganai hukum menyentuh kemaluan dengan tangan kanan ketika tidak melakukan buang air kecil. Diantara ulama ada yang berpandangan bahwa hukum pada hadits ini bersifat muqayyad , sehingga hukum pelarangannya hanya sebatas pada yang disebutkan dalam hadits saja, yaitu saat buang air. Diantara ulama pula ada yang memahami sesuai dengan mafhum mukhalafnya, sehingga jika tidak sedang melakukan buang air ia hukumnya mubah, dan pendapat ini yang penulis anggap benar, Wallahu a’lam.

3. Larangan istinja dengan tangan kanan.

4. larangan bernafas di dalam bejana.

(Disarikan dari kitab Syarah Umdatul Ahkam Karya Syaikh Dr. Sa’ad Ibn Nashir Ibn Abdul Aziz hafizhahullah: 1/50)


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar