Kamis, 01 Desember 2016

Tanggapan Ringkas “Persatuan Kebun Binatang”




Kaum salaf adalah orang-orang yang sangat menjaga lisan mereka. Mengaku diri mengikuti manhaj mereka tidaklah boleh dengan hanya sekedar ucapan dan pengakuan, sedang akhlak sangat jauh dari mengikuti akhlak mereka. Allah menggambarkan ciri orang-orang yang beriman sebagai kaum yang saling berkasih sayang dan berlemah lembut kepada muslim lainnya, serta tegas kepada orang-orang kafir. Maka menjaga lisan dari menggunakan kata-kata yang dapat menyakiti mereka adalah suatu keharusan.

Ada seseorang yang bingung akan elok atau tidakkah menggambarkan kaum muslimin yang bersatu di atas manhaj yang berbeda sebagai “Persatuan Kebun Binatang”, akan tetapi penjelasannya pada perkara ini justru membenarkan bahwa kaum muslimin bersatu dan berta’awun layaknya “Persatuan Kebun Binatang,” ya, menyamakan persatuan mereka dengan binatang yang berbeda-beda di kebun binatang.

Kami tidak membahas masalah shahibul Qaul “Persatuan Kebun Binatang” ini, sebab beliau sudah mengklarifikasi perkataannya bahwa perkataan itu tidak ditujukan kepada kaum muslimin yang bersatu dan berta’awun untuk Aksi Bela Islam yang digalang oleh kaum mukminin. Hanya saja dampak dari perkataan ini cukup luas, terlebih telah ditanggapi oleh beberapa pemuda yang menamakan diri mereka sebegai “Salafy” dan juga kelompok lain yang berseberangan dengan kelompok Shahibul Qaul bahwa memang perkataan itu ditujukan kepada persatuan kaum muslimin hari ini demi melawan kezhaliman seorang kafir yang telah menista al-Qur’an, dalam Aksi Bela Qur’an.

Duhai dahulu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah marah kepada para sahabat karena kaum wanita disamakan dengan anjing dan keledai dalam hal membatalkan shalat, sehingga menurut kebanyakan ahli ilmu, kisah ketidak senangan Aisyah radhiyallahu ‘anda tersebut yang terdapat dalam hadits itu adalah hadits yang menaskh (menghapus) hukum hadits sebelumnya yang menunjukkan bahwa apabila seorang wanita melewati seseorang yang shalat, maka akan membatalkan shalat tersebut.

Memang tidak elok menyamakan manusia dengan binatang. Negri ini adalah negri yang terkenal dengan kesantunannya, menyamakan persatuan kaum muslimin dengan persatuan binatang-binatang di kebun binatang adalah sesuatu yang tidak biasa di dengar oleh telinga kaum muslimin di negri ini, bahkan terdengar sangat kasar.

Ada yang mengatakan bahwa memang layak disebut seperti itu, dengan mengqiyaskannya pada perbedaan manhaj dan akidahnya. Sebagaimana perkataan mereka bahwa Syaikh al-Fauzan hafizhahullah pernah berkata:

لا يمكن الاجتماع مع اختلاف المنهج والعقيدة

"Tidak mungkin bersatu jika berbeda manhaj dan aqidah." [Al-Ajwibah Al-Mufidah: 93]

Ketahuilah sesungguhnya Allah azza wajalla berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

وهذه صفة المؤمنين أن يكون أحدهم شديدا عنيفًا على الكفار، رحيما برًا بالأخيار، غضوبًا عبوسًا في وجه الكافر، ضحوكا بشوشًا في وجه أخيه المؤمن

“Dan inilah sifat seorang mu’min, dimana seorang dari mereka sangat keras terhadap orang-orang kafir, tetapi lamah lembut lagi berkasih sayang terhadap sesamanya. Beriskap keras dan bermuka masam terhadap orang-orang kafir, tetapi murah senyum dan mudah tertawa di hadapan orang yang beriman.” (Tafsir Ibnu Katsir: 4/175)

Bagaimana mungkin menggambarkan kaum muslimin yang bersatu melawan kezhaliman seorang kafir, bukan ulil amri kaum muslimin, dimana tidak ada kewajiaban muslim untuk taat padanya bahkan wajib memeranginya jika kaum muslimin memiliki kemampuan akan hal itu, yang telah menista al-Qur’an, menghancurkan masjid-masjid Allah, menghancurkan rumah-rumah warga muslim hingga menyiksa mereka, disamakan dengan perkumpulan binatang??? Pantaskah ini disebut sebagai akhlak pengikut salaf?

Mengamati sifat, sikap dan karakteristik politik seorang kafir yang sedang dihadapi tersebut, yang berpotensi akan semakin membuat kemungkaran dan menindas kaum muslimin, serta lisannya yang juga tidak jerah dari mencela para da’i dan ulama, maka melawaannya melalui jalur yang disediakan bahkan menajdi fasilitas hukum Negara untuk mengingkari kemungkarannya adalah dibolehkan. Sebab jika tidak, kemungkaran-kemungkaran yang dilakukannya bisa saja dianggap sebagai kebenaran, terlebih banyaknya da’i-da’i liberal yang membantunya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وعلى أن الواجب تحصيل المصالح وتكميلها وتبطيل المفاسد وتقليلها فإذا تعارضت كان تحصيل أعظم المصلحتين بتفويت أدناهما ودفع أعظم المفسدتين مع احتمال أدناها هو المشروع

Merupakan suatu kewajiban melakukan sesuatu yang dapat mendatangkan maslahat dan menyempurnakannya, serta menghilangkan kerusakan dan mempersempitnya. Jika terjadi benturan antara mendapatkan maslahat terbesar dari dua maslahat dengan meninggalakan maslahat yang lebih rendah serta mencegah kerusakan terbesar dari dua kerusakan dengan mengmabil kerusakan yang lebih kecil darinya maka perbuatan ini adalah perbuatan yang disyariatkan. (as-Siyasah asy-Syar’iyyah: 66)

Bagaimana mungkin persataun antara sesama muslim dalam ranah ta'awun pada kebaikan dan takwa untuk melawan kezhaliman kafir dikatakan sebagai persatuan kebun binatang? Sementara dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memuji isi perjanjian dalam hilful fudhul untuk melindungi orang-orang yang teraniaya, yang dimana orang-orang yang melakukan perjanjian saat itu adalah orang-orang Quraisy yang tidak beragama islam, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Aku pernah mengikuti perjanjian yang dikukuhkan di rumah Abdullah Ibn Jud’an, satu perjanjian yang lebih aku sukai daripada keledai yang terbaik. Andaikata aku diundang untuk perjanjian itu di masa islam, tentu aku akan memenhinya.” (ar-Rahiq al-Makhtum: 58)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa beliau mau untuk menghadiri undangan dalam rangka ta’awun melalui satu perjanjian bersama orang yang tidak beragama islam demi membela orang yang teraniaya. Maka bagaimana lagi dengan ta’awun antara sesama muslim untuk membela agama mereka yang dinistakan? Pantaskah disebut persatuan kebun binatang?

Kemudian perkataan Syaikh al-Fauzan tersebut sebenarnya membuka jati diri mereka yang biasa mencela perjuangan kaum muslimin, yaitu tidak pernah bersatu bahkan saling mencela satu sama lainnya. Beberapa orang yang mengiyakan perkataan Shahibul Qaul “Persatuan Kebun Binatang”, yang membela perkataannya tersebut juga menamakan diri mereka sebagai kelompok “salafy” sayangnya mereka saling bertikai juga.

Mereka juga menganggap bahwa perstuan kaum muslimin di masa lalu yang berbeda manhaj dan aikdah dalam menghadapi musuh tidak bisa disamakan dengan persatuan umat islam hari ini demi membela agama yang dinistakan, sebab dahulu mereka berjuang di bawah payung pemerintahan yang sah.

Hakikatnya yang menjadi illahnya bukan pada ketaatan kepada pemimpin, sebab perkara tersebut sudah jelas, dia merupkan suatu kewajiban. Oleh karena itu, illahnya adalah pada pesatuan kaum muslimin dengan orang-orang yang berbeda manhaj dan akidah untuk berjuang bersama melawan musuh. Maka menyamakan kasusnya antara persatuan mereka saat itu dengan yang sekarang adalah benar. Sebab sejak dahulu mereka bisa bersatu untuk melawan musuh yang sama. Maka apa yang dilakukan kaum muslimin dengan bersatu dan berta’awun untuk mengalahakan orang kafir itu jelas dibolehkan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah dimintai fatwa dalam sebuah kesempatan, dimana penanya berkata:

لقد قامت في السودان جبهة إسلامية بين مختلف الاتجاهات الحركية والصوفية والسلفية وقامت بعمل سياسي ومجابهة واسعة مع الشيوعية والتغريبيين عموما، هل يمكن أن نعرف رأيكم في مثل هذا العمل الذي يضم تيارات مثل هذه؟

Telah terbentuk di Sudan Front Islam yang bergabung di dalamnya banyak jamaah pergerakan dan kelompok sufiyah dan barisan salafiyah, kemudian terjun dalam dunia politik dalam rangka membendung arus pemikiran komunisme dan gerakan westernisasi [pembaratan], bolehkah kami mengetahui pendapat syaikh yang mulia terkait dengan gerakan ini yang menggabungkan berbagai arus pemikiran???

Beliau menjawab:

لا ريب أن التعاون بين المسلمين في محاربة المذاهب الهدامة والدعوات المضللة والنشاط التنصيري والشيوعي والإباحي من أهم الواجبات ومن أعظم الجهاد في سبيل الله، لقول الله عز وجل: {وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Adalah hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tolong menolong dengan sesama kaum muslimin untuk membendung pemikiran destruktif [merusak], seruan-seruan menyesatkan, kristenisasi, gerakan komunisme, dan pemikiran Ibahii [semuanya boleh] merupakan salah satu kewajiban terbesar dan salah satu jenis jihad yang mulia, berdasarkan firman Allah –subhanahu wa ta'ala-:

Dan tolong menolonglah kalian dalam mengerjakan kebaikan dan ketaqwaan, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (Sumber: http://www.binbaz.org.sa/article/64)

Sejauh ini muncul pertanyaan dalam benak kami, jika pada persatuan seperti ini mereka anggap sebagai kemungkaran yang patut dicela dan disamakan dengann persatuan kebun binatang, maka dimanakah posisi mereka dari orang kafir yang mencela al-Qur’an, menghancurkan masjid, menghancukan rumah kaum muslimin?

Sementara mereka mengingkari bahkan membenarkan pencelaan terhadap kaum muslimin yang bersatu untuk ta’awun membela al-Qur’an (sebagaimana fatwa Syaikh Ibn Baz rahimahullah sebelumnya) dengan sebutan Persatuan Kebun Binatang? Bukankah mengingkari kemungkaran adalah sebuah kewajiban?

Syaikh Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

أن النبي صلى الله عليه وسلم ولى جميع الأمة إذا رأت منكرا أن تغيره ولا تحتاج أن تقول لابد أن يكون عنده وظيفة ، وإذا قال لك أحد : من الذي أمرك أو ولاك فلتقل له : ألنبي صلى الله عليه وسلم لقوله من رأى منكم

Diantara faidah hadits ini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kuasa kepada seluruh umat, jika mereka melihat kemungkaran maka hendaknya mereka merubah kemungkaran itu. Engkau tidak perlu mengatakan, “Perkara ini hanya untuk orang-orang yang memiliki kerjaan dibidang ini,” jika ada seseorang yang berbicara kepadamu, “Siapa yang memerintahkanmu dan memberikan kuasa kepadamu?” Maka katakanlah, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memberikan kuasa sebagaimana sabdanya, "siapa yang melihat kemungkaran.” (Syarah Arbain an-Nawawi: 399)

Mereka mengingkari pesatuan demi membela agama seperti ini juga berdalih dengan perkataan syaikh al-Albani rahimahullah:

قاعدتهم هي كتل الناس جمعهم على ما بينهم من خلافات عقدية أو سلوكية أو فقهية ثم ثقف كتل ثم ثقف، على هذا قامت دعوتهم طيلة هذه السنين الطويلة، لكن الواقع يشهد أن لا شيء هناك سوى التكتيل وليس هناك شيء يسمى بالتثقيف

"Kaidah mereka (Ikhwanul Muslimin) adalah menghimpun dan mengumpulkan manusia walau berbeda-beda aqidah, akhlak atau fiqh, kemudian barulah didik mereka. Himpun lalu didik. Berdasarkan inilah tegak dakwah mereka dalam kurun waktu yang panjang ini, akan tetapi kenyataannya tidak ada yang mereka lakukan selain menghimpun, dan tidak ada yang namanya pendidikan (secara hakiki dalam dakwah mereka)." [Kaset Silsilatul Huda wan Nur: 609]

Sayangnya, ini merupakan bentuk penukilan fatwa yang tidak pada tempatnya, bahkan boleh dikatakan sebagai pemotongan publik. Sebab fatwa ini bukan untuk menjelaskan hukum boleh tidaknya umat bersatu sebagai bentuk ta’awun membela agama, melainkan fatwa yang dikeluarkan untuk menjawab pertanyaan orang-orang yang bertanya bolehkah berakidah salafy tapi manhajnya dalam berdakwah sepeti manhaj ikhwanul muslimin. (Silahkan lihat disini: http://www.alalbany.me/play.php?catsmktba=15247)

Karena itu menempatkan fatwa seperti ini untuk mengingkari kaum muslimin yang bersatu untuk membela agama ini adalah tidak benar. Harusnya jika ingin menukil fatwa yang tepat dalam masalah ini adalah menukil fatwa syaikh Abdul Aziz Ibn Bazz rahimahullah ketika beliau ditanya:

Telah terbentuk di Sudan Front Islam yang bergabung di dalamnya banyak jamaah pergerakan dan kelompok sufiyah dan barisan salafiyah, kemudian terjun dalam dunia politik dalam rangka membendung arus pemikiran komunisme dan gerakan westernisasi [pembaratan], bolehkah kami mengetahui pendapat syaikh yang mulia terkait dengan gerakan ini yang menggabungkan berbagai arus pemikiran???

Beliau menjawab: Adalah hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tolong menolong dengan sesama kaum muslimin untuk membendung pemikiran destruktif [merusak], seruan-seruan menyesatkan, kristenisasi, gerakan komunisme, dan pemikiran Ibahii [semuanya boleh] merupakan salah satu kewajiban terbesar dan salah satu jenis jihad yang mulia, berdasarkan firman Allah –subhanahu wa ta'ala-:

Dan tolong menolonglah kalian dalam mengerjakan kebaikan dan ketaqwaan, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (Sumber: http://www.binbaz.org.sa/article/64)

Kemudian, syaikh al-Albani rahimahullah juga sudah rujuk dari pandangannya terhadap ikhwanul Muslimin. Beliau berkata:

“Saya tidak beri’tiqad bahwa mereka merupakan diantara kelompok-kelompok sesat, karena saya biasa ditanya tentang pertanyaan yang sharih/secara jelas (maksudnya syaikh al-Albani cuma menjawab pertanyaan-pent). Saya tidak berkeyakinan seperti itu pada jilsah tersebut, ketika berbicara tentang mereka. Jika ada perkataan saya yang salah, maka saya rujuk (kembali pada kebenaran) dari perkataan itu. Kebanyakan yang ditanyakan kepada saya hari ini tentang beberapa kelompok yang ada, dan lebih khsusus pada kelompok ikhwanul muslimin, apakah mereka termasuk kelompok yang sesat? Maka saya katakan Tidak! Paling minimal dikatakan kepada mereka adalah mereka telah mengikuti pemimpin pertama mereka, yaitu Hasan al-Banna rahimahullah (begitu syaikh al-Bani mendoakan beliau), dan mereka mengukuti al-Kitab dan sunnah di atas manhaj salaf ash-Shalih, walaupun pengakuan ini butuh tafshil (perincian) dalam bentuk qauli (perkataan) dan tathbiq (prakteknya) dalam perbuatan.

Akan tetapi kita hendaknya mencukupkan diri dengan perkataan bahwa mereka telah mengumumkan dirinya memiliki perhatian terhadap al-Kitab dan Sunnah dan manhaj salaf ash-shaleh, namun mereka menyelisihinya pada pada permasalahan yang sedikit ataupun banyak.

Diantara mereka pula ada orang-orang yang bersama kita dalam akidah namun tidak bersama kita dalam manhaj. Oleh karena itu saya secara pribadi, saya mengatakan bahwa saya tidak menemukan rukhsah (keringanan) untuk seseorang memasukkan mereka dalam firqah adh-Dhollah (kelompok yang sesat), akan tetapi mereka menyelisihi kita dan selama itu kita bisa berdialog dan berdebat dengan mereka.

Adapun memasukkan mereka dalam kelompok yang sesat maka itu tidak boleh, karena mereka tidak menjadikan manhaj yang mereka umumkan dan mereka bangun menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah dan hal itu berada di atas pemahaman salaf ash-Shalih sebagaimana halnya kelompok-kelompok yang lain yang telah ma’ruf dari dulu.” (Silsilah al-Huda wan Nur: 849)


Wallahu A’lam.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar