Rabu, 28 Desember 2016

Wahai Raja, Jangan Tersesat Dalam Gelap



Wahai Raja, Jangan Tersesat Dalam Gelap

Malam, ia indah dengan gelapnya. Tapi gelapnya membagi para raja menjadi dua jenis. Ada yang tersesat dalam gelap dan ada yang selamat darinya.

Kau mungkin bertanya, siapa raja-raja itu?

Raja-raja itu ialah orang-orang yang di tangan mereka ada kekuasaan hingga mereka dapat memilih jalan sesuai kehendak hatinya.

Kita maksudku...
Kitalah orangya, kita adalah raja malam ini dan malam-malam berikutnya.

Kita punya kekuasaan malam ini, besok, atau malam-malan berikutnya. Tapi hari kiamat, kekuasaan hanya milik Sang Penguasa Malam.

يوم لا تملك نفس لنفس شيئا والأمر يومئذ لله

(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (QS. Al-Infithar: 19)

Lihatlah dirimu wahai raja, kau sekarang terkurung dalam gelap, tak ada yang melihatmu. Rupamu tersembunyi oleh redupnya cahaya, gelap. Tapi jemarimu terus menuntunmu kemana langkahmu. Tersesatkah atau selamat?

Duhai, betapa celakanya raja-raja yang tersesat itu, dalam gelap ia tertawa riang, senyumnya merekah, syahwatnya terlampiaskan, tapi Rabnya berfirman untuknya:

فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى (39)

"Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya)." (QS. An-Naziat: 37-39)

Dan sungguh aduhai, alangkah bahagianya raja-raja yang selamat itu. Ia terkurung dalam gelap, syahwat selalu saja merayunya, tapi ia lebih takut pada Rabnya padahal ia mampu melampiaskan syahwatnya itu.

Rupanya ia mengejar janji Rabbnya yang telah berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41)

"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)." (QS. An-Naziat: 40-41)

Aah, sebenarnya kami takut pada-Mu yaa Rabb, tapi syaithan betul-betul pandai mengelabui manusia, hingga menjadikannyq sebagai orang yang tidak berakal. Sbagaimana petuah sang pewaris Nabimu, Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah:

كيف يكون عاقلا من باع الجنة بشهوة ساعة

"Bagaimana mungkin seseorang dikatakan sebagai orang yang berakal, dia menjual surganya hanya dengan syahwat yang sesaat?

Kuatkan hati-hati kami dan selamatkan kami yaa Rabb

------

Masih dikota Ampera
27-12-2016
Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar