Selasa, 13 Desember 2016

Tadabbur Ayat Pilihan 19 || Surah Luqman: 14-15 || Bakti Pada Orang Tua


Keterangan Foto: "Engkau tidak akan pernah mendapatkan hati yang selalu menerimamu setiap waktu sebagaimana hati ibumu."


Tadabbur Ayat Pilihan 19 || Surah Luqman: 14-15
Bakti Pada Orang Tua

Allah azza wajalla berfirman:

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (١٤)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman: 14).

Pelajaran:

1. Allah azza wajalla dalam ayat ini memnggunakan kata wasiat, yang berarti janji, dimana suatu saat Allah akan menanyakan janji itu, apakah seseorang melaksanakannya atau tidak.

2. Anjuran berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama ibu. Illah (sebab) dari pengutamaan ibu terhadap bapak adalah karena Ibu telah mengandung seorang anak selama 9 bulan lebih dalam keadaan sangat lemah dan merasa sakit yang amat menyiksa. Terlebih saat ibu hendak melahirkan, ia akan bertaruh nyawa demi kelahiran anaknya.

Syaikh Abdurrahman Ibn Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:

{ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ } أي: مشقة على مشقة، فلا تزال تلاقي المشاق، من حين يكون نطفة، من الوحم، والمرض، والضعف، والثقل، وتغير الحال، ثم وجع الولادة، ذلك الوجع الشديد.

Firman Allah: “ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah,” maksudnya adalah ia mengalami penderitaan yang amat berat, hidupnya selalu merasakan penderitaan selama kehamilan itu, mulai dari janin yang masih berbentuk nuthfah (mani), lalu ia mengidam, merasa sakit, lemah dan letih, amat berat hidupnya, perasaannya selalu berubah-rubah dan tidak menentu, kemudian rasa sakit saat melahirkan, itu adalah rasa sakit yang amat pedih. (Tafsir as-Sa’di: 761)

Syaikh ath-Thantawi rahimahullah berkata:

ألم يبلغك ما تقاسي أمك وما تتعذب بسببك؟ لو سبب لك إنسان عشر هذا العذاب لأعرضت عنه وهجرته – هذا إن لم تنتقم منه- ولكن الأم تنسى ألمها بعد لحظات من خروج الولد ثم تضمه إلى صدرها فتحس كأن روحها التي كادت تفارقها قد رجعت إليها

Tidakkah telah sampai kepadamu penderitaan yang dirasakan oleh ibumu dan ketersiksaannya yang disebabkan olehmu? Jika saja ada seseorang yang menjadi penyebab engkau merasakan sepersepuluh  dari penederitaan yang di rasakan ini, niscaya engkau akan berpaling darinya dan memboikot orang itu – ini jika engkau tidak balas dendam padanya-.

Adapun seorang ibu, ia melupakan rasa rasa sakit yang dirasakannya selama sembilan bulan itu hanya beberapa detik saja setelah kelahiran anaknya. Tidak saja itu, ia kemduian justru merangkul bayinya itu dalam pelukan hangatnya, hingga ia merasa bahwa ruhnya  yang hampir saja berpisah dari tubuhnya telah kembali padanya.” (Liyaddabbaru ayatihi: 467)  

3. Anjuran mengutamakan ibu daripada bapak bukan berarti boleh meninggalkan bakti kepada bapak. Allah azza wajalla justru memerintahkan setiap manusia untuk bersyukur kepada keduanya termasuk bapak, sebab setiap manusia tercipta dari hasil pencampuran ibu dan bapaknya, tidaklah seorang manusia itu ada kecuali dari mereka berdua. Seorang bapaklah yang membanting tulang untuk kebutuhan ibu dan keluarganya, baik saat ibu itu sedang hamil atau keadaan lainnya.


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar