Senin, 26 Desember 2016

Tadabbur Ayat Pilihan 22 || Surah al-Mujadilah: 22 || Siapa Bilang Mengucapkan Selamat Natal Itu Haram?



Tadabbur Ayat Pilihan 22 || Surah al-Mujadilah: 22
Siapa Bilang Mengucapkan Natal Itu Haram?

Allah azza wajalla berfirman:

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٢٢)

“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan Allah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. lalu mereka dimasukan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya, Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Faidah:

1. Ayat ini merupakan dalil akan  konsekuensi dari keimanan kepada Allah azza wajalla, bahwa keimanan yang benar dari seseorang, mengharuskan baginya  meninggalkan dan membenci segala bentuk perkara yang berkaitan dengan kesyirikan ataupun kekufuran, seperti halnya mengucapkan selamat akan keyakinan orang-orang yang mempersekutukan Allah, berbahagia dengan hari raya mereka, saling memberi hadiah pada perayaan mereka, memberikan penghargaan untuk upacara, budaya, atau hal-hal lainnya yang merupakan bentuk kasih sayang dalam hal yang berkaitan dengan i’tiqad (keyakinan) mereka.

Dalam menafsirkan ayat ini, Syaikh al-Allamah Abdurrahman Ibn Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:

لا يجتمع هذا وهذا، فلا يكون العبد مؤمنا بالله واليوم الآخر حقيقة، إلا كان عاملا على مقتضى الإيمان ولوازمه، من محبة من قام بالإيمان وموالاته، وبغض من لم يقم به ومعاداته، ولو كان أقرب الناس إليه.

Tidak akan bercampur antara iman dan kekufuran, sehingga seseorang tidak dikatakan sebagai seorang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat dengan sebenar-benarnya, kecuali dengan melakukan segala sesuatu yang merupakan konsekuensi dan keharusan dari keimanan itu, berupa mencintai orang-orang yang beriman dan mejadikan mereka sebagai wali, serta membenci keyakinan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan memusuhinya, sekalipun pelakunya adalah orang-orang yang paling dekat dengan mereka. (Tafsir as-Sa’di: 1000)

2. Tidak dipahami dari ayat ini bahwa dengan membenci dan memusuhi keyakinan kufur dan kesyirikan mereka, berarti memusuhi kepribadian mereka. Justru sebaliknya, islam merupakan agama yang sangat mengajarkan dan mengharuskan kasih sayang kepada sesama manusia walau tidak seagama, tidak memaksakan orang-orang yang berbeda dengan mereka, akan tetapi dalam hal keyakinan, tidak boleh dicampur adukkan.

Karena itu dalam hal ketaatan dan kasih sayang seseorang kepada orang tuanya yang merupakan pelaku kesyirikan, Allah tetap mewajibkan untuk berbuat baik kepada mereka, namun tetap menjaga jarak pada hal-hal yang berhubungan dengan keyakinan mereka. Allah azza wajalla berfirman:

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (١٤) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (١٥)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada ibu dan bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 14-15)

3. Orang-orang yang melaksanakan konsekuensi dari keimanan itu adalah sebenar-benarnya orang-orang yang beriman dan telah Allah kuatkan hatinya dengan ma’unah-Nya.

Syaikh Abdurrahman Ibn Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:

وهذا هو الإيمان على الحقيقة، الذي وجدت ثمرته والمقصود منه، وأهل هذا الوصف هم الذين كتب  الله في قلوبهم الإيمان أي: رسمه وثبته وغرسه غرسا، لا يتزلزل، ولا تؤثر فيه الشبه والشكوك. وهم الذين قواهم الله بروح منه أي: بوحيه، ومعونته، ومدده الإلهي وإحسانه الرباني. وهم الذين لهم الحياة الطيبة في هذه الدار، ولهم جنات النعيم في دار القرار

“Inilah sebenar-benarnya keimanan, yang menghasilkan buah dari keimanan itu. Orang-orang yang bersifat dengan sifat ini adalah orang-orang yang telah Allah tetapkn keimanan di dalam hatinya, yaitu dengan mengokohkannya hingga ia tidak terguncang dan tidak dapat dipengaruhi oleh berbagai syubhat dan keragu-raguan. Merekalah orang-orang yang telah Allah kuatkan dengan ruh dari-Nya, yaitu dengan ilham dan ma’unah-Nya, serta pertolongan Ilahi dan kebaikan-Nya yang Rabbani. Merekalah orang-orang yang akan merasakan kehidupan yang baik di dunia ini dan kebahagian di surga yang penuh dengan kenikmatan.” (Tafsir as-Sa’di: 1000).

4. Allah azza wajalla sangat memahami bahwa orang-orang yang beriman kepada-Nya dengan dengan melaksanakan segala bentuk konsekuensinya akan merasakan kesedihan karena telah memusuhi kerabatnya dalam hal keimanan mereka serta mendapatkan permusuhan dari kerabatnya pula karena perbedaan keyakinan. Karena itu Allah menggantikan rasa sedih itu dengan hadiah terbesar dari-Nya berupa keridhaan terhadap mereka dan memberikan balasan berupa surga yang penuh kenikmatan.

Imam Ibnu Kastir rahimahullah berkata:

{ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ } سر بديع، وهو أنه لما سخطوا على القرائب والعشائر في  الله عوضهم  الله بالرضا عنهم، وأرضاهم عنه بما أعطاهم من النعيم المقيم، والفوز العظيم، والفضل العميم.

Firman Allah azza wajalla: “Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhad-Nya” ini mengandung rahasia yang amat indah, sebab mereka telah membenci kerabatnya karena keimanan kepada Allah. Karena itu Allah azza wajalla menggantikannya dengan keridhaan terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap pemberian Allah terhadap mereka berupa kenikmatan yang kekal, kemenangan yang besar dan fadhilah yang sempurna.” (Tafsir Ibn Katsir: 8/55)

5. Jika ada orang yang bertanya, siapa bilang mengucapkan selamat natal itu haram, maka jawabannya adalah yang melarang itu ialah Allah azza wajalla dalam al-Qur’an. Sebab memberikan ucapan selamat kepada mereka berarti memberikan ucapan selamat kepada orang-orang yang telah meyakini Allah memiliki anak, sementara ini merupakan bentuk penistaan terbesar kepada Allah azza wajalla dalam akidah kaum muslimin. Allah azza wajalla berfirman:

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الأرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (٩٠) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (٩١) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (٩٢)

“Hampir-hampir saja langit pecah karena ucapan itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda'wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS. Maryam: 90-92)


6. Orang-orang yang telah menjalankan konsekuensi keimanan dengan sebenar-benarnya, mereka adalah hizbullah yang beruntung, sedang orang-orang yang menyelisihi mereka dalam hal keimanan adalah lawan dari hizbullah itu.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar