Kamis, 30 November 2017

Amalan-Amalan Yang Dianjurkan Ketika Turun Hujan



Tsaqafah Ilmiyah
Halaqah 4

Amalan-Amalan Yang Dianjurkan Ketika Turun Hujan

Hujan merupakan salah satu rahmat dari Allah. Oleh karenanya, syariat menganjurkan beberapa amalan ketika turun hujan. Amalan-amalan tersebut adalah:

1. Memperbanyak doa, sebab diantara waktu-waktu dikabulkannya doa adalah ketika turun hujan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

اطلبوا استجابة الدعاء عند التقاء الجيوش ، وإقامة الصلاة ، ونزول الغيث

“Carilah waktu terkabulkannya doa ketika para pasukan bertemu, ketika melaksanakan shalat dan ketika turunnya hujan.” Lihat: Ahmad bin al-Husin al-Baihaqi, Ma’rifatu al-Atsar (Cet. I; Pakistan: Jami’ah al-Diraasaat al-Islamiyah, 1412 H.), vol. 5, h. 186.

Imam al-Munaawy rahimahullah berkata:

(ثنتان ما) في رواية لا (تردان الدعاء عند النداء) يعني الأذان للصلاة (وتحت المطر) أي دعاء من هو تحت المطر لا يرد أو قلما يرد فإنه وقت نزول الرحمة لا سيما أول قطر  السنة

Dua perkara yang tidak akan ditolak yaitu berdoa ketika al-Nida (maksudnya adalah ketika adzan untuk melaksanakan shalat dan berdoa saat turunnya hujan. Maksudnya siapa yang berdoa saat turun hujan, maka doanya  tidak tertolak atau sedikit sekali kemungkinan tertolak, sebab saat hujan turun adalah waktu turunnya rahmat, terlebih lagi saat tetesan pertama saat tahun itu. Lihat: Abd al-Rauf bin Taj al-Arifin bin Ali al-Munawy, Faidh al-Qadir (Cet. I; Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H.), vol 3, h. 447.

2. Dianjurkan mengucapkan doa Allahumma Shayyiban Naafi’an saat hujan turun. Hal ini berdasarkan satu hadits yang berasal dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat hujan, maka beeliau berdoa: “Allahumma Shayyiban Naafi’an (Yaa Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat). Lihat: Ahmad bin Hambal al-Syaibani, Musnad Imam Ahmad (t. Cet; Kairo: Muassasah Qurtubah, t.th), vol. 6, h. 41.

3. Menyingkap sebagian pakaian agar badan terkena tetesan hujan. Hal ini berdasarkan satu hadits yang diriwaytakan oleh imam Muslim rahimahullah dalam kitab Sahihnya, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Kami pernah terkena hujan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi menyingkap pakaiannya, agar badannya terkena hujan. Lantas kami berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan itu?” Beliau bersabda, “Sebab hujan ini baru saja turun dari Allah ta’ala.  Lihat: Abu al-Husain Muslim bin Hajjaj al-Naisabury, Sahih Muslim (t. Cet; Beirut: Dar al-Jil Beirut, t.th.) vol. 3, h. 26.

Hal ini jika tidak khawatir dapat terlihatnya aurat. Oleh karenanya tidak diperkenankan bagi wanita mandi hujan dengan memperlihatkan auratnya, atau perbuatannya itu dapat dilihat orang yang justru dapat memfitnah manusia.

4. Jika hujan telah reda, dianjurkan mengucapkan muthirna bifadhlillah wa rahmatihi. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Siapa yang mengatakan muthirna bifadhlillahi wa rahmatihi (Allah menurukan kita hujan dengan keutamaan dan rahmat-Nya) maka dia telah beriman kepadaku dan kafir terhadap kaukab  (hal ini karena dahulu manusia menisabatkan perbuatan kepada bintang-bintang-pent). Lihat: Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih Bukhari (Cet. I; Kairo: Dar al-Syu’ab, 1407 H.), vol. 1, h. 214.

Semoga bermanfaat.

Makassar, 12 Rabiul Awal 1439 H.

Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar