Kamis, 30 November 2017

Jangan Lagi Kau Hinakan Dia Jika...



Renungan
Halaqah 01

Jangan Lagi Kau Hinakan Dia Jika...

Berbuat dosa memang sesuatu yang tercela. Pelakunya dibenci, bukan saja dibenci oleh manusia, tapi juga dibenci oleh Allah. Sebaliknya, melakukan amal saleh merupakan amalan terpuji, bukan saja di puji oleh manusia, akan tetapi juga dipuji oleh Allah.

Demikianlah hukum asal yang berlaku.

Hanya saja, seseorang kadang mencela saudaranya yang pernah melakukan dosa secara berlebihan dan memuji saudaranya yang beramal saleh juga secara berlebihan. Hingga ia sampai pada satu keyakinan bahwa apa yang ia lakukan adalah kebaikan.

Padahal, boleh jadi seorang yang pernah berdosa itu telah bertaubat kepada Allah dengan sebanar-benarnya taubat. Ia menangis siang dan malam memikirkan dosanya, takut akan azab yang bisa saja menimpa dirinya, takut kalau saja Allah tidaka mengampuni dirinya. Lalu ini menjadi rahmat baginya.

Sementara, seorang yang beramal saleh, ia melihat kebaikan-kebaikan yang ia lakukan selalu berada dipelupuk matanya, hingga merasa aneh bercampur kesal jikalau ada orang yang tidak memuliakan dirinya. Maka ini menjadi sebab munculnya kemurkaan baginya.

Secara zahir keduanya berbanding terbalik dalam pandangan manusia. Seorang yang pernah berdosa itu dianggap sebagai seorang yang hina, sedang yang beramal saleh dianggap sebagai seorang yang mulia. Namun bagi Allah, perbandingan itu juga dibalik oleh Allah. Seorang yang telah bertaubat akan dimuliakan oleh Allah, sedang seorang yang beramal saleh yang selalu melihat kebaikan-kebaikannya dipelupuk matanya bisa saja mendatangkan murka dari Allah.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:


أن الله -سبحانه- إذا أراد بعبده خيرا أنساه رأية طاعته ورفعها من قلبه ولسانه، فإذا ابتلي بالذنب جعله نصب عينيه ونسي طاعته وجعل همه كله بذنبه فلا يزال ذنبه أمامه إن قام أو قعد أو غدا أو راح فيكون هذا عين الرحمة في حقه كما قال بعض السلف : إن العبد ليعمل الذنب فيدخل به الجنة ويعمل الحسنة فيدخل بها النار. قالوا وكيف ذلك؟ قال : يعمل الخطيئة فلا تزال نصب عينيه كلما ذكرها بكى وندم وتاب واستغفر وتضرع وأناب إلى الله وذل له وانكسر وعمل عملا فتكون سبب الرحمة في حقه. ويعمل الحسنة فلا تزال نصب عينيه يمن بها ويراها ويتعدها على ربه وعلى الخلق ويتكبر بها ويتعجب من الناس كيف لا يعظمونه ولا يكرمونه ويجلونه عليها فلا تزال هذه الأمور به حتى تقوى عليه آثارها فتدخله النار فعلامات السعادة أن تكون حسنات العبد خلف ظهره وسيئاته نصب عينيه . وعلمات الشقاوة أن يجعل حسناته نصب عينيه وسيئاته خلف ظهره والله المستعان

Bahwasanya jika Allah subhanahu wata'ala menginginkan kebaikan pada hamba-Nya, Dia akan membuat hamba itu lupa pada pandangan ketaatan pada-Nya, lalu mengangkat itu dari hati dan lisannya. Hingga apabila hamba itu telah diuji dengan satu dosa, ia akan menjadikan dosa itu selalu berada di pelupuk matanya, ia melupakan semua ketaatannya (karena mengira dirinya akan binasa-pent), lalu ia menjadi sedih karena dosa yang ia lakukan itu. Akhirnya, ia terus memikirkan dosanya itu, serasa dosa itu selalu berada di hadapannya, apabila ia berdiri, duduk, pulang ataupun pergi. Oleh karenanya, hal inilah yang menjadi sebab rahmat baginya.

Sebagaimana perkataan para salaf: "Sesungguhnya ada hamba yang melakukan dosa, namun dengannya ia bisa masuk surga, adapula seseorang yang melakukan kebaikan, namun justru dengannnya ia masuk ke dalam neraka."

Orang-orang berkata: "Bagaimana itu bisa terjadi?"

Dia berkata (salaf-pent) : "Dia melakukan kesalahan hingga merasa bahwa kesalahan itu selalu berada di pelupuk matanya. Akhirnya, setiap kali ia mengingatnya, ia menangis, menyesal, bertaubat, ia beristighfar, merasa iba, kembali kepada Allah, ia merasa hina hingga ia merasa akan pecah. Iapun melakukan amalan-amalan yang menjadi sebab mendapat rahmat-Nya.

Sedang yang melakukan kebaikan itu, ia melihat kebaikan yang ia lakukan senantiasa berada di pelupuk matanya. Ia menyebut-nyebutnya, merasa riya hingga melampaui batas terhadap Rabbnya dan kepada makhluk. Ia pun sombong, dan merasa heran ketika orang-orang tidak mengagungkan dan tidak memuliakannya. Perkara buruk ini senantiasa menjadi bagian dari perangainya, hingga pengaruhnya menjadi lebih kuat padanya, lalu memasukkannya ke dalam neraka.

Maka tanda-tanda kebahagiaan adalah ketika seorang hamba menjadikan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya serasa berada di belakangnya sedang kesalahan-kesalahannya berada di pelupuk matanya. Adapun tanda-tanda kebinasaan adalah ketika seseorang menjadikan kebaikan-kebaikannya selalu berada di pelupuk matanya, sedang kesalahan-kesalahannya berada di belakanngnya (melupakannya). Hanya kepada Allah lah tempat kita memohon pertolongan. Lihat: Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Miftaah Daari as-Sa'adah (Cet. I; Kairo: Dar Ibnu al-Jauzi, 1433 H.), h. 402.

Maka berhentilah menghinakan saudaramu yang pernah melakukan dosa itu jika ia sudah bertaubat darinya. Sebab boleh jadi derai air mata yang membasahi pipinya di hadapan Rabbnya telah membuatnya lebih mulia darimu berkali-kali lipat.

Sedang engkau wahai saudaraku yang melakulakan amal saleh, perhatikanlah dirimu. Jangan tertipu dengan halusinasi setan yang memalingkanmu untuk selalu melihat kebaikan yang pernah kau lakukan dipelupuk matamu, hingga kau dilalaikannya bahwa kini amalanmu sedang mencari kecintaan manusia tanpa disadari.

Ketahuilah, jika seperti itu dirimu, maka engkau mengidap satu jenis penyakit hati yang tidak terasa sakit oleh pelakunya, yaitu munculnya syahwat ingin dipuji. Sebagaimana perkataan Ibnu Qayim al-Jauziah rahiamhullah:

مرض القلب نوعان: نوع لا يتألم به صاحبه في الحال وهو نوع متقدم كمرض الجهل ومرض الشبهات والشكوك ومرض الشهوات

Penyakit hati itu ada 2: salah satunya adalah penyakit yang pelakunya tidak merasa sakit dengannya ketika terjadi padanya. Ini merupakan jenis sebelumnya, seperti kebodohan, penyakit syubhat dan keragu-raguan dan penyakit syahwat. Lihat: Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ighatsatu al-Lahafan Fi Mashayid al-Syaithan, (Cet. II; Arab Saudi: Dar Ibnu al-Jauzi, 1429 H.), h. 41.

Berupayalah untuk selalu menjaga hati, karena pada hari kiamat tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak, kecuali orang-orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.

Makassar, 12 Rabiul Awal 1439 H.

Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar