Senin, 30 Januari 2017

Mengingkari Kesalahan Penguasa Secara Terang-Terangan Bukan Manhaj Salaf?



Salah satu alasan yang menjadikan islam ini mulia adalah karena adanya syariat amar ma’rif nahi munkar di dalamnya. Dengannya kebaikan-kebaikan ditegakkan dan kebatilan dihilangkan. Oleh karena itu, agama ini senantiasa tegak selama syariat ini dilaksanakan, dan sebaliknya, agama ini akan dihinakan jika syariat ini diabaikan.

Di negri tercinta ini, umat benar-benar membutuhkan orang-orang yang mampu melakukan amar ma’ruf nahi mungkar itu. Bagaimana tidak, sementara zaman ini merupakan zaman fitnah yang penuh dengan ketidak adilan, zaman tersebarnya kerusakan dan kemaksiatan, zaman dimana kemaksiatan dan pelakunya dilindungi, zaman dimana penista al-Qur’an dibiarkan bebas berkeliran dan melakukan aksinya, zaman dimana penyeru kebenaran dikriminalisasi, bahkan kaum muslimin tertindas dan terzhalimi di negri mereka sendiri.

Demikianlah hasil dari penerapan hukum yang tidak bersumber dari Allah subhanahu wata’ala. Bukannya keadilan yang tercapai, kerusakan dan kesewenang-wenangan akan tersebar dimana-mana, hukumnya tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Keadaan semakin parah dengan munculnya manusia-manusia yang tidak memiliki ghirah akan agamanya tatkala agama dan kitab sucinya dinistakan, oleh orang-orang yang mengagungkan hukum thaghut dan merendahkan kitab sucinya, yang berada pada tahta kepemimpinan. Mereka tidak saja berdiam diri tanpa melakukan nahi mungkar akan kemungkaran pemimpin yang menistakan agama dan kitab suci mereka itu, bahkan menyerang kaum muslimin yang menuntut keadilan dan mengingkari kesalahan pemimpin yang telah menistakan agama dan kitab suci itu dan menghukumi mereka sebagai khawarij. Bahkan diantara mereka ada yang menganjurkan pemerintah menumpahkan darah para pengingkar kemungkaran itu.

Di atas nama manjaj salaf mereka bersembunyi, mentashnif dan memecah belah kaum muslimin yang sedang berjuang membela agamanya yang dinistakan, dihinakan dan direndahkan oleh gerakan komunis sekuleris liberalis yang terselubung halus dalam jajaran tatanan pemerintahan yang amat membenci islam dan kaum muslimin. Tanpa sadar mereka berada di barisan para pemuja thaghut itu dalam memerangi kaum muslimin yang sedang menuntut keadilan dan mengingkari kemungkaran melalui jalan yang telah ditetapkan kebolehannya oleh Negara. Bukan saja ditetapkan kebolehannya, bahkan Negara memfasilitasinya, sebab demikianlah aturan penguasa sebagai cara yang mereka tetapkan bagi rakyat yang ingin menyuarakan aspirasinya, yaitu demonstrasi damai. Alasan mereka, mengingkari kesalahan pemimpin secara terang-terangan bukanlah manhaj salaf, ia adalah cara bid’ah yang menjadikan pelakunya sebagai khawarij.

Benarkah mengingkari kemungkaran penguasa secara terang-terangan bukan merupakan manhaj salaf?

Allah azza wajalla berfirman:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (٧٨) كَانُوا لا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (٧٩)

“Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. An-Nisa: 78-79)

Syaikh Abdurrahman Ibn Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:

{ كَانُوا لا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ } أي: كانوا يفعلون المنكر، ولا ينهى بعضهم بعضا، فيشترك بذلك المباشر، وغيره الذي سكت عن النهي عن المنكر مع قدرته على ذلك. وذلك يدل على تهاونهم بأمر الله، وأن معصيته خفيفة عليهم، فلو كان لديهم تعظيم لربهم لغاروا لمحارمه، ولغضبوا لغضبه، وإنما كان السكوت عن المنكر -مع القدرة- موجبا للعقوبة

Firman Allah azza wajalla, “Mereka tidak saling melarang terhadap kemungkaran yang mereka lakukan,” maksudnya sebagian mereka melakukan kemungkaran, sedang yang lain tidak mengingkarinya, mereka juga tidak saling melarangnya, sehingga ada diantara mereka yang melakukan perbuatan mungkar sedang yang lain diam dan tidak melakukan nahi mungkar, sementaa mereka memiliki kemampuan untuk itu.

Hal itu dikarenakan mereka amat memudah-mudahkan perintah Allah dan mereka menganggap maksiat kepada Allah adalah sesuatu yang ringan bagi mereka. Sungguh jika seandainya mereka mengagungkan Tuhan mereka, niscaya mereka akan memiliki ghirah akan aturan-aturan-Nya yang tidak boleh dilanggar itu, dan mereka akan marah pada perkara yang Allah murkai. Akan tetapi diam mereka terhadap kemungkaran yang hakikatnya mereka mampu untuk ingkari, itulah yang menjadikan mereka berhak mendapatkan siksa,” (Tafsir as-Sa’di: 266)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

كان لا ينهي أحد منهم أحدًا عن ارتكاب المآثم والمحارم، ثم ذمهم على ذلك ليحذر أن يُرْكَبَ مثل الذي ارتكبوا

Dahulu salah seorang diantara mereka tidak melarang seseorang yang melakukan dosa dan perkara-perkara yang haram, lalu Allah mencela mereka sebagai bentuk peringatan kepada yang lainnya agar tidak melakukan dosa yang telah mereka lakukan.” (Tafsir Ibnu Katsir: 2/76)

Sesungguhnya Negara ini telah menjamin kebebasan rakyatnya untuk mengutarakan pendapat di depan umum, bahkan negara memfasilitasinya. Karena itu bentuk menyuarakan pendapat secara beramai-ramai di depan umum untuk menyuarakan yang hak serta menuntut hukum kepada penista agama adalah bentuk ta’awun dalam kebaikan dan takwa serta bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan hukum negara dan bukan pula bentuk khuruj dari kekuasaan mereka. Sebab hal itu jika dilakukan seorang diri tidak akan memberi pengaruh kecuali sedikit sekali sedangkan jika dilakukan secara beramai-ramai niscaya akan memberi pengaruh yang sangat besar. Karena itu menggunakan sesuatu yang telah dibolehkan dan difasilitasi negara untuk mengingkari kemungkaran adalah sesuatu yang dibolehkan secara syariat.

Perbuatan seperti ini bahkan pernah dilakukan oleh para salaf, yaitu menuntut agar pelaku kemungkaran segera dihukum. Sebagai contoh adalah kisah para sahabat yang berjumlah ribuan orang, yang menuntut hukum kepada Ali radhiyallahu ‘anhu atas terbunuhnya  Utsman radhiyallahu ‘anhu.

Syaikh Utsman al-Khamis hafizhahullah dalam kitabnya Hiqbatun Min at-Tarikh berkata:

لما بويع علي بن أبي طالب استأذن طلحة والزبير عليا رضي الله عنه في الذهاب إلى مكة فأذن لهما. فلتقيا هناك بأم المؤمنين عائشة رضي الله عنها وكان الخبر قد وصل إليها أن عثمان قد قتل رضي الله تبارك وتعالى عنه فاجتمعوا هناك في مكة وعزموا على الأخذ بثأر عثمان.
فجاء يعلى بن منية من البصرة وجاء عبد الله ين عامر من الكوفة واجتمعوا في مكة على الأخذ بثأر عثمان رضي تبارك وتعالى عنه. فخرجوا من مكة بمن تابعهم إلى البصرة يريدون قتلة عثمان.

Ketika Ali telah dibaiat, maka Thalhah dan Zubair meminta izin kepada Ali radhiyallahu ‘anhu untuk pergi ke Makkah, maka Ali pun mengizinkan mereka. Mereka berdua bertemu dengan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha di sana, dimana pada saat itu berita tentang kematian Utsman radhiyallahu ‘anhu telah sampai padanya. Maka mereka berkumpul di Makkah dan berazam untuk menuntut hukum terhadap pembunuh Utsman. Kemudian Ya’la Ibn Munyah datang dari Bashrah, Abdullah Ibn Amir datang dari Kufah dan mereka berkumpul di Makkah untuk menuntut hukum terhadap pembunuh Utsman radhiyallah ‘anhu. Maka mereka keluar dari Makkah bersama dengan orang-orang yang mengikuti mereka menuju Bashrah dengan maksud menuntut hukum terhadap pembunuh Utsman tersebut. (Hiqbatun Min at-Tarikh: 72)

Tidak pernah disebutkan dalam sejarah bahwa mereka disebut sebagai kaum khawarij karena telah berperang melawan pemimpin pada saat itu. Padahal pada akhirnya, kisah ini berakhir dengan perang antara mereka melawan pasukan Utsman Ibn Hanif yang merupakan perwakilan pemerintahan Ali Ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pada masa itu. Perang ini dikenal dengan perang jamal.

Ini juga merupakan contoh aksi damai sebagai wujud ingkarul mungkar terhadap pemimpin di depan umum yang dicontohkan para sahabat. Sebab kedatangan mereka adalah untuk menuntut agar pembunuh Utsman radhiyallahu ‘anhu  segera diusut. Adapun perang hakikatnya terjadi karena ulah penyusup yang mengadu domba antara kedua kubu. Karena itu Ali dan pasukannya datang menemui mereka lalu mengutus al-Miqdad Ibn al-Aswad dan al-Qa’qa’ Ibn Amr untuk berbicara kepada Thalhah dan az-Zubair hingga mereka bersepakat agar perang dihentikan.

Syaikh Abdurrahman al-Barrak rahimahullah seorang ulama besar Arab Saudi pernah ditanya tentang hukum demosntrasi damai di Baharain, beliau berkata:

Segala sesuatu yang bisa merealisasikan kebaikan dan dapat meminimalisir keburukan serta dapat membantu tegaknya agama Allah teramsuk dari sarana yang sifatnya mubah (boleh) secara syariat, bahkan termasuk sarana yang sifatnya disyariatkan seperti tulisan, surat. Adapun mengenai penggalangan massa dan demonstrasi damai yang dilegalakan oleh pemerintah, maka demikian pula adanya (mubah), sebab di dalamnya tidak terdapat tindakan aniaya terhadap seseorang, tidak adapula perbuatan yang pada prinsipnya haram. Dan sepanjang hal itu dilegalkan serta tidak menimbulkan fitnah antara penguasa dengan rakyat, maka tidak ada alasan untuk melarang dan memprotesnya.” (Lihat: https://youtu.be/pWSdHNdJhno)

Maka dari itu, perlu dipahami bahwa hukum asal menasehati adalah dilakukan secara sembunyi-sembunyi sedangkan hukum asal mengingkari kemungkaran adalah dilakukan secara terang-terangan. (Al-Laaliu al-Bahiyah Syarah al-Akidah al-Wasithiyah karya Syaikh Shalih Ibn Abdil Aziz Ibn Muhamad Alu Syaikh haifzhahullah: 2/482)

Syaikh Shalih Ibn Abdil Aziz Ibn Muhamad Alu Syaikh haifzhahullah berkata:

أما من رأى السلطان بنفسه يفعل منكرا فإنه مثل غيره يأمره وينهاه ، وأمر ونهي السلطان يكون عنده ولا يكون بعيدا عنه كما جاء في الحديث : (( سيد الشهداء حمزة بن عبد المطلب ورجل قام إلى أمام جائر فأمره نهاه فقتله)). فأمر ونهي السلطان يكون فيما ريأته منه بنفسك أو سمعته منه سماعا محققا فتنكر بحسب الإستطاعة وبحسب القدرة بحسب ما تيسر علنا أو غيره.
وأهل العلم فرقوا في هذا المقام –بما سبف بيانه- بين النصيحة فيما يقع في الولاية وبين ما يكون منكرا يفعلع السلطان بحضرة الناس وقد ورد كثير من الآثار والأحاديث أنكر فيها الصحابة وأنكر فيها التابعون على ذوي السلطان علنا

Adapun siapa saja yang melihat penguasa melakukan suatu kemungkaran, maka kedudukan penguasa itu sama saja dengan selainnya dalam perakra melarang kemungkarannya. Melarang penguasa dilakukan di sisinya dan tidak jauh darinya sebagaimana dalam satu hadits: “Pemimpin para syuhada adalah Hamzah Ibn Abdil Muthalib dan seorang yang menghadapi pemimpin zhalim hingga ia melarangnya lalu pemimpin kejam itu membunuhnya.” (HR. Hakim dalam al-mustadrak, dia mengatakan bahwa sanadnya shahih namun tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Imam adz-Dzahabi mendhaifkannya, akan tetapi hadits ini memiliki syahid dan diriwayatkan oleh Imam Ibn Abdil Bar dalam at-Tamhid dari hadits Ibn Abbas.)

Maka perkara memerintah dan melarang penguasa dilakukan ketika engkau melihatnya atau mendengar darinya secara pasti, sehingga engkau mengingkarinya sesuai kesanggupan dan kemampuanmu, serta sesuai dengan apa yang mudah dilakukan entah itu dilakukan secara terang-terangan atau selainnya.

Para ulama membedakan antara pekara menasehati pemimpin dan perkara mengingkari kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa di hadapan manusia. Dan terdapat hadits-hadits dan atsar-atsar yang menunjukkan bahwa para sahabat dan para tabi’in mengingkari kemungkaran penguasa secara terang-terangan.” (al-Laaliu al-Bahiyah Syarah al-Akidah al-Wasithiyah: 2/482-483)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن من أعظم الجهاد كلمة عدل عند سلطان جائر

“Sesungguhnya diantara jihad yang paling agung adalah menyampaikan kalimat yang adil di hadapan penguasa yang zhalim.” (HR. Tirmidzi dan Nasai dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Imam Ibnu Baththal rahimahullah menukil perkataan Imam Ath-Thabari rahimahullah ia  berkata:

والصّواب : أن الواجب على كل من رأى منكرًا أن ينكره إذا لم يخف على نفسه عقوبة لا قبل له بها ؛ لورود الأخبار عن النبى ( صلى الله عليه وسلم ) بالسمع والطاعة للأئمة

Yang benar adalah wajib bagi setiap orang yang melihat kemungkaran untuk mengingkarinya jika ia tidak khawatir pada dirinya setelah melakukannya, sebab ada hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menganjurkan untuk mendengar dan taat kepada para pemimpin. (Syarah Shahih Bukhari: 10/51)

Al-Imam al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah telah membahas hal ini dan mentahqiq masalah-masalah ini ketika mensyarah hadits “Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya ia mengubah dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Dia juga menukil satu hadits dari imam muslim dalam pembahasan ini yang berbunyi, “Akan ada generasi setelah para Nabi itu orang-orang yang menyelisihinya, mereka berkata apa yang mereka tidak lakukan dan melakukan apa yang tidak pernah diperintahkan. Maka siapa yang berjihad melawan mereka dengan tangannya maka dia adalah seorang mukmin, siapa yang berjihad dengan lisannya maka dia adalah seorang mukmin dan siapa yang berjihad dengan hatinya maka dia adalah seorang mukmin dan tidak ada keimanan setelah itu walau sebesar biji sawi (HR. Muslim),” kemudian ia berkata:

“Hadits ini menunjukkan bolehnya jihad melawan pemimpin dengan tangan. Imam Ahmad rahimahullah mengingkari hadits ini yang melalui jalur riwayat Abu Dawud, dan ia mengatakan bahwa hadits ini menyelishi hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk bersabaar terhadap para pemimpin zhalim. Dan pernyataan itu dijawab bahwasanya merubah kemungkaran dengan tangan tidak melazimkan adanya perang. Dan imam Ahmad juga telah meriwayatkan hadits dengan sanad yang baik bahwa merubah kemungkaran tidak dilakukan dengan senjata dan pedang.

Oleh karena itu berjihad terhadap para penguasa adalah dengan menghilangkan kemungkaran yang mereka lakukan dengan tangan, mislanya menumpah khamar-khamar mereka atau mematahkan alat-alat yang melalaikan milik mereka, atau selain itu, atau menolak dengan tangan kezhaliman yang mereka perintahkan, jika ia memiliki kekuatan untuk itu. Dan semua itu dibolehkan, dan bukanlah bentuk perang terhadap mereka dan juga bukan merupakan bentuk khuruj dari kekuasaan mereka yang terdapat pelarangan akan hal itu.”  (Jami’ul Ulum Wal Hikam: 320)

Syaikh Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

ولكن يجب أن نعلم أن الأوامر الشرعية في مثل هذه الأمور لها مجال ولابد من استعمال الحكمة فإذا رأينا أن الإنكار علنا يزول به المنكر ويحصل به الخير فلننكر علنا وإذا رأينا أن الإنكار علنا لايزول به الشر ولا يحصل به الخير بل يزداد ضغط الولاة على المنكرين وأهل الخير فإن الخير أن ننكر سرا. وبهذا تجتمع الأدلة فتكون الأدلة الدالة على أن الإنكار يكون علنا فيما إذا كنا نتوقع فيه المصلحة وهي حصول الخير وزوال الشر، والنصوص الدالة على أن الإنكار يكون سرا فيما إذا كان إعلان الإنكار يزداد به الشر ولا يحصل به الخير. وأقول لكم إن لم يضل من ضل من هذه الأمة إلا أنهم يأخذون بجانب من النصوص ويدعون جانبا.

Akan tetapi yang perlu kita ketahui bahwa perintah-perintah syariat pada perkara-perkara seperti ini, ia memiliki ruang dan harus menggunakan hikmah dalam menghukuminya. Jika kita berpandangan bahwa mengingkari kemungkaran secara terang-terangan dapat menghilangkan kemungkaran dan menghasilkan kebaikan, maka boleh kita mengingkarinya secara terang-terangan. Dan jika kita berpandangan bahwa mengingkari kemungkaran secara terang-terangan tidak menghilangkan kemungkaran dan tidak menghasilkan kebaikan bahkan justru menambah tekanan penguasa terhadap orang-orang yang mengingkari dan para ahli kebaikan, maka sebaiknya diingkari secara sembunyi-sembunyi.

Dengan ini dalil-dalil tergabungkan, sehingga dalil-dalil yang menunjukkan ingkarul mungkar secara terang-terangan dilakukan jika kita mendapatkan maslahat dengannya yaitu mendapatkan kebaikan dan hilangnya keburukan. Dan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa mengingkari kemungkaran secara sembunyi-sembunyi dilakukan jika mengingkari kemungkaran secara terang-terangan akan menambah keburukan dan tidak menghasilkan kebaikan. Dan aku katakan kepada kalian, tidaklah ada diantara umat ini yang tersesat kecuali karena mereka mengambil dalil-dalil dari satu sisi dan meninggalkan di sisi yang lain. (Lihat: https//www.sahab.net/forums/?showtopic=22457)
 
Intinya, mengingkari kemungkaran yang dilakukan penguasa di depan umum hukumnya boleh selama tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Sedangkan jika hanya mendapatkan gangguan setelah penegakkan ingkarul mungkar itu, maka hal itu adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa dipungkiri dan tidak boleh menghentikan ingkarul mungkar karena alasan itu. Allah azza wajalla berfirman:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ (١٧)

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)

Imam Ibnu Kastir rahimahullah berkata:

علم أن الآمر بالمعروف والناهي عن المنكر، لا بد أن يناله من الناس أذى، فأمره بالصبر

Ia mengajarkan bahwa perkara menyeru pada yang ma’ruf dan melarang kemungkaran pasti akan mendapatkan gangguan dan  dari manusia, maka ia memerintahkannya untuk bersabar.” (Tafsir Ibn Katsir: 3/397)

Adapun orang-orang alim yang memiliki kemampuan untuk mengingkari kemungkaran namun enggan melakukan ingkarul mungkar maka hal inilah yang akan mendatangkan adzab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الله لا يُعذِّب العامَّة بعَمَلِ الخاصة، حتى يَرَوا المنكر بين ظَهْرانيْهِم، وهم قادرون على أن ينكروه. فلا ينكرونه فإذا فعلوا ذلك عَذَّبَ الله العامة والخاصة

“Sesungguhnya Allah tidak mengazab orang-orang awam dikarenakan amalan khusus, sebelum orang-orang yang khusus itu melihat kemungkaran di hadapan mata mereka dan mampu untuk mengingkarinya namun tidak melakukan ingkarul munkar itu.  Jika hal itu terjadi, maka Allah akan mengazab orang-orang awam dan orang-orang khususnya.” (HR. Ibnu Majah, Ahamad, al-Humaidi, Ibn Katsir, al-Baihaqi dan lainnya).

Wallahu a’lam.
Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar